Britainaja – Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kebiasaan tidak sarapan secara teratur dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif pada orang lanjut usia. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Neurorestoratology dan melibatkan ratusan peserta yang di pantau selama tiga tahun.
Sarapan selama ini di kenal sebagai waktu makan penting untuk memulai aktivitas harian. Menu yang di konsumsi pada pagi hari membantu tubuh memperoleh energi yang di butuhkan untuk berpikir dan bergerak. Namun, sebagian orang memilih melewatkannya, baik karena kesibukan, pola diet, maupun kebiasaan.
Sebuah studi yang di muat dalam Journal of Neurorestoratology memberikan perhatian baru terhadap hal tersebut. Mengutip laporan Food & Wine, peneliti menemukan bahwa melewatkan sarapan secara rutin dapat berkaitan dengan penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Penelitian ini melibatkan 859 orang lanjut usia berusia di atas 60 tahun. Dari jumlah tersebut, 117 peserta tercatat memiliki kebiasaan tidak sarapan. Selama kurang lebih tiga tahun atau 36 bulan, para peneliti memantau perkembangan fungsi kognitif dengan menggunakan tes Mini-Mental State Examination (MMSE). Tes ini lazim di gunakan untuk menilai kemampuan otak dalam mengingat, memperhatikan, hingga memahami orientasi ruang dan waktu.
Penilaian di lakukan dua kali, yaitu setiap 18 bulan. Pada tahap awal penelitian, tidak tampak perbedaan berarti antara peserta yang rutin sarapan dan mereka yang tidak. Skor MMSE keduanya masih berada dalam kisaran normal.
Namun, situasinya berubah setelah periode penelitian mencapai akhir. Kelompok yang terbiasa melewatkan sarapan menunjukkan penurunan skor MMSE yang lebih tajam di bandingkan peserta yang rutin sarapan. Catatan penurunan tersebut bahkan mencapai tiga poin atau lebih, yang mengindikasikan adanya gangguan kognitif.
Dari hasil tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa melewatkan sarapan dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penurunan fungsi otak secara bertahap pada orang dewasa yang lebih tua. Kondisi ini di khawatirkan berhubungan dengan rusaknya sel-sel saraf atau melemahnya koneksi antar sel otak yang terjadi dalam jangka panjang.
Meski penelitian ini belum dapat memastikan bahwa kebiasaan tidak sarapan merupakan penyebab langsung gangguan kognitif, beberapa ahli menilai bahwa penjelasan biologisnya cukup masuk akal. Raymond Romano, peneliti klinis dari Departemen Neurologi di Vanderbilt University Medical Center, mengatakan bahwa otak memerlukan energi yang stabil untuk berfungsi optimal.
“Otak membutuhkan bahan bakar agar dapat bekerja dengan baik. Ketika seseorang melewatkan sarapan, pasokan glukosa ke otak bisa menurun sehingga memicu kabut otak atau kesulitan fokus,” jelas Romano.
Sebagai langkah pencegahan, Romano menyarankan agar masyarakat membiasakan pola makan teratur dan memperhatikan kandungan nutrisi dalam makanan. Gaya hidup sehat, seperti mengurangi konsumsi daging merah, memperbanyak buah dan sayuran, serta memilih sumber lemak baik seperti kacang-kacangan dan ikan, juga di nilai mampu membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
Selain pola makan, aktivitas fisik turut berperan dalam mendukung kesehatan kognitif. Olahraga teratur di ketahui membantu memperlancar aliran darah ke otak sekaligus memperkuat jaringan saraf.
Temuan ini menegaskan bahwa sarapan bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga fungsi otak terutama pada usia lanjut. Kebiasaan makan pagi yang sederhana bisa menjadi salah satu cara mencegah penurunan kognitif di masa tua. (Tim)









