Britainaja – Sekretariat Kabinet, Teddy Indra Wijaya, langsung merespons kritik dari pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengenai kunjungan kerja luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.
Melalui akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Teddy membeberkan sejumlah data dan fakta yang mematahkan argumen Dino.
Teddy meluruskan beberapa poin penting, mulai dari efisiensi anggaran hingga hasil nyata diplomasi yang menguntungkan masyarakat Indonesia.
1. Gunakan Dana Pribadi dan Pangkas Rombongan Hingga 50%
Teddy menjelaskan bahwa isu pembengkakan biaya kunjungan sama sekali tidak benar. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo menanggung sendiri seluruh kelebihan biaya yang keluar dari anggaran negara.
Selain menghemat anggaran, Pemerintah juga memangkas jumlah rombongan secara besar-besaran.
“Kalau dulu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, seperti zaman Pak Dino. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya maksimal hanya 50 sampai 60 orang saja,” tulis Teddy.
2. Diplomasi Aktif di Tengah Krisis Global
Menghadapi situasi dunia yang dinamis dan penuh konflik—seperti ketegangan di Ukraina, Venezuela, hingga Timur Tengah—Teddy menilai kunjungan luar negeri menjadi sangat krusial. Menurutnya, seorang pemimpin negara harus membangun hubungan dekat dengan para pemimpin dunia sejak awal, bukan hanya saat krisis melanda.
Teddy juga menolak keras anggapan bahwa perjalanan Presiden Prabowo hanya bersifat seremonial. Ia memaparkan bukti keberhasilan diplomasi luar negeri Indonesia selama 1,5 tahun terakhir:
-
Masuk Keanggotaan Tetap BRICS: Langkah ini berhasil mengamankan stok BBM dan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.
-
Tarif 0 Persen di Uni Eropa: Perjanjian dagang dengan 25 negara Eropa yang mandek selama belasan tahun akhirnya rampung pada tahun 2025 lalu di era Prabowo.
-
Investasi Meroket: Indonesia berhasil menarik investasi masuk sebesar Rp2.430 triliun.
-
Modernisasi Alutsista: Indonesia sukses memperkuat sistem pertahanan lewat kerja sama dengan Prancis, Amerika, Rusia, Tiongkok, hingga Inggris.
3. Aksi Nyata untuk Palestina dan Perlindungan WNI
Keberhasilan diplomasi ini juga berdampak langsung pada misi kemanusiaan. Teddy mencontohkan bagaimana Indonesia aktif membantu Palestina melalui pengiriman logistik via udara (airdrop), mengirim Kapal Rumah Sakit, hingga memberikan beasiswa pendidikan bagi 100 anak Palestina di universitas dalam negeri.
Tidak hanya itu, pemerintah juga bergerak cepat dalam melindungi warganya di luar negeri. Baru-baru ini, lewat diplomasi intensif Kementerian Luar Negeri, Indonesia berhasil memulangkan seorang WNI yang sempat ditahan oleh pihak Israel di laut bebas hanya dalam hitungan hari. (Tim)






