KERINCI, Britainaja — Rasa cemas kini menyelimuti para petani di Desa Ujung Ladang, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci. Pasalnya, seekor harimau sumatera mendadak muncul dan berkeliaran di area perkebunan warga. Kondisi ini membuat masyarakat takut untuk menyadap karet atau merawat tanaman mereka.
Keresahan warga memuncak setelah surat resmi dari Pemerintah Desa Ujung Ladang viral di media sosial, khususnya Facebook. Melalui surat bernomor 008/19/VI/Pem-ul/2026 tersebut, pemerintah desa meminta bantuan instansi terkait untuk segera mengamankan satwa liar yang mengancam keselamatan warga ini.
Demi menjaga keselamatan, banyak petani memilih berdiam diri di rumah sembari menunggu langkah nyata dari pihak berwenang.
Petani Trauma dan Takut Kehilangan Mata Pencaharian
Dampak psikologis dari kemunculan sang raja hutan ini sangat terasa. Jalur perladangan yang biasanya ramai kini mendadak sepi. Warga tidak berani mengambil risiko menghadapi satwa predator tersebut sendirian.
Risa, seorang petani setempat, mengungkapkan kecemasannya yang mendalam.
“Kami benar-benar takut ke kebun sekarang. Biasanya kami pergi pagi atau sore tanpa waswas, tapi sekarang kami memilih menunggu perkembangan informasi. Kami sangat berharap pihak BBTNKS atau tim kehutanan segera menangkap harimau itu agar kami bisa bekerja lagi dengan tenang,” ujar Risa.
Bagi warga Ujung Ladang, kebun adalah urat nadi perekonomian keluarga. Jika konflik ini berlarut-larut, pendapatan mereka otomatis akan anjlok dan memicu krisis ekonomi rumah tangga.
Untuk menyiasati keadaan, beberapa petani yang nekat tetap pergi ke kebun memilih bergerak dalam kelompok besar guna memperkecil risiko serangan.
BKSDA Jambi Sterilkan Lokasi untuk Evakuasi
Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Desa Ujung Ladang mengeluarkan instruksi tegas. Mereka meminta seluruh masyarakat untuk menghentikan total aktivitas di ladang pada Kamis, 4 Juni 2026.
Langkah ekstrem ini bertujuan untuk memberikan ruang aman bagi Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi yang sedang melakukan operasi pencarian dan evakuasi harimau.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat yang berladang di kawasan Desa Ujung Ladang untuk tidak pergi ke ladang dahulu hari ini. Petugas BKSDA akan menyisir lokasi guna mengevakuasi harimau yang meresahkan kita semua,” tulis pemerintah desa dalam maklumat resminya.
5 Langkah Mitigasi Konflik Satwa di Lapangan
Untuk mengatasi gesekan antara manusia dan satwa liar di daerah penyangga hutan konservasi ini, petugas menerapkan beberapa strategi penting:
-
Verifikasi Jejak: Petugas memeriksa titik koordinat laporan warga untuk mengidentifikasi bekas cakaran atau kotoran harimau.
-
Pemasangan Kamera Trap: Tim memasang kamera pemantau tersembunyi guna membaca pola pergerakan sang harimau.
-
Sterilisasi Area: Melarang warga memasuki zona bahaya untuk menghindari kontak fisik dengan satwa.
-
Evakuasi Humanis: Menyiapkan perangkap khusus untuk memindahkan harimau kembali ke habitatnya yang aman.
-
Layanan Pengaduan Cepat: Meminta warga segera melapor ke aparat desa jika melihat pergerakan satwa mendekati permukiman.
Panduan Keselamatan untuk Warga Sekitar Hutan
Sembari menunggu tim BKSDA Jambi menyelesaikan proses evakuasi, seluruh warga di sekitar perbatasan hutan wajib mematuhi panduan keselamatan berikut ini:
-
Jangan pernah pergi ke area kebun seorang diri.
-
Gunakan jalur utama yang sering dilewati oleh warga lain.
-
Hindari aktivitas luar ruangan pada waktu krusial, seperti subuh dan malam hari.
-
Jika berpapasan dengan satwa liar, jangan memprovokasi, mengejar, atau mencoba menyakitinya.
Pemerintah Desa Ujung Ladang berharap penuh agar operasi evakuasi dari BKSDA Jambi berjalan sukses tanpa kendala. Dengan begitu, rasa aman warga bisa kembali pulih dan roda perekonomian petani Kerinci dapat berputar normal seperti sedia kala. (Tim)






