Britainaja – Tradisi menyambut kepulangan jemaah haji di Sulawesi Selatan selalu punya cerita unik. Bagi warga Gowa dan sekitarnya, penampilan jemaah yang mengenakan pakaian gemerlap atau bling-bling sudah menjadi pemandangan yang biasa sekaligus membahagiakan.
Salah satu jemaah yang mencuri perhatian adalah Suryani. Anggota kelompok terbang (kloter) 5 Embarkasi Makassar ini tiba di Tanah Air pada Jumat pagi dengan penampilan yang memukau. Demi momen spesial ini, Suryani bahkan rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk menjahit busana khasnya.
“Ya, lumayan. Ongkos jahit pakaian ini habis sekitar Rp 8 juta,” ungkap Suryani dengan wajah sumringah saat berbagi cerita di Asrama Haji Sudiang, Makassar.
Perjuangan Panjang dan Harapan untuk Keluarga
Bagi Suryani, pakaian indah ini adalah bentuk rasa syukur atas perjalanan spiritual yang luar biasa. Ia harus bersabar menunggu antrean keberangkatan haji selama 15 tahun sebelum akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Suryani menceritakan bahwa ia dan rombongan mengganti pakaian mereka di dalam pesawat menjelang mendarat. Beberapa bahan pakaian ia beli langsung di Mekkah, sementara sebagian lainnya ia persiapkan di Indonesia.
Ia mengaku sangat bersyukur karena seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah, kami semua sehat. Perjalanan ini betul-betul penuh perjuangan, tapi Allah melancarkan semuanya,” ucap Suryani penuh haru.
Di balik penampilannya yang megah, Suryani menyimpan doa yang tulus untuk orang-orang tercinta. Ia berharap kesuksesannya menunaikan rukun Islam kelima ini bisa menular kepada seluruh keluarganya.
“Saya berharap anak-anak dan seluruh keluarga besar bisa segera melaksanakan ibadah haji dan umrah juga. Semoga Allah memudahkan rezeki mereka,” harapnya.
Sentuhan Riasan Natural yang Menyempurnakan Penampilan
Gaya glamor para jemaah haji perempuan ini tidak lengkap tanpa sentuhan riasan wajah. Di Asrama Haji Sudiang, para perias siap membantu jemaah agar tampil segar saat bertemu keluarga.
Ria (44), salah satu perias di make up corner asrama, menceritakan bahwa para jemaah biasanya memiliki permintaan khusus terkait kosmetik. Jemaah yang berusia lebih muda cenderung memilih riasan yang natural dan tidak berlebihan.
“Jemaah yang agak muda biasanya minta riasan natural saja. Kalau untuk yang lanjut usia, kami sesuaikan dengan umur mereka agar tetap terlihat segar,” jelas Ria.
Selain merias wajah, Ria dan timnya juga membantu merapikan pernak-pernik haji lainnya, seperti memasang songkok khas dan misbah (hiasan kepala). Sementara untuk urusan gaun bling-bling, para jemaah biasanya mengenakannya sendiri.
Kombinasi busana mewah, riasan segar, dan senyum bahagia para jemaah ini menjadi simbol kemenangan setelah sebulan penuh fokus beribadah di Tanah Suci. (Tim)






