Britainaja – Sulitnya untuk mendapatkan peluang kerja dan ketidakpastian dunia kerja saat ini memaksa banyak lulusan perguruan tinggi untuk lebih pintar memutar otak.
Karena ketika pintu perkantoran formal terasa semakin sempit karena syarat usia dan kriteria rekrutmen yang rumit, sektor usaha mandiri dan gig economy menjadi pelabuhan baru yang lebih realistis.
Bukan lagi soal mengejar gengsi kantoran, para sarjana ini memilih bergerak di jalur nonformal demi menyambung hidup dan menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Terbentur Aturan Usia, Yanti Sukses dengan Jasa Setrika
Yanti (32), seorang lulusan Diploma III Administrasi dan Keuangan, merasakan betul kerasnya dinding rekrutmen. Setelah sempat berkarier di perusahaan ritel dan otomotif, ia mengambil jeda untuk mengurus buah hati pada 2021.
Namun, saat ingin kembali bekerja pada 2023, ia justru ditolak oleh berbagai lowongan hanya karena usianya sudah menyentuh 30 tahun.
“Bahkan untuk posisi staf saja maksimal 27 tahun. Belum lagi syarat ‘good looking’ yang sering tidak relevan dengan pekerjaan back office,” keluhnya.
Tak mau menyerah pada keadaan, Yanti membuka jasa setrika dari rumah. Berbekal pengalaman membantu usaha mertua, ia menawarkan layanan antar-jemput gratis untuk menarik pelanggan.
Kini, Yanti tidak lagi memikirkan latar belakang pendidikannya. Ia fokus membesarkan usaha dan bermimpi membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya.
Gaji Guru Tak Cukup, Nadia Pilih Jadi Pengusaha Ternak
Kisah serupa datang dari Nadia Murti (30). Sebagai lulusan Pendidikan Guru PAUD, Nadia sempat mengabdi di jalur yang sesuai dengan ilmunya. Namun, realitas ekonomi berkata lain. Gaji di bawah UMR yang ia terima seringkali habis hanya untuk membeli media pembelajaran siswa.
“Gaji tidak cukup untuk kebutuhan hidup,” tuturnya. Bersama suaminya, Nadia akhirnya nekat banting stir ke dunia bisnis. Kini, ia mengelola berbagai lini usaha mulai dari furnitur hingga peternakan ayam petelur dengan omzet yang jauh melampaui gajinya saat menjadi guru.
Meski pemasukannya bersifat musiman, ia merasa jauh lebih mandiri dan memiliki visi hidup yang lebih jelas.
52 Lamaran Ditolak, Furqon Kini Jadi Juragan Nasi Bebek
Perjuangan paling mencolok datang dari Furqon Fauzi (38). Lulusan Sastra Inggris ini sempat mengirimkan 52 lamaran kerja setelah kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Namun, tak satu pun perusahaan memberikan jawaban.
Setelah sempat bertahan hidup sebagai pengemudi ojek online, ia melihat peluang di dunia kuliner. Kini, Furqon dikenal sebagai penjual nasi bebek sambal hitam di pinggir jalan.
“Bisa bertahan hidup sampai detik ini saja saya sudah sangat bersyukur. Jangan menyerah, meski impian belum semua tercapai,” pesan Furqon.
Fenomena Sektor Informal: Pilihan atau Keterpaksaan?
Pengamat ketenagakerjaan UGM, Tadjuddin Noer, menyoroti bahwa keterbatasan sektor formal memang menjadi tantangan besar. Data menunjukkan bahwa 60% tenaga kerja Indonesia kini berada di sektor informal.
Ketimpangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja memaksa para sarjana menjadi “prekariat” atau pekerja dengan kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Senada dengan itu, Rizal Taufikurahman dari Indef menilai bahwa fenomena gig economy saat ini hanya menjadi penyangga sementara. Meski mampu menyerap banyak tenaga kerja, sektor ini masih minim perlindungan jangka panjang.
Fenomena sarjana yang banting stir menjadi pengusaha membuktikan bahwa kreativitas dan daya tahan adalah kunci utama di era ekonomi yang tak menentu.
Ijazah mungkin menjadi kunci pembuka, namun keberanian mengambil peluang adalah jalan menuju keberlanjutan. (Tim)






