Britainaja – Era “liar” anak-anak berselancar di media sosial segera berakhir. Bayangkan sebuah dunia di mana anak-anak kembali bermain di taman tanpa gangguan notifikasi atau tekanan cyber bullying yang menghantui kesehatan mental mereka. Langkah berani ini baru saja di ambil pemerintah Indonesia demi menyelamatkan masa depan generasi muda dari jeratan algoritma yang candu.
Pemerintah resmi menerbitkan aturan yang melarang anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform digital berisiko tinggi. Aturan ini bukan sekadar imbauan, melainkan kebijakan tegas yang tertuang dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Kebijakan ini merupakan turunan dari PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di ruang digital atau yang di kenal sebagai PP Tunas. Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa posisi Indonesia saat ini sangat krusial sebagai negara non-barat pertama yang berani menerapkan pembatasan akses digital berbasis usia.
“Anak-anak kita menghadapi ancaman yang semakin nyata. Mulai dari pornografi, perundungan siber, penipuan online, dan yang paling utama adiksi digital,” ujar Meutya Hafid di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Meutya menambahkan bahwa negara harus turun tangan karena beban menjaga anak di era digital terlalu berat jika hanya di pikul oleh orang tua sendirian. “Pemerintah hadir agar orang tua tidak lagi bertarung sendirian melawan raksasa algoritma,” tegasnya.
Daftar Platform yang Bakal Menonaktifkan Akun Anak
Proses “pembersihan” akun ini akan di mulai secara bertahap pada 28 Maret 2026. Pemerintah menyasar platform-platform besar yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak di bawah umur. Daftar platform tersebut meliputi:
YouTube dan TikTok
Facebook, Instagram, dan Threads
X (dahulu Twitter)
Bigo Live
Roblox (platform gim daring)
Semua akun yang terdeteksi milik pengguna di bawah usia 16 tahun pada platform tersebut akan dinonaktifkan secara otomatis. Pemerintah mengakui bahwa masa transisi ini tidak akan mudah dan mungkin memicu protes dari kalangan remaja maupun kebingungan bagi orang tua.
Tips untuk Orang Tua Menghadapi Transisi Digital
Menanggapi potensi “gejolak” di rumah saat akses medsos dicabut, berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua:
Edukasi Secara Bertahap: Jelaskan pada anak bahwa aturan ini dibuat untuk melindungi kesehatan mental dan privasi mereka, bukan sekadar membatasi kesenangan.
Cari Alternatif Hobi: Ajak anak mengeksplorasi kegiatan fisik seperti olahraga, seni, atau komunitas hobi yang dilakukan secara tatap muka.
Gunakan Akun Keluarga: Jika anak membutuhkan YouTube untuk belajar, pastikan menggunakan akun bersama di perangkat ruang tamu dengan pengawasan ketat.
Komunikasi Terbuka: Jadilah pendengar yang baik saat anak merasa kehilangan koneksi dengan teman-temannya di dunia maya.
Pemerintah optimis langkah drastis ini akan membuahkan hasil jangka panjang. Meutya Hafid menutup pernyataannya dengan komitmen kuat untuk mengembalikan kedaulatan masa depan anak-anak Indonesia. “Kita ingin teknologi memanusiakan anak-anak kita, bukan mengorbankan masa kecil mereka,” pungkasnya. (Tim)















