Britainaja – Drama tertangkapnya seorang wanita berinisial Khairun Nisa yang menyamar sebagai pramugari Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) mengungkap fakta pilu di baliknya. Alih-alih berniat melakukan aksi kriminalitas berat, Nisa ternyata merupakan korban sindikat penipuan lowongan kerja yang tega menguras tabungannya hingga puluhan juta rupiah.
Kompol Yandri Mono, Kasat Reskrim Polres Bandara Soetta, membeberkan bahwa motif di balik aksi nekat Nisa dipicu oleh rasa malu yang mendalam terhadap keluarganya. Nisa sebelumnya telah berpamitan kepada orang tua untuk mengikuti seleksi pramugari di Jakarta. Sialnya, ia justru terjebak tipu daya oknum yang menjanjikan kelulusan instan dengan syarat menyetor uang sebesar Rp30 juta.
Aksi penyamaran ini terbongkar saat Nisa menumpang pesawat Batik Air ID 7058 rute Palembang-Jakarta. Kecurigaan muncul dari awak kabin resmi yang melihat kejanggalan pada seragam yang di kenakan Nisa. Secara kasat mata, corak warna rok yang ia pakai tidak identik dengan standar seragam resmi yang di keluarkan oleh pihak Lion Group.
Melihat gelagat yang tidak biasa, kru pesawat segera berkoordinasi dengan petugas Aviation Security (Avsec) setibanya di Jakarta. Penyelidikan kepolisian kemudian mengungkap bahwa Nisa mengenakan atribut tersebut demi menjaga gengsi di mata keluarga agar tetap terlihat sukses berkarier sebagai awak kabin, meski realitanya ia kehilangan uang dalam jumlah besar.
Pihak kepolisian telah mengembalikan Nisa kepada keluarganya di Jakarta setelah melalui proses pemeriksaan intensif. Hingga saat ini, polisi masih menunggu keputusan Nisa untuk secara resmi melaporkan oknum penipu yang telah membawa lari uangnya agar proses hukum dapat segera di tingkatkan.
Mengapa Penipuan “Orang Dalam” Masih Marak? Fenomena yang di alami Nisa mencerminkan sisi gelap tingginya minat masyarakat pada profesi di dunia penerbangan. Banyak calon pelamar terjebak pada mitos “jalur belakang” atau jasa calo karena minimnya literasi mengenai proses rekrutmen resmi yang sebenarnya bersifat transparan dan tidak di pungut biaya.
Para pelaku penipuan biasanya memanfaatkan psikologis korban yang ingin cepat bekerja dan memiliki gengsi sosial tinggi. Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa maskapai besar seperti Lion Group atau Garuda Indonesia selalu mengumumkan rekrutmen melalui kanal resmi perusahaan. Jika ada permintaan sejumlah uang dengan jaminan kelulusan, bisa di pastikan itu adalah praktik penipuan yang harus segera di laporkan. (Tim)















