Krisis Listrik Desa Terpencil Merangin: Saat Harapan Warga Terancam Padam

Ratusan Keluarga di Merangin Terancam Kembali ke Masa Kegelapan

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi rumah warga Air Liki, Kabupaten Merangin, saat malam hari yang hanya mengandalkan lampu sederhana, Jumat (10/7). (Dok. Tribunjambi)

Kondisi rumah warga Air Liki, Kabupaten Merangin, saat malam hari yang hanya mengandalkan lampu sederhana, Jumat (10/7). (Dok. Tribunjambi)

Britainaja – Selama lebih dari satu dekade, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) menjadi penyambung asa bagi warga Desa Air Liki, Kecamatan Tabir Barat. Sejak memutar turbin pertamanya pada 2013, aliran listrik berbasis air ini terus menyalakan harapan sekitar 200 rumah warga.

Terletak sejauh 139 kilometer dari Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin, warga membangun PLTMH Air Liki untuk menjawab tantangan jaringan listrik PLN yang tak kunjung menjangkau wilayah mereka.

“Jika satu rumah berisi 4 hingga 5 orang, setidaknya 800 sampai 1.000 jiwa menggantungkan hidup pada pembangkit ini setiap hari,” tutur Kepala Desa Air Liki, Anton.

Manfaat daya mikro hidro ini meluas hingga ke fasilitas publik. Satu masjid, tujuh surau, kantor desa, hingga gedung SD dan SMP turut menikmati aliran energi yang sama. Listrik tersebut menggerakkan seluruh aktivitas warga, mulai dari pelayanan administrasi desa, proses belajar-mengajar anak-anak, hingga ibadah keagamaan.

Mengubah Jalan Hidup Masyarakat

Kehadiran PLTMH berhasil mengikis kegelapan malam yang dahulu membatasi ruang gerak warga. Sebelum tahun 2013, anak-anak Air Liki harus belajar di bawah remang cahaya lampu teplok.

Masuknya arus listrik mengubah kebiasaan tersebut secara total. Kini, anak-anak memiliki waktu belajar malam yang lebih panjang dengan penerangan yang memadai. Beberapa anak bahkan mulai mengoperasikan laptop—sebuah fasilitas belajar yang dahulu sangat mustahil hadir di desa terpencil.

Di sektor ekonomi, listrik menggerakkan roda usaha warga. Sedikitnya 30 pelaku UMKM lokal menyandarkan hidup pada aliran PLTMH, mulai dari pemilik warung kelontong yang membutuhkan kulkas pendingin, penyedia jasa pengelasan, hingga pengusaha penggilingan hasil bumi.

Namun, napas kehidupan itu kini berada di ambang kelumpuhan.

Mesin Tua yang Mulai Tumbang

Setelah beroperasi lebih dari sepuluh tahun, komponen utama PLTMH Air Liki mulai menyerah pada usia. Kerusakan berat menghantam bagian generator, yakni mesin vital yang mengonversi putaran turbin air menjadi energi listrik.

Anton menjelaskan bahwa kerusakan generator membuat produksi daya merosot tajam. Dari kapasitas ideal sebesar 60 kilowatt, kini mesin tersebut hanya mampu menghasilkan sekitar 40 kilowatt.

Daya yang tersisa tidak lagi mampu menopang kebutuhan ratusan kepala keluarga. Listrik yang ada hanya sanggup menyalakan satu hingga dua lampu berdaya rendah di setiap rumah. Berbagai peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin usaha warga terpaksa berhenti beroperasi.

Baca Juga :  Kode Redeem Mobile Legends 22 Januari 2026: Banjir Hadiah M7 dan Skin Gratis

“Kapasitasnya turun drastis dari dulu, bahkan bisa kita bilang sudah hilang,” kata Anton.

Sebagian warga kini terpaksa kembali ke cara hidup sederhana. Mereka mengandalkan lampu LED darurat berbasis baterai isi ulang. Penerangan tersebut memang sanggup menembus gelapnya malam, namun tidak mampu memutar roda perekonomian desa.

Pengelola tidak bisa memperbaiki kerusakan ini dalam waktu singkat. Kendala utamanya tertumpu pada harga generator pengganti yang mencapai puluhan juta rupiah. Uang kas pengelola dari iuran bulanan warga tidak sanggup menutup biaya perbaikan sebesar itu, karena dana yang ada hanya cukup untuk perawatan harian.

Tantangan geografis makin memperkeruh keadaan. Lokasi turbin berdiri sekitar dua kilometer di luar permukiman dan melewati medan yang sulit. Selain itu, pasokan listrik sangat bergantung pada debit air sungai; musim kemarau akan langsung memangkas produksi listrik secara drastis.

Bagi warga Air Liki, kerusakan PLTMH bukan sekadar perkara mesin yang mati. Kerusakan ini meredupkan masa depan pendidikan anak-anak dan mematikan mata pencaharian warga.

Banjir Bandang Melumpuhkan Desa Pulau Tengah dan Rantau Kermas

Krisis energi mikro hidro di Kabupaten Merangin tidak berhenti di Air Liki. Di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat, banjir bandang melumpuhkan total fasilitas PLTMH yang melayani sekitar 500 warga.

Banjir menerjang bantaran sungai dengan membawa material kayu, lumpur, dan batu yang menghantam rumah turbin. Meskipun warga bergotong royong membersihkan saluran air pascabencana, kerja bakti tidak mampu memperbaiki generator yang rusak.

“Harga generator bekas saja mencapai Rp45 juta,” ungkap Kepala Desa Pulau Tengah, Hira Supionhadi.

Angka tersebut berada jauh di luar jangkauan kas swadaya warga. Padahal, sekitar 50 persen warga desa sangat mengandalkan PLTMH ini karena menawarkan biaya yang jauh lebih murah daripada tarif PLN.

Ancaman serupa membayangi Desa Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat. Banjir bandang menggerus bantaran sungai dan menghanyutkan dinding pengaman bendungan PLTMH.

Baca Juga :  Sambut Kepengurusan Baru WALUBI, Al Haris Siap Bersinergi Jaga Kerukunan di Jambi

“Pengaman ini hanyut. Kami sangat mengkhawatirkan banjir bandang susulan,” tutur Kepala Desa Rantau Kermas, Hadirin.

Tanpa penahan air di hulu, struktur pembangkit terancam runtuh total. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah saat debit air naik, pengelola terpaksa menutup pintu air secara berkala. Langkah ini mengakibatkan pasokan listrik menjadi tidak stabil dan tegangan sering naik-turun.

Padahal, PLTMH Rantau Kermas menopang aktivitas 150 kepala keluarga serta berbagai unit usaha desa, seperti pembuat kue, penjelang kopi (roasting), hingga bengkel pertukangan.

Pemerintah Desa Rantau Kermas telah menghitung kebutuhan pembangunan dinding bronjong pengaman sungai sebesar Rp40 juta. Namun, keterbatasan anggaran desa mengunci rapat rencana tersebut. Pemangkasan pagu Dana Desa membuat pemerintah desa tidak memiliki alokasi anggaran untuk perbaikan PLTMH.

Lonjakan Beban di Dusun Tuo

Di sudut lain Kabupaten Merangin, Desa Dusun Tuo menghadapi masalah yang berbeda. Pembangkit listrik mikro hidro di desa ini merupakan salah satu yang tertua karena telah beroperasi sejak 1987 untuk melayani 600 kepala keluarga.

Dengan kapasitas total 100 kilowatt dari dua unit turbin, PLTMH Dusun Tuo kini menanggung beban berlebih. Ketua Pengelola PLTMH Dusun Tuo, Suryadi, menyebutkan bahwa jumlah sambungan saat ini telah membengkak hingga 660 titik.

“Setiap tahun ada penambahan jaringan baru, sehingga mesin mengalami overload,” ujar Suryadi.

Kondisi ini merusak kualitas daya. Pada jam beban puncak malam hari, tegangan merosot drastis sehingga penanak nasi elektronik tidak mampu mematangkan nasi dan kulkas tidak dapat mendinginkan makanan.

Untuk memulihkan jaringan, pengelola berencana menambah satu unit turbin baru berkapasitas 200 kWh. Namun, proyek tersebut membutuhkan dana hingga Rp700 juta. Pemangkasan Dana Desa kembali menjadi penghambat utama rencana besar ini.

Meskipun PLTMH Dusun Tuo mencatat pendapatan kotor sekitar Rp30 juta per bulan dari iuran warga, pengelola harus mengeluarkan Rp15 juta untuk operasional harian, pemeliharaan jaringan, serta gaji 15 tenaga kerja lokal.

“Jika bantuan pemerintah tidak kunjung turun, kami mempertimbangkan opsi mengajukan pinjaman ke bank agar kebutuhan energi masyarakat pedalaman tetap terjamin,” tegas Suryadi. (Tim)

Berita Terkait

Dua Tokoh SAD Bantah Tuduhan Terlibat Dugaan TPPO Bayi di Batanghari
Pulang ke Jambi, Romi Arizyanto Resmi Jabat Kajari
H Bakri Wafat, Siapa Penggantinya di DPR RI? Sosok Adirozal Pegang Suara Terbanyak
Profil Haji Bakri: Politisi Senior PAN dan Anggota DPR RI asal Jambi
Jambi Berduka, Anggota DPR RI Haji Bakri Meninggal Dunia
Tol Jambi–Rengat Siap Bangun 2027: Gubernur Al Haris Jamin Ganti Rugi Adil untuk Warga
Usut Kematian Brigadir Eko, Tim Inafis Mabes Polri Turun Tangan dan Periksa 13 Saksi
Wajah Baru Terminal Alam Barajo: Pemprov Jambi dan Kemenhub Dorong Transportasi Modern serta Kendaraan Listrik
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:10 WIB

Krisis Listrik Desa Terpencil Merangin: Saat Harapan Warga Terancam Padam

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:02 WIB

Dua Tokoh SAD Bantah Tuduhan Terlibat Dugaan TPPO Bayi di Batanghari

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:04 WIB

Pulang ke Jambi, Romi Arizyanto Resmi Jabat Kajari

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:00 WIB

H Bakri Wafat, Siapa Penggantinya di DPR RI? Sosok Adirozal Pegang Suara Terbanyak

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:23 WIB

Profil Haji Bakri: Politisi Senior PAN dan Anggota DPR RI asal Jambi

Berita Terbaru