JAMBI, Britainaja — Pelaksanaan Pawai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Sarolangun, Jambi, berubah menjadi panggung kritik sosial yang menggetarkan dan mendapat banyak dukurngan dari berbagai pihak dan warga yang hadir.
Dimana para siswa dari SMAN 1 Sarolangun menghadirkan pertunjukan teatrikal penuh emosi yang membongkar kelamnya dampak Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko.
Di hadapan barisan pejabat daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang duduk di panggung utama, para pelajar menampilkan realita pahit kerusakan lingkungan. Tanpa rasa canggung, rombongan siswa mengarak rakit simulasi tambang emas liar lengkap dengan perangkat domping, replika gelondongan kayu raksasa hasil penebangan liar, serta miniatur alat derek tambang.
Sebuah spanduk membentang tegas pada struktur rakit bertuliskan rasa duka mendalam bagi para korban longsor tambang emas ilegal di Kecamatan Limun. Rombongan siswa berpakaian lusuh dan berlumur lumpur memeragakan proses penambangan langsung di atas gerobak kayu roda tiga, menghadirkan gambaran nyata kerasnya pencarian emas liar yang mempertaruhkan nyawa.
“Karnaval Sarolangun memberikan peringatan keras sekaligus menyadarkan publik agar membuka mata terhadap kerusakan alam. Peragaan siswa SMAN 1 Sarolangun menjadi bukti nyata realita hari ini. Tambang emas ilegal tak hanya merusak bumi, tetapi juga terus menelan korban jiwa,” tulis akun Facebook @suararakyatjambi dalam unggahannya.
Kemeriahan musik marching band seketika terganti oleh suasana haru ketika para siswa mengusung keranda jenazah buatan dari kayu dan kertas cokelat. Keranda tersebut menjadi simbol nyata atas banyaknya nyawa penambang yang melayang akibat longsor di lokasi PETI.
Di atas keranda, seorang siswi meratap histeris menyuarakan kepedihan keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga mereka akibat keserakahan tambang liar.
“Tolong!… Nyawa melayang akibat tambang liar! Kasihan keluarga kami!… Hutan kami hancur, bumi kami rusak! Berapa banyak lagi nyawa yang harus tertimbun?!” jerit narator di atas keranda.
Beberapa siswa bahkan merebahkan diri di atas aspal jalanan, memeragakan tubuh kaku para penambang yang tertimbun tanah longsor. Siswa lainnya mengelilingi mereka sambil meratap. Adegan evakuasi korban yang berlangsung tepat di hadapan panggung kehormatan memaksa para pejabat dan aparat menyaksikan langsung potret kelam yang selama ini membayangi wilayah Sarolangun.
Aksi pemberani ini menyedot perhatian luar biasa dari ratusan warga di sepanjang rute karnaval. Tepuk tangan dan sorak kagum penonton riuh membahana, mengapresiasi keberanian para pelajar dalam menyuarakan isu lingkungan dan kemanusiaan yang sangat krusial.
Disclaimer: Artikel ini menyajikan informasi publik secara objektif dan bertujuan memberikan wawasan edukatif mengenai isu sosial-lingkungan di masyarakat tanpa maksud menyinggung pihak mana pun. (Tim)






