Britainaja – Pagi itu, langit di atas Jambi Seberang terlihat mendung, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah ratusan warga saat menuju Masjid Jami Ba’alawi. Kelurahan Arab Melayu seketika riuh.
Namun, hari ini bukanlah sekadar perayaan Idul Fitri biasa. Terlihat di halaman masjid yang sangat bersejarah ini, para orang tua sedang menanti momen sakral bagi buah hati mereka, yakni ritual Injak Bumi.
Bagi warga Jambi Kota Seberang, Lebaran adalah waktu terbaik untuk memperkenalkan bayi mereka kepada alam. Ritual Injak Bumi menjadi jembatan spiritual bagi balita yang baru mulai belajar melangkah agar mendapat perlindungan dan keberkahan.
Doa Tulus di Halaman Masjid
Segera setelah shalat Id usai, belasan orang tua bergegas menghampiri para tokoh agama. Tanpa perlu banyak kata, para pemuka agama menyambut bayi-bayi tersebut dengan hangat. Mereka mengusap lembut kepala sang bayi sambil melantunkan doa-doa perlindungan dengan suara lirih.
Momen paling menyentuh terjadi saat tokoh agama menurunkan kaki mungil si bayi hingga menyentuh tanah untuk pertama kalinya. Setelah itu, barulah sang anak kembali ke pelukan hangat orang tuanya. Sebagai ungkapan syukur, para orang tua menaburkan bunga dan uang logam ke udara, yang langsung memicu keceriaan anak-anak kecil di sekitar masjid.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Abu Umar, salah satu orang tua, membagikan ceritanya dengan penuh bangga. Ia membawa putranya, Muhammad Raska, untuk mengikuti jejak yang pernah ia lalui puluhan tahun silam.
“Tradisi ini sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka,” kenang Umar. Ia berharap doa para ulama menjaga akidah dan kesehatan anaknya dalam mengarungi kehidupan. Hal serupa juga terucap dari Megawati, yang membawa anak keempatnya. Baginya, ada rasa yang kurang jika sang buah hati belum mendapatkan doa melalui ritual turun-temurun ini.
Harmoni Agama dan Budaya Lokal
Tokoh agama setempat, Abdulah Hamid, menegaskan bahwa Injak Bumi adalah bentuk penghormatan manusia terhadap bumi tempat mereka berpijak. Ritual ini memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal secara harmonis.
“Kami memohon perlindungan kepada Allah agar anak-anak terjauh dari marabahaya dan gangguan gaib saat mereka mulai menapakkan kaki di dunia,” jelas Hamid.
Senada dengan itu, Khatib Masjid Ba’alawi, Majdi Hasan Musa, menitipkan pesan mendalam. Ia mengingatkan warga agar tidak hanya mewarisi tanah, tetapi juga menjaga adab dan akhlak.
“Kekuatan kita ada pada paduan agama, adat, dan kasih sayang. Ajarkan adab sebelum ilmu kepada anak-anak kita,” pungkasnya.
Melalui ritual Injak Bumi, masyarakat Jambi Seberang membuktikan bahwa modernitas tidak harus melunturkan identitas. Langkah kecil di halaman masjid pagi ini adalah simbol harapan besar bagi generasi masa depan Jambi yang berakhlak mulia. (Tim)






