Britainaja – Selama ini, kita mengenal kucing sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW. Namun, tahukah Anda bahwa Rasulullah juga memelihara berbagai jenis hewan lain?
Mulai dari unta yang tangguh hingga kambing yang bersahaja, setiap hewan ini membawa kisah persahabatan yang penuh kehangatan dan pelajaran hidup.
Cara Rasulullah memperlakukan hewan mencerminkan sisi kemanusiaan yang luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa setiap makhluk bernyawa memiliki hak untuk dicintai dan dilindungi. Mari kita telusuri kisah para “sahabat setia” Rasulullah berikut ini.
1. Qiswa: Unta Tangguh Saksi Perjalanan Hijrah
Qiswa bukan sekadar alat transportasi bagi Rasulullah. Unta betina ini menjadi saksi bisu momen-momen paling bersejarah dalam Islam, termasuk saat perjalanan Hijrah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan kenyamanan Qiswa; beliau memastikan ia mendapatkan makanan yang cukup dan istirahat yang layak. Hubungan ini membuktikan bahwa hewan kerja pun berhak mendapatkan perlakuan yang penuh martabat.
2. As-Sakb dan Kuda-Kuda Perkasa Lainnya
Dunia kavaleri Islam mengenal sosok kuda bernama As-Sakb. Rasulullah membeli kuda ini dari seorang Badui dan memberinya perawatan terbaik. Menariknya, As-Sakb pernah memenangkan lomba pacuan kuda, yang membuat Rasulullah merasa bangga. Selain As-Sakb, nama-nama seperti Al-Murtajaz dan Lizaz juga menghiasi catatan sejarah sebagai kuda yang mendampingi misi diplomatik dan perjuangan beliau.
3. Duldul: Baghal Setia yang Dirawat Langsung oleh Nabi
Duldul adalah seekor baghal (hasil persilangan kuda dan keledai) pemberian penguasa Mesir. Rasulullah menunjukkan kasih sayang yang sangat personal kepada Duldul. Beliau tak segan menumbuk gandum sendiri untuk memberi makan hewan ini. Kedekatan ini memberikan pesan kuat: seorang pemimpin besar sekalipun tidak pernah merasa terlalu tinggi untuk melayani makhluk ciptaan Allah yang paling lemah.
4. Ujrah dan Zamzam: Sumber Kehidupan yang Bersahaja
Keseharian Rasulullah juga diwarnai dengan kehadiran kambing dan domba, seperti Ujrah, Zamzam, dan Barakah. Beliau memelihara mereka dengan penuh kasih untuk memenuhi kebutuhan susu dan daging keluarga secara sederhana. Meski menjadi hewan ternak, Rasulullah melarang keras tindakan menyiksa atau membebani mereka secara berlebihan saat bekerja maupun saat akan disembelih.
5. Ufair: Keledai Abu-Abu yang Menggemaskan
Keledai seringkali dianggap sebagai hewan beban yang rendah, namun tidak di mata Rasulullah. Beliau memiliki seekor keledai bernama Ufair, hadiah dari Al-Muqauqis. Rasulullah sering mengendarai Ufair dalam aktivitas harian di Madinah. Kehadiran Ufair menunjukkan bahwa setiap hewan, sekecil atau sesederhana apa pun jenisnya, memiliki tempat di hati Rasulullah.
Etika Menyayangi Hewan: Warisan Rahmatan lil ‘Alamin
Kisah-kisah di atas menegaskan bahwa memperlakukan hewan dengan baik adalah bagian dari akhlak mulia. Islam menempatkan manusia sebagai khalifah atau pelindung di bumi. Rasulullah secara tegas melarang manusia untuk:
-
Membebani hewan di luar batas kemampuannya.
-
Mengabaikan rasa lapar dan haus hewan peliharaan.
-
Menyakiti atau menyiksa hewan tanpa alasan yang benar.
Refleksi Untuk Kita Saat Ini
Di zaman modern, ketika isu animal welfare atau kesejahteraan hewan menjadi perbincangan global, kita sadar bahwa Rasulullah telah mencontohkan nilai-nilai tersebut sejak 14 abad yang lalu. Menyayangi hewan bukan sekadar hobi, melainkan bentuk ibadah dan syukur kita kepada Sang Pencipta.
Melalui kisah Qiswa hingga Ufair, kita belajar bahwa kasih sayang tidak mengenal batas spesies. Mari kita jadikan teladan Rasulullah sebagai inspirasi untuk lebih peduli terhadap makhluk hidup di sekitar kita. (Tim)






