Britainaja – Kondisi ekonomi global yang memanas kembali memberikan tekanan bagi mata uang Garuda. Hari ini, Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah berpotensi bergerak melemah pada rentang Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.
Rapor Merah Mata Asia
Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah menutup perdagangan Senin kemarin dengan koreksi sebesar 0,33% ke posisi Rp17.385. Rupiah tidak sendirian dalam tren negatif ini; dolar Singapura dan baht Thailand juga ikut layu terhadap greenback.
Sebaliknya, beberapa mata uang seperti won Korea dan yen Jepang justru menunjukkan taji dengan menguat tipis di tengah ketidakpastian pasar.
Pemicu Utama: Konflik Iran dan Selat Hormuz
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa memanasnya situasi di Iran menjadi faktor utama pelemahan ini. Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar karena jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.
“Perang di Iran dan gangguan di Selat Hormuz langsung mengerek harga minyak mentah. Kondisi ini otomatis memicu lonjakan inflasi global,” ujar Ibrahim.
Tak hanya di Timur Tengah, ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang masih berlanjut juga ikut mengganggu produksi minyak di kawasan Eropa Timur, menambah beban bagi stabilitas energi dunia.
Dampak Nyata ke Sektor Manufaktur Indonesia
Dari dalam negeri, tantangan muncul pada sektor manufaktur. Data PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan kontraksi akibat kenaikan harga minyak dunia.
Fenomena ini menciptakan efek domino: biaya impor bahan baku menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya memaksa harga barang di pasar ikut merangkak naik.
Kenaikan biaya produksi ini menjadi tantangan berat bagi pelaku industri dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi nilai tukar yang masih tidak menentu. (Tim)






