Britainaja – Gerbang Istana Negara sore ini, Senin (27/4/2026), menjadi pusat perhatian publik. Kabar perombakan atau reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto berembus kencang.
Nama yang paling menyita perhatian adalah Mohammad Jumhur Hidayat, sosok yang selama ini kita kenal sebagai singa podium bagi kaum buruh.
Jumhur, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), kabarnya segera mengambil sumpah jabatan sebagai anggota kabinet baru.
Rekam Jejak: Perlawanan Sejak Mahasiswa
Lahir di Bandung pada 18 Februari 1968, Jumhur bukan orang baru dalam dunia pergerakan. Saat masih menempuh studi di Teknik Fisika ITB tahun 1986, ia sudah aktif turun ke jalan. Ia memilih membela petani dalam kasus Kedung Ombo daripada hanya duduk diam di ruang kuliah.
Keberaniannya menolak kedatangan pejabat Orde Baru di kampus pada 1989 sempat membuatnya mendekam di penjara selama tiga tahun. Menariknya, meski berasal dari keluarga mapan—ayahnya adalah pejabat perbankan—Jumhur tetap memilih gaya hidup sederhana.
“Ia pintar dan berprestasi, tapi hidupnya habis untuk membantu sesama. Pakaiannya pun sederhana, bahkan ia terbiasa menjahit sendiri bajunya yang robek,” kenang Fadjroel Rachman, sahabat karibnya.
Perjalanan Politik yang Berliku
Karier Jumhur merupakan perpaduan unik antara posisi birokrat dan kritikus tangguh. Ia pernah memimpin BNP2TKI selama tujuh tahun pada masa Presiden SBY. Namun, sikap politiknya yang teguh membuatnya harus kehilangan jabatan tersebut pada 2014.
Tak berhenti di situ, Jumhur kembali merasakan dinginnya sel tahanan pada tahun 2020 akibat kritik kerasnya terhadap UU Cipta Kerja. Konsistensi inilah yang kemudian mengantarkannya memimpin KSPSI sejak tahun 2022 hingga sekarang.
Harapan Baru untuk Kaum Buruh
Kabar pelantikan Jumhur yang terjadwal pukul 15.00 WIB hari ini memicu berbagai spekulasi. Banyak yang memprediksi ia akan mengisi posisi Menteri Lingkungan Hidup atau Menteri Perhubungan.
Andi Gani Nena Wea, rekan seperjuangannya, menyebut momen ini sebagai kehormatan besar bagi gerakan buruh Indonesia. Meski masuk dalam lingkaran kekuasaan, Andi berharap Jumhur tetap memegang teguh idealismenya.
“Ini adalah kehormatan bagi kaum buruh. Pesan saya, Bung Jumhur harus tetap menjaga integritas perjuangan kita,” ujar Andi Gani.
Kesibukan di protokol Istana dan barisan bunga ucapan selamat seolah menegaskan satu hal: Sang mantan tahanan politik kini siap bersumpah setia untuk mengabdi pada negara di level yang lebih tinggi. (Tim)






