Britainaja – Semangat dalam melaksanakan ibadah tentunya tidak mengenal batas usia. Hal inilah yang terpancar dari sosok Mardijiyono Karto Sentono. Lansia berusia 103 tahun asal Randusari-Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul ini resmi menjadi jemaah haji tertua dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk musim haji 2026.
Mardijiyono dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci pada 1 Mei 2026 mendatang. Meski fisiknya tidak lagi muda, tekadnya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima begitu kuat dan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.
Menjalankan Pesan Terakhir Mendiang Istri
Perjalanan haji Mardijiyono membawa misi yang sangat personal. Sang cucu, Dewi Rusmala, menceritakan bahwa keberangkatan ini merupakan amanah dari mendiang neneknya. Sebelum wafat pada akhir 2019, sang istri berpesan agar Mardijiyono mendaftar haji terlebih dahulu.
Demi mewujudkan wasiat tersebut, Mardijiyono memantapkan diri mendaftar pada tahun 2020. Menariknya, ia sempat menjual sapi peliharaannya seharga Rp10 juta untuk menambah biaya pendaftaran agar segera mendapatkan kursi keberangkatan.
Dukungan Penuh Keluarga dan Petugas
Mengingat usia yang sudah mencapai satu abad, Mardijiyono tentu memerlukan perhatian khusus. Dewi menjelaskan bahwa kakeknya mengalami gangguan pendengaran dan keterbatasan fisik setelah sempat terjatuh beberapa waktu lalu. Kini, ia menggunakan bantuan alat walker untuk berpindah tempat.
Karena kondisi ini, Mardijiyono akan mendapatkan pendampingan ekstra dari petugas haji selama di Arab Saudi. Keluarga besar yang terdiri dari delapan anaknya pun bergotong-royong menyiapkan segala keperluan, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga kebutuhan harian selama di perjalanan.
Berkah Kuota Prioritas Lansia
Awalnya, Mardijiyono masuk dalam daftar tunggu yang baru akan berangkat pada tahun 2045. Namun, kebijakan prioritas kuota haji lansia memberikan jalan baginya untuk berangkat jauh lebih cepat.
Persiapan mental Mardijiyono tergolong sangat baik. Beliau sudah menghafal ayat-ayat suci dan memiliki bekal pengalaman saat menunaikan ibadah umroh pada tahun 2023 lalu. Saat ditanya mengenai perasaannya, kakek bersahaja ini hanya tersenyum lebar.
“Ya senang saja. Nanti doa apa saja, yang penting berdoa,” ungkapnya dengan bahasa yang sederhana namun penuh ketulusan.
Harapan Menjadi Haji Mabrur
Pihak keluarga berharap penuh agar perjalanan sang kakek berlangsung lancar tanpa kendala kesehatan yang berarti. Doa-doa terbaik mengiringi langkah Mardijiyono agar ia dapat beribadah dengan khusyuk dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Kisah Mardijiyono menjadi pengingat bagi kita semua bahwa niat yang tulus dan kesabaran dalam berikhtiar akan selalu menemukan jalan kemudahan dari Sang Pencipta. (Tim)






