Britainaja – Umat Muslim di berbagai belahan dunia selalu menantikan momen pergantian tahun baru Islam dengan penuh suka cita. Di Indonesia, masyarakat menyambut datangnya 1 Muharram dengan beragam tradisi unik. Kekayaan budaya ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Islam telah merasuk dan menyatu dalam urat nadi kehidupan masyarakat Nusantara.
Sebagai negara yang kaya akan sejarah, Indonesia memiliki cara tersendiri dalam merayakan kalender Hijriah. Masyarakat di berbagai daerah menggelar festival, ritual adat, hingga perayaan lokal. Agenda tahunan ini bukan sekadar ungkapan rasa syukur, melainkan juga cerminan akulturasi yang indah antara ajaran agama dan kearifan lokal.
Namun, jika kita melihatnya dari kacamata syariat, ramainya perayaan ini juga memicu diskusi kritis di kalangan ulama. Mereka menggarisbawahi batasan tegas antara pelestarian budaya dan menjaga kemurnian akidah. Berikut adalah rangguman tradisi menyambut 1 Muharram dari Sabang sampai Merauke.
Ragam Perayaan 1 Muharram di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
1. Pariaman (Sumatera Barat): Pesona Festival Tabuik
Masyarakat Pariaman menjaga tradisi Tabuik ini sejak abad ke-19. Mereka menggelar upacara selama 10 hari penuh, mulai dari tanggal 1 Muharram hingga mencapai puncaknya pada hari Asyura (10 Muharram). Nama “Tabuik” sendiri berasal dari kata Tabut (keranda) dalam dialek Minang. Warga mengarak replika peti yang penuh hiasan bunga dan kain warna-warni keliling kampung. Penganut Syiah dari India Selatan memperkenalkan ritual ini pertama kali pada tahun 1826 untuk mengenang wafatnya cucu Rasulullah ﷺ, Husain bin Ali. Kini, Tabuik telah melebur menjadi bagian dari adat Minangkabau yang merekatkan kebersamaan warga.
2. Bengkulu: Ritual Tabot dan Suroan Lintas Budaya
Masyarakat Bengkulu, khususnya Kerukunan Keluarga Tabut (KKT), menggelar ritual serupa bernama Tabot sebagai simbol tolak bala dan penyambutan tahun baru. Menariknya, warga keturunan Jawa di Bengkulu juga melestarikan ritual Suroan. Mereka berkumpul di masjid sambil membawa nasi takir pelontang—nasi dalam wadah daun pisang berhias janur kuning—sebagai bentuk rasa syukur.
3. Aceh: Semangat Pawai Ta‘aruf, Meugang, dan Kanji Asyura
Serambi Mekah menyambut tahun baru Islam lewat Pawai Ta‘aruf yang meriah. Ribuan warga dan mobil hias turun ke jalan untuk menyemarakkan syiar Islam. Selain itu, masyarakat Aceh menggelar tradisi Meugang dengan memasak daging dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama keluarga dan anak yatim. Tradisi warisan Sultan Iskandar Muda ini menjadi simbol sedekah yang lestari. Tak lupa, warga bergotong-royong memasak Kanji Asyura (bubur Asyura) di fasilitas umum untuk dibagikan ke tetangga sebagai hidangan berbuka puasa 10 Muharram.
4. Yogyakarta & Surakarta: Keheningan Mubeng Beteng dan Tapa Bisu
Bagi masyarakat Jawa, Muharram identik dengan Bulan Suro. Sultan Agung Hanyokrokusumo menginisiasi akulturasi budaya ini pada tahun 1633 M. Di Yogyakarta, para abdi dalem dan warga melakoni ritual Mubeng Beteng pada malam 1 Suro. Mereka berjalan kaki mengitari benteng keraton sejauh 4–5 km tanpa alas kaki dan tanpa berbicara sekatap pun (Tapa Bisu) sebagai sarana introspeksi diri. Sementara di Surakarta, Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran menggelar ritual Jamasan Pusaka atau membersihkan benda-benda pusaka pada hari-hari sakral di bulan Suro.
5. Tulungagung: Larung Kepala Kerbau di Pantai Popoh
Warga Tulungagung, Jawa Timur, menjalankan ritual unik dengan melarungkan kepala kerbau ke Laut Selatan Popoh. Sebelum menghanyutkannya ke laut, warga mengarak kepala kerbau tersebut bersama tumpeng nasi kuning besar lalu merapalkan doa bersama demi keselamatan dan kesejahteraan warga.
6. Boyolali: Tradisi Sedekah Gunung Merapi
Masyarakat Desa Lencoh di lereng Gunung Merapi, Boyolali, memilih puncak gunung sebagai lokasi pelarungan kepala kerbau. Mereka menjalankan ritual Sedekah Gunung ini sebagai simbol tolak bala sekaligus ungkapan syukur atas berkah alam.
7. Ponorogo: Kemeriahan Pesta Rakyat Grebeg Suro
Ponorogo mengemas momen tahun baru Hijriah lewat Grebeg Suro. Pesta rakyat ini memadukan unsur religi, seni, budaya, dan pariwisata, sehingga sukses menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya.
8. Suroan di Jawa Timur: Baritan hingga Memandikan Keris
Masyarakat di lereng Gunung Raung menggelar tradisi Baritan dengan agenda doa bersama dan saling tukar makanan. Di tempat lain seperti Surabaya, sebagian warga memilih mengisi malam tahun baru dengan memandikan keris pusaka sebagai simbol pembersihan diri.
9. Bangka Belitung: Tradisi Makan Bersama Nganggung
Warga Bangka Belitung mempererat tali silaturahmi lewat tradisi Nganggung. Setiap keluarga membawa makanan ke masjid atau balai desa untuk makan bersama para tetangga dan menyambut tamu dengan suka cita.
10. Sambas (Kalimantan Barat): Manisnya Hidangan Kue Lapis
Di Sambas, kue lapis menjadi hidangan wajib yang harus ada di meja rumah. Warga saling berkunjung ke rumah kerabat dan tetangga sambil menikmati camilan khas ini untuk merayakan pergantian tahun.
11. Kalimantan Utara: Gema Yasinan di Sepanjang Sungai Kayan
Warga Kalimantan Utara menjaga tradisi turun-temurun sejak zaman kerajaan dengan membaca Surah Yasin dan berdoa di atas perahu sambil menyusuri Sungai Kayan.
12. Kutai Kartanegara: Pawai Hijriah dan Bersih Desa
Santri dan masyarakat di Samboja, Kutai Kartanegara, meramaikan 1 Muharram lewat pawai obor atau karnaval. Sementara itu, warga Desa Sungai Mariam menggelar ritual Bersih Desa dan makan tumpeng bersama di sepanjang jalan sebagai simbol penyucian lingkungan.
Keunikan Tradisi di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua
13. Bugis-Makassar: Tradisi Berburu Ember dan Gayung baru
Masyarakat Bugis-Makassar memiliki kebiasaan unik saat 1 Muharram, yaitu memborong wadah air seperti ember, baskom, dan gayung di pasar. Mereka memandang wadah air baru ini sebagai simbol harapan agar rezeki mengalir lancar dan penuh berkah di tahun yang baru.
14. Pinrang & Baubau: Ungkapan Syukur Masyarakat Pesisir
Para nelayan di Kabupaten Pinrang menggelar ritual tahun baru sebagai bentuk syukur atas keselamatan mereka selama melaut. Warga Baubau di Sulawesi Tenggara juga tetap melestarikan tradisi membeli wadah air dengan filosofi serupa.
15. Luwu (Sulawesi Selatan): Pawai Napak Tilas Lapandoso
Warga Kecamatan Bua di Luwu mengadakan pawai napak tilas untuk mengenang sejarah masuknya Islam. Mereka berjalan kaki dari Lapandoso menuju Masjid Jami Bua dengan pakaian serba putih, kemudian menutup acara dengan tablig akbar.
16. Lombok Barat: Gema Tolak Balaq dan Mandik Pusake
Malam 1 Muharram di Karang Buaya, Lombok, riuh oleh kumandangan azan di setiap sudut gang. Ratusan warga berkumpul mengadakan doa bersama (Tolak Balaq) karena meyakini waktu tersebut sangat mustajab untuk memohon perlindungan. Selain itu, ada pula ritual Mandik Pusake, yaitu memandikan keris menggunakan air tujuh rupa sebagai ajang silaturahmi dan pelestarian benda bersejarah.
17. NTB: Ritual Roah Segare oleh Para Nelayan
Masyarakat nelayan di Desa Kuranji Dalang, NTB, berkumpul di tepi pantai untuk menggelar Roah Segare. Ritual ini merupakan bentuk terima kasih langsung kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil laut.
18. Maluku Utara: Tradisi Ritual Popas Lipu
Kesultanan Bacan di Maluku Utara melestarikan ritual adat Popas Lipu. Warga berjalan mengelilingi kampung sambil memanjatkan doa agar wilayah mereka terhindar dari bencana. Tradisi bernilai historis tinggi ini bahkan sudah terdaftar resmi sebagai Kekayaan Intelektual.
19. Papua: Mengisi Tahun Baru dengan Aksi Sosial
Umat Muslim di tanah Papua memilih cara yang humanis dan menyentuh hati dalam menyambut 1 Muharram. Mereka mengisi hari libur tahun baru Islam dengan pengajian, doa bersama, bakti sosial, serta menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan demi menjaga kerukunan antarumat beragama.
Tinjauan Syariat: Menjaga Batas Antara Budaya dan Akidah
Ragam tradisi di atas memang memperkaya warna kebudayaan bangsa kita. Meski begitu, para ulama mengingatkan agar umat Islam tetap kritis dan berhati-hati supaya tidak tergelincir ke dalam praktik yang merusak akidah.
Peringatan Terhadap Mitos dan Ritual Mistis Dalam buku “Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?”, Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman memberikan catatan penting seputar ritual malam 1 Suro. Beliau mengingatkan bahwa tindakan mencari berkah (ngalap berkah) dari benda pusaka, mengkeramatkan hewan tertentu, hingga memperebutkan kotorannya demi jimat keselamatan termasuk bentuk penyimpangan akidah. Menolak bala dengan menyajikan sesajen (Larung Sesaji) kepada makhluk gaib penguasa alam bertentangan langsung dengan konsep tauhid dalam Islam.
Ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid melalui karyanya “Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram” menegaskan kedudukan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Keistimewaan bulan mulia ini bukan terletak pada ritual diam seribu bahasa atau arak-arakan mistis, melainkan pada anjuran memperbanyak amal saleh.
Berbagai literatur keislaman, termasuk pandangan dari Tim Bimbingan Islam dan ulasan Ustaz Said Yai, meluruskan bahwa ritual yang sarat dengan ratapan kesedihan yang berlebihan bukanlah bagian dari tuntunan yang sahih.
Islam mengajak umatnya untuk menyambut Muharram dengan kesederhanaan, refleksi diri, dan meningkatkan ibadah. Caranya adalah dengan menghidupkan sunah puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram guna meraih ampunan dosa setahun yang lalu. (Tim)






