Britainaja – Masyarakat dunia baru saja menyambut gembira kabar masuknya tempe ke dalam daftar warisan budaya kuliner UNESCO. Semua orang menyukai bahan pangan kebanggaan Indonesia ini karena rasanya yang lezat dan kandungan nutrisinya yang melimpah.
Namun, Anda harus tahu bahwa tidak semua jenis tempe membawa manfaat baik bagi tubuh. Ada satu varian tempe tradisional yang justru menyimpan bahaya fatal: Tempe Bongkrek.
Berbeda dengan tempe kedelai yang menyehatkan, tempe bongkrek justru kerap memicu keracunan massal yang merenggut nyawa.
Apa Itu Tempe Bongkrek?
Kuliner unik ini berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Alih-alih menggunakan kacang kedelai, pembuatnya memanfaatkan ampas kelapa parut sisa pembuatan minyak kelapa. Setelah melalui proses fermentasi, tempe ini akan menghasilkan warna hijau tua yang khas.
Masyarakat lokal sangat menggemari tempe bongkrek karena dua alasan utama: harganya yang sangat murah dan rasanya yang gurih meresap. Sayangnya, di balik kelezatan ekonomis tersebut, ada ancaman racun yang siap menyerang organ tubuh.
Jejak Kelam Sejak Zaman Kolonial Belanda
Catatan sejarah menunjukkan bahwa tempe bongkrek telah memicu petaka sejak ratusan tahun lalu. Ilmuwan asal Belanda, Adolf G. Voderman, mencatat wabah keracunan tempe bongkrek pertama kali pada tahun 1895. Ia menegaskan bahwa makanan ini bisa berujung pada kematian instan.
Kasus ini kembali melonjak tajam pada periode 1931 hingga 1937. Saat itu, depresi ekonomi global melanda Hindia Belanda. Karena kesulitan keuangan, penduduk desa nekat memproduksi tempe bongkrek sendiri di rumah dengan peralatan seadanya. Akibatnya, gelombang keracunan massal pun tak terhindarkan.
Tahukah Anda? Saking melegendanya kisah pilu ini, sastrawan ternama Ahmad Tohari sampai mengabadikannya dalam novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Dalam cerita tersebut, kedua orang tua sang tokoh utama, Srintil, meninggal dunia akibat memakan tempe bongkrek beracun buatan mereka sendiri.
Mengapa Tempe Bongkrek Bisa Beracun?
Rasa penasaran peniliti membuahkan hasil pada tahun 1933. Dua ilmuwan dari Eijkman Institute Batavia, W.K. Mertens dan A.G. van Veen, berhasil mengungkap musuh tak terlihat di dalam makanan ini. Mereka menemukan bakteri berbahaya bernama Pseudomonas cocovenenans.
Bakteri ini memicu pembentukan dua jenis racun mematikan selama proses fermentasi ampas kelapa yang gagal:
-
Asam Bongkrek: Racun berbahaya yang tidak memiliki warna.
-
Toksoflavin: Racun yang memberikan warna kekuningan jelas pada tempe.
Saat masuk ke dalam tubuh manusia, asam bongkrek langsung merusak sistem transportasi gula ke sel darah merah. Lebih parah lagi, racun ini menghentikan metabolisme energi di hati, sehingga korban akan mengalami lonjakan gula darah drastis yang berujung pada kematian fatal.
Angka Kematian yang Mengerikan dan Larangan Pemerintah
Data dari buku Bongkrek Food Poisoning in Java karya Arbiyanto Purwo merekam angka yang mencengangkan. Sepanjang tahun 1951 hingga 1975, racun tempe bongkrek menjangkiti 7.216 orang dan merenggut 850 nyawa di antaranya. Artinya, rata-rata ada 34 orang yang meninggal dunia setiap tahun akibat makanan ini.
Tahun 1975 menjadi puncak bencana kuliner ini, di mana 125 orang meninggal dunia dari total 1.036 korban keracunan.
Melihat dampak fatal yang terus berulang, Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengeluarkan larangan resmi terhadap produksi tempe bongkrek sejak tahun 1962. Namun, keterbatasan ekonomi membuat sebagian warga sembunyi-sembunyi memproduksinya, sehingga kasus keracunan masih terus bermunculan hingga era 1980-an.
Kini, edukasi yang lebih baik membuat tempe bongkrek mulai ditinggalkan, dan masyarakat bisa menikmati kelezatan tempe kedelai yang jauh lebih aman dan kaya nutrisi. (Tim)





