Britainaja – Tragedi yang menimpa seorang selebgram belakangan ini membuka mata publik terhadap fenomena berbahaya yang tengah viral di media sosial. Sorotan utama tertuju pada penyalahgunaan produk whipping cream bermerek Whip Pink, yang secara fungsional merupakan perlengkapan kuliner, namun justru di gunakan secara keliru sebagai alat untuk mendapatkan efek euforia singkat.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Suyudi Ario Seto, memberikan atensi serius terhadap tren ini. Melalui pernyataan di media sosial pribadinya, ia meluruskan persepsi publik bahwa ancaman utamanya bukan terletak pada identitas merek produk tersebut, melainkan pada perilaku penyalahgunaan zat yang terkandung di dalamnya.
Komjen Suyudi menekankan bahwa Whip Pink pada dasarnya adalah produk legal untuk kebutuhan dapur, khususnya dalam pembuatan whipped cream. Di dalam tabung kecil tersebut terdapat gas nitrous oxide (N2O) bertekanan yang berfungsi sebagai pendorong krim. Masalah muncul ketika gas ini sengaja di hirup untuk mencari sensasi “melayang” yang menyerupai efek inhalan.
Saat seseorang menghirup gas tersebut, mekanisme tubuh akan terganggu secara ekstrem. Gas ini akan mendominasi aliran darah dan mengusir oksigen yang seharusnya menuju ke otak dan jantung. Akibatnya, pengguna bisa kehilangan kesadaran seketika atau kolaps tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya.
Bahaya laten dari tren ini sering kali terabaikan karena produknya mudah didapatkan secara legal dan tidak terlihat seperti narkoba konvensional. Masyarakat cenderung menganggap remeh risikonya hanya karena efek awalnya terasa ringan. Komjen Suyudi mengingatkan bahwa status legal sebuah produk bukan jaminan keamanan jika fungsinya diselewengkan.
Mengapa Nitrous Oxide Begitu Mematikan?
Secara medis, nitrous oxide sebenarnya digunakan dalam dunia kedokteran sebagai obat bius atau anestesi ringan. Namun, penggunaannya harus di bawah pengawasan ketat tenaga profesional dengan komposisi oksigen yang seimbang. Ketika gas ini dihirup langsung dari tabung whippets secara murni, konsentrasi gas yang masuk ke paru-paru sangat tinggi.
Kekurangan oksigen kronis pada otak (hipoksia) akibat gas ini dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen, kejang, hingga gagal jantung. Dalam jangka panjang, penyalahgunaan inhalan jenis ini juga berisiko merusak sumsum tulang belakang dan menyebabkan kelumpuhan karena gangguan pada metabolisme vitamin B12 di dalam tubuh.
Penting bagi orang tua dan lingkungan sosial untuk lebih peka terhadap kepemilikan tabung gas kecil (chargers) di kalangan remaja. Edukasi mengenai fungsi asli produk kuliner harus diperkuat agar masyarakat tidak menormalisasi tindakan berisiko hanya demi mengikuti tren media sosial yang mengancam nyawa. (Tim)















