Danau Kerinci Menyusut: Nasib Nelayan Terhimpit dan DPRD Segera Panggil Pengelola PLTA

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Danau Kerinci Menyusut: Nasib Nelayan Terhimpit dan DPRD Segera Panggil Pengelola PLTA (Foto: klikinaja)

Danau Kerinci Menyusut: Nasib Nelayan Terhimpit dan DPRD Segera Panggil Pengelola PLTA (Foto: klikinaja)

Britainaja – Kondisi Danau Kerinci saat ini tengah berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Penurunan debit air yang sangat signifikan tidak lagi hanya menjadi pemandangan alam, melainkan ancaman serius bagi kelangsungan hidup warga lokal. Para nelayan tradisional yang selama puluhan tahun menggantungkan nasib di perairan ini kini berada di ambang krisis pendapatan akibat menyusutnya ruang tangkap dan perubahan perilaku habitat ikan.

Fenomena air surut ini memaksa para nelayan bekerja ekstra keras. Jalur perahu yang kian dangkal membuat akses menuju area tangkapan menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, populasi ikan terpantau mulai berpindah mencari kedalaman yang lebih ideal, membuat jaring-jaring nelayan lebih sering kosong di bandingkan biasanya. Jika kondisi ini terus di biarkan tanpa penanganan, Danau Kerinci terancam kehilangan fungsi ekologis dan ekonominya.

Camat Danau Kerinci, Majazi, mengungkapkan bahwa situasi ini sudah sangat mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga nelayan. Waktu yang di butuhkan untuk melaut kini menjadi jauh lebih panjang, namun hasil yang di dapat justru terus merosot. Pihaknya mengaku terus memantau perkembangan di lapangan melalui forum nelayan guna merumuskan solusi bantuan darurat bagi mereka yang terdampak paling parah.

Baca Juga :  7 Destinasi Wisata Hits di Palangkaraya Kalimantan Tengah

Di sisi lain, spekulasi mengenai penyebab pasti menyusutnya air danau masih terus bergulir. Camat Bukit Kerman, Adi Putra, menekankan pentingnya investigasi menyeluruh untuk melihat apakah fenomena ini murni akibat faktor cuaca dan sedimentasi, atau ada campur tangan aktivitas manusia. Kehati-hatian dalam menentukan penyebab sangat di perlukan agar kebijakan pemerintah daerah nantinya tidak salah sasaran.

Merespons keresahan masyarakat, DPRD Kabupaten Kerinci mengambil langkah cepat. Lembaga legislatif ini menjadwalkan pemanggilan resmi terhadap pihak pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) setempat. Pertemuan ini bertujuan untuk meminta klarifikasi mengenai kaitan operasional perusahaan dengan menurunnya debit air danau yang terjadi belakangan ini.

Wakil Ketua DPRD Kerinci, Surmila Apri Yulisa, menegaskan bahwa rapat gabungan komisi akan di gelar pada Selasa, 3 Februari 2026. Forum tersebut di harapkan menjadi wadah dialog antara pemerintah, pengusaha, dan perwakilan nelayan. Fokus utamanya adalah mencari titik temu agar kebutuhan energi melalui PLTA tidak mengorbankan kelestarian lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat lokal.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Hari Ini, 30 Oktober 2025: Kompak Turun di Semua Kadar

Keseimbangan Ekosistem dan Ketahanan Pangan

Kasus Danau Kerinci merupakan potret nyata konflik pemanfaatan sumber daya air di Indonesia. Sebagai salah satu aset ekologis terbesar di Provinsi Jambi, Danau Kerinci memegang peran ganda sebagai sumber energi dan lumbung pangan lokal. Ketika salah satu fungsi mendominasi secara tidak terkontrol, ekosistem akan memberikan reaksi negatif yang dampaknya langsung di rasakan oleh strata masyarakat terbawah, yakni nelayan.

Saran saya, pemerintah tidak boleh hanya fokus pada mitigasi dampak ekonomi, tetapi juga harus memulai proyek normalisasi dan penghijauan di hulu sungai yang mengaliri danau. Sedimentasi yang parah sering kali menjadi “pencuri” volume air yang tidak terlihat. Selain itu, transparansi dari pihak pengelola PLTA mengenai penggunaan debit air harian sangat krusial untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan Danau Kerinci tetap lestari bagi generasi mendatang. (Tim)

Berita Terkait

Warga Sungai Penuh Keluhkan Tarif Parkir, Tak Sesuai Perda yang Berlaku
Lacak Dana Rp143 Miliar Bank Jambi: Rp19 Miliar Mengalir ke Aset Kripto
Sempat Ambruk, Jalur Puncak Sungai Penuh-Tapan Kini Kembali Bisa Dilalui Kendaraan
Kulit Kopi hingga Daun Nanas Jambi Kini Jadi Rebutan Pasar Global
Monadi dan Al Haris Tinjau Pintu Air PLTA di Desa Sangir
Monadi Pimpin Gerakan Indonesia ASRI 2026 di Kayu Aro Barat
Gubernur Al Haris Setujui THR Rp1 Juta untuk PPPK Paruh Waktu di Jambi
Target Rampung Sebelum Lebaran, Gudang Koperasi Merah Putih Siap Jadi Motor Ekonomi Baru Sungai Penuh
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:00 WIB

Warga Sungai Penuh Keluhkan Tarif Parkir, Tak Sesuai Perda yang Berlaku

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:51 WIB

Lacak Dana Rp143 Miliar Bank Jambi: Rp19 Miliar Mengalir ke Aset Kripto

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:03 WIB

Sempat Ambruk, Jalur Puncak Sungai Penuh-Tapan Kini Kembali Bisa Dilalui Kendaraan

Selasa, 10 Maret 2026 - 13:00 WIB

Kulit Kopi hingga Daun Nanas Jambi Kini Jadi Rebutan Pasar Global

Senin, 9 Maret 2026 - 11:00 WIB

Monadi dan Al Haris Tinjau Pintu Air PLTA di Desa Sangir

Berita Terbaru

Ilustrasi Suasana Mudik Lebaran. Gemini AI

Khasanah

Bolehkah Berpuasa Saat Mudik? Ini Panduan Fikih Lengkap

Sabtu, 14 Mar 2026 - 12:00 WIB