“Nata Sukma”: Sebuah Panggung Kritik dan Imajinasi dalam Pentas Teater

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 Mei 2025 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Britainaja – Sebuah pertunjukan teater yang disuguhkan oleh Tim Produksi Nata Sukma dalam lakon bertajuk “Nata Sukma” digelar di panggung pertunjukan Taman budaya Jambi, Sabtu 26 April 2025. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan panggung biasa. Ia hadir sebagai ruang kontemplasi, tempat di mana seni berbicara tentang luka sejarah, kekuasaan yang menindas, serta pencarian jati diri sebuah bangsa melalui ekspresi tubuh, cahaya, suara, dan simbol-simbol teatrikal yang sarat makna.

Disutradarai oleh Tatang R. Macan, Nata Sukma memanfaatkan teater sebagai medium kritik dan imajinasi. Cerita tidak dibangun melalui alur linier dan dialog panjang seperti teater realis pada umumnya. Sebaliknya, ia memadukan ekspresi non verbal, gerak koreografis, visual panggung, dan atmosfir bunyi untuk menyampaikan gagasan kompleks tentang perebutan kekuasaan atas tanah dan manusia, tema yang terus relevan hingga hari ini.

Latar cerita disusun dalam dunia fiksi bernama Nata Sukma, yang menggambarkan negeri penuh konflik. Namun, simbol-simbol dan peristiwa yang dihadirkan begitu dekat dengan sejarah bangsa kita sendiri.

Di balik suasana surealis dan artistik, terselip gambaran tentang kolonialisme, manipulasi kekuasaan, konflik internal, serta perlawanan akar rumput yang perlahan tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Tanpa harus menyebutkan nama-nama negara atau tokoh sejarah secara eksplisit, pertunjukan ini berhasil menyentil realita yang pernah (dan masih) terjadi di berbagai belahan dunia.

Set panggung ditata dengan minimalis, tetapi simboliknya sangat kuat. Gerbang tinggi menjulang menjadi simbol kekuasaan yang menindas; gelap terang lampu menjadi metafora dari pergeseran kekuatan dan arah perjuangan; dan musik yang menggema memberi warna emosi yang tak terucap oleh kata-kata. Kostum para pemain pun tidak hanya menjadi pelengkap karakter, tetapi menjadi elemen penanda kelas sosial, watak, dan situasi emosional tokoh-tokoh dalam narasi.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Naik Oktober 2025, Ini Rinciannya di Tiap Daerah

Keunikan lainnya terletak pada bagaimana tubuh para pemain digunakan sebagai alat utama bercerita. Dalam Nata Sukma, tubuh bukan hanya bergerak, melainkan berbicara. Setiap gestur, hentakan kaki, tatapan mata, dan jatuhnya tubuh ke lantai membawa beban makna.

Bahasa tubuh menjadi lebih dominan ketimbang ujaran, menghadirkan kedalaman artistik yang kuat. Di sinilah terlihat keberhasilan sang sutradara dalam memaksimalkan potensi aktor dan ruang.

Keterlibatan banyak pihak dalam produksi ini menunjukkan kekuatan kolaborasi antar-disiplin seni. Mulai dari penata cahaya, penata musik, perancang kostum, hingga tim dokumentasi, semuanya berperan penting dalam membentuk pertunjukan yang utuh.

Kehadiran para pemain muda dari ISI Padangpanjang, yang berani mengeksplorasi batas-batas tradisi dan modernitas, menjadi angin segar dalam dunia pertunjukan di Indonesia. Ini membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya mampu mengolah isu-isu besar secara artistik, tetapi juga mampu mempresentasikannya dengan penuh tanggung jawab estetika dan intelektual.

Sutradara Tatang R. Macan, yang dikenal dengan pendekatan teatrikal yang eksperimental dan kontekstual, mengungkapkan bahwa Nata Sukma lahir dari keresahan kolektif tim produksi terhadap situasi sosial-politik hari ini.

Baca Juga :  Menari, Menyatukan Gerak Tubuh dan Jiwa yang Tangguh

“Kita hidup di dunia yang penuh propaganda dan pengulangan sejarah kekuasaan. Lewat teater, kami ingin mengganggu kenyamanan itu,” ujar Tatang usai pertunjukan.

Ia menambahkan, Nata Sukma bukan hanya pentas pertunjukan, tetapi sebuah bentuk perlawanan melalui ekspresi kesenian.

Respons penonton terhadap pertunjukan ini pun luar biasa. Aula teater Taman Budaya Jambi dipenuhi penonton dari berbagai kalangan – mahasiswa, seniman, akademisi, hingga masyarakat umum. Tidak sedikit yang memberikan apresiasi berupa tepuk tangan panjang dan komentar mendalam setelah pementasan usai. Beberapa penonton bahkan menyebut pertunjukan ini sebagai salah satu karya paling berani dan reflektif yang pernah mereka saksikan di panggung teater lokal.

Selain itu, Nata Sukma juga menjadi bukti bahwa teater masih menjadi medium penting dalam menyuarakan kegelisahan sosial, memperkuat identitas budaya, dan membangun dialog lintas generasi. Di tengah derasnya arus digital dan hiburan instan, kehadiran pertunjukan seperti ini seolah mengingatkan kita bahwa seni pertunjukan tetap memiliki daya untuk menyentuh batin, membangun empati, dan menggugah kesadaran kolektif.

Sebagai catatan akhir, Nata Sukma adalah wujud keberanian. Ia berani menampilkan yang tak populer, menyentuh luka lama, dan mengajak kita berpikir ulang tentang siapa yang memegang kuasa, dan siapa yang selama ini dikorbankan. Lebih dari sekadar pentas seni, Nata Sukma adalah pernyataan—bahwa seni, bila dikelola dengan niat yang jujur dan proses yang mendalam, bisa menjadi cermin tajam bagi masyarakat dan zamannya. (Wd)

Berita Terkait

Mengenal Rumah Gadang, Ikon Budaya Minangkabau dan Ragam Jenisnya
Rumah Larik Dusun Baru Sungai Penuh: Menjaga Ukiran Leluhur di Jantung Kota
Grand Egyptian Museum Resmi Dibuka di Giza
Daftar Raja Mataram yang Dimakamkan di Kompleks Imogiri
Mak Itam Kembali Berasap, Sawahlunto Hidupkan Lagi Warisan Kereta Api Legendaris
17 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Kebudayaan Nasional, Ini Makna dan Sejarahnya
Mengulik Sejarah Keraton Jogja: Simbol Kejayaan Budaya Jawa yang Tetap Hidup
Dua Tradisi Asli Buleleng Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda 2025
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Desember 2025 - 12:00 WIB

Mengenal Rumah Gadang, Ikon Budaya Minangkabau dan Ragam Jenisnya

Rabu, 3 Desember 2025 - 11:00 WIB

Rumah Larik Dusun Baru Sungai Penuh: Menjaga Ukiran Leluhur di Jantung Kota

Kamis, 6 November 2025 - 09:30 WIB

Grand Egyptian Museum Resmi Dibuka di Giza

Rabu, 5 November 2025 - 22:00 WIB

Daftar Raja Mataram yang Dimakamkan di Kompleks Imogiri

Minggu, 19 Oktober 2025 - 05:27 WIB

Mak Itam Kembali Berasap, Sawahlunto Hidupkan Lagi Warisan Kereta Api Legendaris

Berita Terbaru