Menurut Dyah Pitaloka Putri Sutanto, pemerhati kesehatan mental berbasis budaya dari UGM mengatakan, menari merupakan bahasa tubuh universal yang bisa menumbuhkan empati, ketahanan, dan kebahagiaan. Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, membiasakan diri untuk menari dapat menjadi fondasi dalam membentuk pribadi yang sehat secara emosional dan siap menghadapi tantangan.
“Ketika kamu merasa suntuk atau kehilangan semangat, cobalah putar musik kesukaanmu dan biarkan tubuhmu menari bebas. Rasakan bagaimana perasaanmu mulai membaik,” ujar Dyah.
Dalam dunia psikoterapi, ada pendekatan bernama Dance Movement Therapy (DMT), yang memanfaatkan gerakan sebagai sarana untuk menyelaraskan pikiran dan tubuh. Menurut American Dance Therapy Association, terapi ini membantu seseorang menjadi lebih sadar akan perasaan dan kebutuhannya sendiri.
Otak kita, ketika menari, akan melibatkan area motorik, sistem limbik (pusat emosi), dan prefrontal cortex (pengambilan keputusan). Aktivasi ini memperkuat konektivitas mental, mengasah kontrol diri, dan memperbaiki kemampuan berpikir jernih.
Tak hanya itu, tarian juga mampu mempererat hubungan sosial. Dalam sebuah penelitian di Frontiers in Psychology tahun 2020, ditemukan bahwa mereka yang rutin menari mengalami peningkatan kreativitas, keterhubungan sosial, dan empati yang lebih tinggi. Saat kita berdansa bersama orang lain, kita belajar memahami ritme, perasaan, dan energi mereka. Ini menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















