Britainaja – Pasar keuangan domestik kini berada dalam pengawasan ketat setelah nilai tukar Rupiah menunjukkan volatilitas yang cukup ekstrem.
Meski pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026) Rupiah berhasil menguat 0,33% ke level Rp 17.229, namun bayang-bayang tekanan masih menghantui sepanjang pekan.
Sebelumnya, mata uang Garuda sempat mencetak rekor terlemah sepanjang masa (All Time High) pada Kamis lalu dengan menyentuh angka Rp 17.310 per dolar AS.
Pasar Keuangan Mulai Merasakan “Stres”
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pelemahan ini bukan lagi sekadar fluktuasi harian. Menurutnya, angka tersebut merupakan sinyal stres di pasar yang berdampak langsung pada berbagai sektor:
-
Pasar Obligasi: Investor asing kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi. Hal ini memicu kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan menekan harga obligasi.
-
Pasar Saham: Emiten yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki utang valas kini berada dalam posisi sulit.
-
Likuiditas: Ada risiko pengetatan likuiditas karena investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset dolar AS sebagai lindung nilai.
“Pasar keuangan tidak lagi menghadapi koreksi biasa, melainkan fase penyesuaian valuasi yang jauh lebih berat,” ungkap Syafruddin.
Penyebab Utama: Konflik Global dan Faktor Internal
Mengapa Rupiah tertekan begitu dalam? Syafruddin menyoroti dua faktor utama yang saling berkaitan:
-
Ketegangan di Selat Hormuz: Konflik geopolitik ini mengganggu pasokan energi global dan melambungkan harga minyak. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai aset penyelamat (safe haven).
-
Kondisi Domestik: Rupiah ternyata melemah lebih dalam ketimbang mata uang regional seperti Ringgit Malaysia atau Baht Thailand. Hal ini mengindikasikan bahwa investor sedang menyoroti kredibilitas kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan di dalam negeri.
Langkah Penyelamatan dari Otoritas Moneter
Bank Indonesia (BI) tetap memiliki ruang untuk meredam guncangan ini. Intervensi terukur di pasar valuta asing dan obligasi menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas. Namun, langkah BI akan jauh lebih efektif jika pemerintah juga menunjukkan disiplin fiskal yang kuat serta komunikasi kebijakan yang transparan.
Syafruddin mengingatkan bahwa tren pelemahan ini masih mungkin berlanjut. Fokus utama pemerintah dan otoritas moneter saat ini bukan sekadar menebak angka terendah, melainkan menjaga agar depresiasi ini tidak berubah menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas. (Tim)






