Britainaja – Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan mengenang ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, sejarah agung ini menyimpan satu nama yang menjadi pilar penting dalam setiap ritual haji: Siti Hajar.
Ia adalah sosok perempuan yang keteguhan imannya melampaui batas logika manusia, memberikan warna mendalam pada makna pengorbanan yang sesungguhnya.
Kepercayaan Total di Lembah Tak Bertuan
Kisah bermula saat Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayinya, Ismail, ke sebuah lembah tandus yang kini kita kenal sebagai Mekkah. Bayangkan sebuah tempat tanpa sumber air, tanpa tanaman, dan tanpa tanda-tanda kehidupan.
Saat Ibrahim bersiap melangkah pergi, Siti Hajar mengajukan satu pertanyaan kunci: “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ketika Ibrahim menjawab “Ya,” Siti Hajar menjawab dengan tenang, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.” Kalimat ini menunjukkan level tawakal yang luar biasa. Ia mengajarkan kita bahwa iman bukan hanya teori di lisan, melainkan keberanian untuk melangkah di tengah ketidakpastian total.
Sa’i: Manifestasi Cinta dan Ikhtiar Seorang Ibu
Pelajaran paling berharga dari Siti Hajar muncul saat persediaan air habis. Isak tangis Ismail kecil memacu naluri keibuannya. Ia berlari bolak-balik antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
Tindakan ini bukan sekadar aktivitas fisik. Ini adalah simbol ikhtiar maksimal seorang manusia. Allah membalas kegigihan itu dengan mukjizat Air Zamzam yang memancar dari hentakan kaki Ismail.
Hingga hari ini, jutaan jemaah haji melakukan ritual Sa’i untuk mengenang jejak langkah kaki seorang perempuan. Islam mengabadikan perjuangan Siti Hajar sebagai rukun ibadah yang setara bagi pria maupun wanita, menegaskan betapa mulianya peran perempuan dalam sejarah spiritual.
Penerimaan Tertinggi dalam Sunyi
Saat ujian berikutnya datang—perintah penyembelihan Ismail—Siti Hajar kembali menunjukkan kelasnya. Meski Al-Qur’an memfokuskan narasi pada dialog ayah dan anak, diamnya Siti Hajar adalah bentuk dukungan spiritual yang kokoh.
Ia tidak menghalangi perintah Tuhannya. Pengalamannya bertahan hidup di gurun telah menanamkan keyakinan bahwa setiap perintah Allah selalu membawa hikmah besar. Kesabarannya menjadi ruang teduh bagi Ibrahim dan Ismail untuk menjalankan tugas kenabian mereka.
Inspirasi bagi Muslimah Modern
Siti Hajar adalah “madrasah pertama” yang membentuk karakter Ismail. Perannya membuktikan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk membangun peradaban, bahkan dari titik nol.
Di era modern, tantangan perempuan memang berubah. Kita tidak lagi berhadapan dengan gurun pasir, melainkan tekanan sosial, kompleksitas informasi, dan dinamika karier serta keluarga. Namun, prinsip Siti Hajar tetap relevan:
-
Iman sebagai kompas kehidupan.
-
Ilmu dan Ikhtiar sebagai cara bertahan hidup.
-
Keteguhan dalam menghadapi setiap ujian.
Siti Hajar mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu tentang apa yang dilepaskan, tetapi tentang apa yang kita bangun melalui keikhlasan. Ia bukan sekadar pelengkap sejarah; ia adalah penggerak perubahan yang menghadirkan cahaya di tengah kegelapan lembah sunyi.
Idul Adha adalah perayaan kolektif tentang cinta dan kepatuhan. Di dalamnya, jejak Siti Hajar tetap abadi, mengingatkan kita bahwa kekuatan seorang perempuan yang beriman mampu mengguncang dunia dan meninggalkan warisan yang mengalir selamanya, layaknya air Zamzam. (Tim)






