Britainaja – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menghadapi tantangan serius yang melampaui urusan distribusi. Di balik ambisinya untuk meningkatkan gizi nasional, bayang-bayang limbah makanan atau food waste justru memicu kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat angka yang cukup mengejutkan. Berdasarkan kajian Bappenas 2024, potensi sisa makanan dari program ini berada pada rentang 1,1 juta hingga 1,4 juta ton per tahun.
“Estimasi potensi sisa pangan di sekolah mencapai angka tersebut,” ujar Plt. Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy.
Ironisnya, sebagian besar makanan yang tersisa tersebut sebenarnya masih layak konsumsi. Data menunjukkan sekitar 451.000 hingga 603.000 ton merupakan edible food waste. Jumlah ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk membantu masyarakat lain yang masih kekurangan pangan jika pengelolaannya tepat.
Keresahan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Isnawati Hidayah, mengonfirmasi bahwa fenomena makanan terbuang sudah mulai terlihat di lapangan. Banyak orang tua murid melaporkan bahwa anak-anak mereka tidak menghabiskan makanan tersebut.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa evaluasi, kerugian negara bisa membengkak drastis. Isnawati menjelaskan bahwa asumsi penolakan maksimal dari peserta program ini bisa menyebabkan kerugian hingga Rp1,27 triliun setiap minggunya.
“Dalam satu bulan, angka itu bisa menyentuh Rp5,08 triliun, dan dalam setahun berisiko menembus Rp66,04 triliun,” tambahnya.
Kini, pemerintah memikul tanggung jawab besar untuk memastikan program ini tidak sekadar menjadi ajang pemborosan anggaran. Masyarakat menantikan langkah konkret agar setiap butir nasi dan lauk pauk dalam program MBG benar-benar masuk ke perut yang membutuhkan, bukan berakhir di tempat sampah. (Tim)






