Britainaja – Setelah Lebaran 2026, banyak orang ingin memulai usaha baru untuk menambah penghasilan. Namun, kendala modal sering menghentikan niat ini. Biaya sewa, stok barang, promosi, hingga risiko rugi membuat sebagian orang ragu.
Di sisi lain, dunia kerja kini lebih dinamis. Pilihan karier tidak lagi terbatas pada jam kerja kaku atau struktur organisasi konvensional. Banyak orang mencari fleksibilitas sekaligus peluang pertumbuhan. Contohnya, Raka Rosadi Putra, Agency Builder di Prudential Syariah, memilih profesi yang minim risiko tapi tetap berpotensi menghasilkan.
“Saya cari peluang dengan risiko rendah tapi tetap menguntungkan. Prudential Syariah awalnya pilihan terakhir, tapi ternyata paling ideal,” ujar Raka.
Indonesia punya modal demografi besar. Generasi Z sekitar 74,93 juta dan milenial 69,38 juta, lebih dari separuh penduduk berada di usia produktif. Pemerintah mendorong peningkatan rasio kewirausahaan, yang kini mencapai 3,29% pada 2025, tapi masih perlu dorongan lebih agar masyarakat berani memulai usaha.
Fleksibel dan Minim Modal
Profesi tenaga pemasar banyak diminati karena fleksibel dan berpotensi tumbuh. Mereka membangun jaringan, menyusun target, dan mengatur waktu sendiri. Di industri asuransi, tenaga pemasar tak hanya menjual produk, tetapi membantu masyarakat memahami perencanaan keuangan dan membuat keputusan finansial penting.
Literasi keuangan syariah masih rendah: indeks literasi 43,42% dan inklusi 13,41% (SNLIK 2024). Artinya, masyarakat membutuhkan pendampingan untuk lebih percaya diri memilih solusi keuangan. Tenaga pemasar yang profesional memainkan peran penting, bukan sekadar menjual, tapi juga memberi dampak nyata.
Prestasi dan Dampak Nyata
Peluang tenaga pemasar terbukti lewat penghargaan dan prestasi industri. Karier ini menawarkan jalur pengembangan jelas, dari pembekalan, peningkatan kapasitas, hingga peluang berprestasi.
Raka menekuni profesi ini sejak 2022, menangani klaim hingga miliaran rupiah, termasuk klaim Rp500 juta. Ia menekankan, sukses di bidang ini bukan soal modal besar, tapi konsistensi belajar, membangun jaringan, dan disiplin waktu.
“Tanya dulu, punya mimpi atau tidak, dan mau capainya bagaimana. Kalau ragu, kosongkan gelas—giat belajar dan lihat peluang dari sudut pandang baru,” pesan Raka.
Mulai usaha sebagai tenaga pemasar berarti memulai sekarang, dengan modal utama: kerja cerdas, konsisten, dan fokus pada kebutuhan orang lain. (Tim)















