Britainaja – Harga emas dunia justru mengalami tekanan tajam meski ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terus meningkat. Biasanya, situasi konflik mendorong investor mencari aset aman seperti emas, namun kondisi kali ini menunjukkan sebaliknya.
Mengutip data dari Marketwatch, kontrak emas aktif di Comex untuk pengiriman April 2026 ditutup melemah 0,7 persen atau turun 30,80 dolar AS ke level 4.574,90 dolar AS per ounce pada Jumat (20/3/2026). Dalam skala mingguan, harga emas anjlok 9,5 persen, yang menjadi penurunan terbesar sejak September 2011 berdasarkan data dari Dow Jones Market Data.
Tekanan Makro Lebih Dominan
Aakash Doshi dari State Street Investment Management menjelaskan bahwa konflik Iran memang menambah ketidakpastian global. Namun, tekanan dari faktor ekonomi global justru lebih kuat dan menahan kenaikan harga emas.
Salah satu faktor utama datang dari ekspektasi kebijakan suku bunga. Pasar mulai melihat peluang bahwa Federal Reserve akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi ini membuat investor beralih dari emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, penguatan dolar AS juga ikut menekan harga emas. Saat dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri sehingga permintaan global ikut melemah.
Sentimen Investor Melemah
Rob Haworth dari US Bank Asset Management menilai minimnya momentum kenaikan harga membuat sentimen investor menurun. Kenaikan suku bunga juga meningkatkan biaya peluang, sehingga emas kurang menarik dibanding aset berbunga.
Di sisi lain, investor juga melakukan aksi ambil untung setelah emas mencatat performa kuat sebelumnya. Dalam kondisi pasar bergejolak, banyak investor menggunakan emas sebagai sumber likuiditas untuk menutup kerugian di aset lain.
Aksi Jual dan Tekanan Pasar
Adrian Ash dari BullionVault menyebut pasar saat ini berada dalam fase kepanikan. Investor melepas aset untuk memenuhi margin call dan mengurangi risiko akibat volatilitas tinggi.
Ia juga menyoroti perubahan ekspektasi suku bunga AS serta lonjakan indikator risiko pasar yang mendorong aksi jual lebih luas. Emas yang sebelumnya mencatat kenaikan tahunan kuat kini justru menjadi sumber dana cepat bagi investor.
Perak Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Perak juga mengalami penurunan tajam lebih dari 14 persen dalam sepekan dan ditutup di level 69,66 dolar AS per ounce. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar bersifat luas dan tidak terbatas pada satu komoditas saja.
Penurunan harga emas saat konflik geopolitik menunjukkan bahwa faktor makroekonomi, suku bunga, dan likuiditas pasar saat ini lebih dominan dibanding fungsi emas sebagai aset safe haven. Investor kini lebih fokus pada kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, dan kebutuhan likuiditas dalam menghadapi volatilitas global. (Tim)













