Wisata Religi: Menelusuri Jejak Masjid Tertua di Nusantara

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 1 Oktober 2025 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: storydiup)

(Foto: storydiup)

Britainaja – Indonesia, negeri yang dikenal dengan kebinekaan budaya dan agama, menyimpan warisan arsitektur religius sejak ratusan tahun silam. Di antara warisan itu, masjid-masjid kuno yang sebagian masih aktif digunakan,  menjadi saksi sejarah perjalanan Islam di Nusantara. Menelusuri masjid tertua di Nusantara bukan sekadar wisata religius; ia mengajak kita melihat akar sejarah, keragaman budaya, dan proses akulturasi Islam-lokal yang terjadi di berbagai penjuru kepulauan.

Dari pesisir Maluku hingga pulau Jawa, kita bisa menemukan masjid-masjid yang telah menyentuh usia ratusan tahun, mempertahankan bentuk aslinya meski melalui renovasi. Artikel ini akan membahas beberapa masjid tertua di Nusantara secara lebih mendalam: sejarah, arsitektur, artefak, serta relevansinya sebagai destinasi wisata religi.

Sejarah Islam di Nusantara & Peran Masjid Kuno

Sebelum membahas masjid secara spesifik, penting dipahami latar belakang masuknya Islam ke Nusantara. Islam tiba di nusantara melalui jalur perdagangan maritim, para pedagang dari Arab, Gujarat, Benggala, dan wilayah lainnya berlayar ke kepulauan Indonesia sejak abad ke-13 hingga ke-15. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga membawa agama dan budaya. Meski proses Islamisasi berlangsung secara bertahap dan lokal (melalui pernikahan, dakwah ulama lokal, akulturasi), jejak awalnya dapat dibaca lewat masjid-masjid kuno yang berdiri di wilayah pesisir dan jalur perdagangan.

Masjid tua banyak dibangun di pusat-pusat perdagangan, pelabuhan lama, atau kerajaan Islam awal. Arsitekturnya sering memadukan elemen lokal (atap tradisional, material kayu atau pelepah sagu, teknik anyaman) dan unsur dari budaya Timur Tengah, Gujarat, atau Melayu. Keunikan inilah yang membuat masjid-masjid tua memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.

Beberapa Masjid Tertua di Nusantara

Berikut pilihan masjid-masjid yang dianggap sebagai yang tertua, disertai data sejarah, arsitektur, artefak, dan kisahnya:

Masjid Tua Wapauwe, Maluku (1414 M)

Masjid Tua Wapauwe, Maluku
Masjid Tua Wapauwe, Maluku (Foto: storydiup)

Masjid Wapauwe berada di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Ia dibangun pada tahun 1414 Masehi oleh seorang mubaligh bernama Perdana Jamilu, keturunan dari Kesultanan Jailolo (Maluku Utara).

Awalnya, masjid berdiri di kampung Wawane (sekitar 6 km dari lokasi saat ini). Karena kondisi politik atau tekanan kolonial Belanda, pada tahun 1614 masjid tersebut dipindahkan secara kolektif oleh masyarakat ke negeri Tehala (kini Kaitetu). Dalam proses pemindahanlah nama “Wapauwe” muncul dari bahasa lokal “wapa” (mango liar) dan “uwe” (pohon) sebagai simbol lokasi baru.

Arsitektur dan Konstruksi

  • Masjid ini didirikan tanpa menggunakan paku – sambungan kayu menggunakan pasak dan ikatan tali (gamuttu).

  • Dinding awalnya dari gaba-gaba (anyaman pelepah sagu) dan sebagian campuran kapur.

  • Atap tradisional menggunakan rumbia atau daun pohon lokal yang dipasang bertumpang. Renovasi dilakukan berkali-kali, namun bentuk asli tetap dijaga.

  • Penambahan serambi dan penguatan lantai terjadi pada renovasi 1895, dengan penggunaan beton dan pondasi batu pada bagian bawah, tanpa mengubah tampilan asli.

Artefak & Koleksi Bersejarah
Masjid Wapauwe menyimpan banyak benda kuno, termasuk manuskrip Al-Qur’an tulisan tangan (misalnya karya Imam Muhammad Arikulapessy), kitab-kitab Islam klasik (Barzanzi dan lainnya), kalender Islam kuno (tahun 1407 M), timbangan zakat, lampu tembaga, alat pembakaran kemenyan (ohi), dan keramik lama.

Baca Juga :  Menpar Tanggapi Kebijakan Tump, Pariwisata Jadi Andalan Hadapi Tekanan Global

Manuskrip tertua yang tersimpan di Wapauwe diyakini selesai ditulis pada tahun 1550 M tanpa iluminasi (hias pinggir).

Makna dan Relevansi
Wapauwe adalah simbol dakwah Islam di Indonesia timur. Meski berada jauh dari pusat kerajaan Islam di Jawa, masjid ini menjadi saksi bahwa Islam menyebar lebih merata, tidak hanya di pulau Jawa. Karena usianya yang sudah lebih dari enam abad, Wapauwe menjadi destinasi penting bagi wisata religi dan penelitian sejarah Islam Maluku.

Masjid Agung Demak, Jawa Tengah (Abad ke-15 / 1466 M)

Masjid Agung Demak, Jawa Tengah
Masjid Agung Demak, Jawa Tengah (Foto: Kompas)

Masjid Agung Demak sering dianggap sebagai masjid tertua sekaligus pusat aktivitas Islam di Jawa. Ia didirikan oleh Raden Patah bersama para Wali Songo pada abad ke-15. Meskipun ada versi tradisi yang menyebut pembangunan selesai dalam satu malam, catatan sejarah menyebut konstruksi awal pada tahun 1466 M (1388 Saka) dan beberapa renovasi berikutnya.

Menurut dokumen masjid dan sumber resmi, renovasi dan penyesuaian dilakukan berkali-kali, tetapi bangunan inti masih mempertahankan gaya tradisional.

Arsitektur & Struktur

  • Luas lahan: sekitar 12.592 m², luas bangunan induk 537 m².

  • Pondasi dan struktur ditopang oleh 4 tiang utama (soko guru) dan tiang keliling, tiang penyangga serambi, serta soko Majapahit (8 buah) di serambi.

  • Atap utama menggunakan model tumpang tiga (tajug bertingkat tiga), sedangkan serambi memakai atap limasan.

  • Pintu utama bernama Pintu Bledeg, berada di tengah bangunan, dengan ukiran khas tumbuhan dan naga.

  • Ada satu tiang unik yang disebut saka tatal, letaknya di sisi timur laut. Menurut legenda, tiang ini dibuat dari serpihan kayu yang dirangkai dan diikat oleh Sunan Kalijaga sehingga menjadi satu tiang padat.

  • Arsitektur masjid mencerminkan perpaduan gaya Jawa tradisional dengan pengaruh Majapahit dan Hindu-Buddha, tanpa kubah besar yang biasa dijumpai di masjid-masjid modern.

Fungsi Religi dan Sosial

  • Masjid Agung Demak sejak awal bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat kegiatan dakwah, pendidikan, musyawarah ulama, dan ziarah.

  • Kompleks masjid juga memiliki museum yang menyimpan koleksi benda-benda historis terkait masjid dan dakwah Islam Jawa.

  • Sebagai situs cagar budaya nasional, masjid ini dijaga pelestariannya agar elemen asli tetap terjaga.

  • Masjid ini menjadi simbol penting dalam identitas keagamaan Jawa. Dalam berbagai catatan, mengunjungi Demak dan ziarah ke makam tokoh di sekitarnya dianggap sebagai tindakan spiritual yang mendalam.

Masjid Tua Lainnya

Selain dua masjid di atas, ada beberapa masjid kuno lain yang patut diperhatikan di Nusantara, walau usianya tidak selalu lebih tua secara absolut. Beberapa contohnya:

Baca Juga :  Wisata Religi Masjid Agung Pondok Tinggi: Jejak Sejarah Islam dan Warisan Budaya Kerinci di Kota Sungai Penuh

Karena riset sejarah setiap masjid memerlukan sumber lokal yang mendalam, data kuantitatif atau dokumen primer untuk masjid-masjid ini tidak semua tersedia dalam literatur daring umum. Namun, mereka tetap menjadi bagian warisan masjid kuno Nusantara yang menarik untuk ditelusuri dalam wisata religi lanjutan.

Menyusun Rute Wisata Religi: Panduan Praktis

Berikut langkah yang bisa Anda gunakan untuk merangkai perjalanan wisata religi ke masjid-masjid kuno:

  1. Tentukan wilayah geografis

    • Wilayah timur: Mulai dari Maluku (Wapauwe)

    • Wilayah Jawa: Demak dan masjid-masjid kuno di sekitar Jawa Tengah

    • Wilayah lain (opsional): Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur

  2. Rencanakan urutan kunjungan
    Mulai dari yang paling jauh (misalnya Wapauwe) lalu turun ke Jawa agar perjalanan lebih efisien.

  3. Gunakan transportasi darat dan laut/udara

    • Menuju Maluku: dari kota Ambon menuju Kaitetu

    • Menuju Jawa (Demak): melalui jalur darat dari Semarang atau Yogyakarta

  4. Sediakan waktu untuk ziarah dan studi sejarah
    Sisihkan waktu untuk mengunjungi museum, membaca prasasti, dan berdiskusi dengan pemandu lokal atau pengelola masjid.

  5. Gunakan pemandu lokal
    Di daerah seperti Kaitetu dan Demak, pemandu lokal dapat menjelaskan cerita rakyat, tradisi lisan, dan makna simbolis tiap elemen masjid.

  6. Perlengkapan & etik berkunjung

    • Pakaian sopan dan sesuai adab

    • Kamera untuk dokumentasi (tanpa ganggu jamaah)

    • Catat koordinat GPS dan alamat masing-masing masjid melalui Google Maps agar mobilitas lebih mudah

Contoh koordinat (sebagai referensi, silakan verifikasi saat akan bepergian):

  • Wapauwe (Kaitetu, Maluku Tengah) – sekitar lokasi desa Kaitetu dekat pesisir.

  • Masjid Agung Demak – berada di Kampung Kauman, kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Signifikansi Budaya dan Spiritualitas

Menelusuri masjid tertua di Nusantara bukan semata kunjungan turistik, melainkan upaya menghubungkan masa kini dengan akar sejarah bangsa. Beberapa makna mendalam yang bisa diambil:

  • Warisan dakwah lokal: Masjid-masjid ini menunjukkan bahwa Islam berkembang secara lokal dan adaptif, bukan hanya sebagai impor budaya asing.

  • Arsitektur sebagai narasi: Elemen arsitektur (atap bertingkat, tiang unik, bahan lokal) menceritakan proses akulturasi agama dan budaya.

  • Simbol toleransi: Dalam banyak tempat, masjid berada di lingkungan adat atau masyarakat beragam agama, menunjukkan keberlangsungan keselarasan sosial.

  • Identitas kolektif: Masjid tua menjadi kebanggaan daerah dan identitas komunitas Muslim lokal.

  • Media pendidikan: Museum dan koleksi manuskrip di dalam kompleks masjid kuno menjadi sumber ilmu bagi pelajar, peneliti, dan generasi muda.

Menelusuri masjid tertua di Nusantara adalah cara menyentuh akar spiritual dan sejarah bangsa. Dari Masjid Wapauwe di Maluku hingga Masjid Agung Demak di Jawa, tiap bangunan menyimpan kisah perjuangan spiritual, arsitektur lokal yang mempesona, dan nilai-nilai lintas generasi.

Jika Anda merencanakan perjalanan wisata religi, jangan lupa memasukkan masjid-masjid kuno ini ke itinerary Anda. Selain beribadah, Anda juga bisa belajar dan menghormati warisan leluhur umat Islam Indonesia.

Apakah Anda pernah mengunjungi salah satu masjid tua di atas? Bagikan pengalaman Anda atau kisah lokal yang Anda ketahui di kolom komentar. Jika artikel ini bermanfaat, silakan share ke teman atau komunitas Anda.

Untuk bacaan wisata religi dan sejarah menarik lainnya, kunjungi Klikinaja.com. (Tim)

Berita Terkait

Mengenal Rumah Gadang, Ikon Budaya Minangkabau dan Ragam Jenisnya
Rumah Larik Dusun Baru Sungai Penuh: Menjaga Ukiran Leluhur di Jantung Kota
Grand Egyptian Museum Resmi Dibuka di Giza
Daftar Raja Mataram yang Dimakamkan di Kompleks Imogiri
Mak Itam Kembali Berasap, Sawahlunto Hidupkan Lagi Warisan Kereta Api Legendaris
17 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Kebudayaan Nasional, Ini Makna dan Sejarahnya
Mengulik Sejarah Keraton Jogja: Simbol Kejayaan Budaya Jawa yang Tetap Hidup
Dua Tradisi Asli Buleleng Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda 2025
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Desember 2025 - 12:00 WIB

Mengenal Rumah Gadang, Ikon Budaya Minangkabau dan Ragam Jenisnya

Rabu, 3 Desember 2025 - 11:00 WIB

Rumah Larik Dusun Baru Sungai Penuh: Menjaga Ukiran Leluhur di Jantung Kota

Kamis, 6 November 2025 - 09:30 WIB

Grand Egyptian Museum Resmi Dibuka di Giza

Rabu, 5 November 2025 - 22:00 WIB

Daftar Raja Mataram yang Dimakamkan di Kompleks Imogiri

Minggu, 19 Oktober 2025 - 05:27 WIB

Mak Itam Kembali Berasap, Sawahlunto Hidupkan Lagi Warisan Kereta Api Legendaris

Berita Terbaru

Begini Cara Reset Algoritma TikTok Agar FYP Kembali Segar (Foto: pixabay)

Tips & Trik

Begini Cara Reset Algoritma TikTok Agar FYP Kembali Segar

Rabu, 4 Feb 2026 - 18:33 WIB