Britainaja – Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah memberikan tekanan nyata bagi mata uang Garuda. Pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), rupiah melemah 49 poin (0,28%) ke posisi Rp17.382 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya di level Rp17.333.
Dampak Serangan Militer di Timur Tengah
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran memicu kekhawatiran pasar global. Ketegangan ini berdampak langsung pada dua hal: lonjakan harga minyak dunia dan penguatan nilai tukar dolar AS secara masif.
Menurut laporan Sputnik, pihak Iran mengonfirmasi bahwa militer AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa titik strategis, termasuk:
-
Pantai Pelabuhan Khamir dan Kota Sirik.
-
Pulau Qeshm.
-
Dua kapal milik Iran.
Militer Iran segera membalas serangan tersebut dengan menyasar kapal perang Amerika di timur Selat Hormuz. Sementara itu, Komando Pusat AS mengklaim tindakan mereka bertujuan untuk melenyapkan ancaman militer yang mengincar pasukan Amerika.
Pergerakan Rupiah Sepekan Terakhir
Josua mencatat bahwa rupiah sebenarnya bergerak sideways atau mendatar sepanjang pekan ini. Sempat muncul titik terang saat Tiongkok mendukung negosiasi damai yang membuat rupiah menguat tipis.
Namun, pecahnya konflik bersenjata pada hari Jumat ini menghapus momentum penguatan tersebut.
Kurs JISDOR Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke angka Rp17.375 per dolar AS, sedikit turun dari posisi hari sebelumnya di Rp17.362.
Prediksi Pekan Depan
Para pelaku pasar perlu tetap waspada dalam menghadapi ketidakpastian global ini. Josua memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang terbatas pada pekan depan.
“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.425 per dolar AS pada perdagangan minggu depan,” pungkas Josua.
Pelemahan rupiah saat ini murni akibat faktor eksternal (global shock). Investor cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang safe haven seperti dolar AS saat terjadi konflik militer berskala besar. (Tim)






