Rupiah Tertekan, Diperkirakan Melemah di Tengah Rebound Dolar

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 3 Oktober 2025 - 12:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaran uang rupiah dari nilai nominal terbesar hingga terkecil (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

Lembaran uang rupiah dari nilai nominal terbesar hingga terkecil (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

Britainaja, Jakarta – Rupiah di perkirakan kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (3/10/2025), seiring penguatan dolar AS yang berbalik menguat usai pernyataan hawkish pejabat The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di buka di level Rp16.615 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan pelemahan di bandingkan penutupan Kamis (2/10/2025), ketika rupiah sempat menguat 0,22 persen atau naik 37 poin ke Rp16.598 per dolar AS.

Analis pasar uang Lukman Leong menyebutkan, pelemahan rupiah terjadi karena sentimen dolar yang rebound di tengah sikap hati-hati bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Baca Juga :  UU ASN Resmi Disahkan, Ribuan Tenaga Honorer Bersiap Diangkat Jadi PPPK

“Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran Rp16.550 hingga Rp16.650 per dolar AS sepanjang hari ini,” jelas Lukman, Jumat (3/10/2025).

Menurut Lukman, pernyataan dua pejabat The Fed, Logan dan Goolsbee, menjadi pemicu utama. Mereka menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memangkas suku bunga, sehingga memicu penguatan dolar AS.

Sejalan dengan itu, indeks dolar AS tercatat naik ke 97,84 pada Jumat pagi, dari posisi sebelumnya 97,55 sehari sebelumnya.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menambahkan bahwa minat risiko (risk appetite) investor mulai membaik. Hal ini terlihat dari penurunan Credit Default Swap (CDS) lima tahun yang kembali ke bawah level 80, untuk pertama kalinya dalam hampir dua pekan terakhir.

Baca Juga :  8 Mobil Bekas Pesaing Toyota Alphard: Tetap Mewah, Nyaman, dan Lebih Hemat

Sebagai catatan, risk appetite menunjukkan keberanian investor mengambil risiko untuk memperoleh keuntungan, sedangkan CDS adalah instrumen lindung nilai terhadap risiko gagal bayar utang.

Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga di pengaruhi kondisi dalam negeri. Rully menuturkan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih stabil di kisaran 6,33 persen. Stabilitas imbal hasil ini turut memberikan arah bagi pasar valuta asing. (Tim)

Berita Terkait

Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Cek Prakiraan Cuaca Kota Besar 2 Februari
Update Harga BBM Pertamina Februari 2026: Pertamax Cs Turun Signifikan!
Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Intip Prediksi Cuaca Ibu Kota Provinsi 1 Februari
Bali Menjadi Primadona Destinasi Wisata Wellness, Strategi Pemerintah Tekan Devisa Lari ke Luar Negeri
Cek Prediksi Cuaca 38 Kota Besar Indonesia 29 Januari 2026
Waspada Penipuan Telepon, Kemkomdigi Ungkap Kerugian Warga Tembus Rp9 Triliun
Pemerintah Fokus Kendalikan Harga Pangan demi Stabilitas Inflasi
Tren Harga Pangan di Sumatra Melandai, Pemulihan Jalur Distribusi Jadi Kunci
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 Februari 2026 - 09:09 WIB

Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Cek Prakiraan Cuaca Kota Besar 2 Februari

Minggu, 1 Februari 2026 - 10:30 WIB

Update Harga BBM Pertamina Februari 2026: Pertamax Cs Turun Signifikan!

Minggu, 1 Februari 2026 - 08:30 WIB

Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Intip Prediksi Cuaca Ibu Kota Provinsi 1 Februari

Sabtu, 31 Januari 2026 - 11:39 WIB

Bali Menjadi Primadona Destinasi Wisata Wellness, Strategi Pemerintah Tekan Devisa Lari ke Luar Negeri

Kamis, 29 Januari 2026 - 07:30 WIB

Cek Prediksi Cuaca 38 Kota Besar Indonesia 29 Januari 2026

Berita Terbaru

Begini Cara Reset Algoritma TikTok Agar FYP Kembali Segar (Foto: pixabay)

Tips & Trik

Begini Cara Reset Algoritma TikTok Agar FYP Kembali Segar

Rabu, 4 Feb 2026 - 18:33 WIB