Dojang Loger: Kuliner Langka Pesisir Labuan Bajo yang Menggugah Selera

Jejak Rasa yang Terlupakan di Pesisir Manggarai Barat

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 April 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dojang Loger, Kuliner Langka Pesisir Labuan Bajo.

Dojang Loger, Kuliner Langka Pesisir Labuan Bajo.

Britainaja – Masyarakat pesisir Labuan Bajo, Manggarai Barat, memiliki kekayaan rasa yang unik dalam sebuah mangkuk bernama Dojang Loger. Kudapan ini bukan sekadar makanan; ia adalah perpaduan harmonis antara rasa gurih siput bakau, tekstur jantung pisang, segarnya mangga mengkal, dan parutan kelapa yang gurih.

Bagi warga Muslim di pesisir NTT, Dojang Loger memegang memori manis sebagai menu favorit saat berbuka puasa. Rasanya yang ramai—kecut, manis, pedas, dan asin—langsung memberikan kesegaran instan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Rahasia Kesegaran dalam Satu Suapan

Proses pengolahan Dojang Loger mengutamakan kesederhanaan bahan lokal. Pembuatnya merebus siput dan irisan jantung pisang secara terpisah hingga teksturnya lunak. Setelah meniriskan airnya, mereka mencampur kedua bahan tersebut dengan potongan mangga muda.

Keajaiban rasa muncul saat penyajian. Taburan kelapa parut segar, perasan jeruk nipis, irisan cabai, bawang merah, dan tomat segar menyempurnakan hidangan ini. Sedikit garam dan penyedap rasa mengikat seluruh komponen tersebut menjadi harmoni rasa yang meledak di mulut.

Baca Juga :  Menyesap Kehangatan di Kaki Slamet: Dari Mendoan Raksasa hingga Sate Kelinci yang Legendaris

Kisah Fitriatun Nisa dan Upaya Melawan Lupa

Fitriatun Nisa (32), seorang guru sekaligus pegiat makanan lokal, mencoba menghidupkan kembali memori masa kecilnya melalui Dojang Loger. Ia bahkan membawa menu warisan ini ke kompetisi masakan lokal Flores di Hotel Meruorah pada November 2024 lalu.

“Sekarang sudah agak langka. Kami dulu biasa makan ini waktu kecil, terutama saat berbuka puasa,” kenang Fitri.

Fitri tumbuh besar di Kampung Capi, Desa Golo Bilas. Ia mengenal Dojang Loger dari orang tua dan kakek-neneknya. Nama “Loger” sendiri merujuk pada jenis siput berwarna hitam yang menghuni hutan bakau di pesisir Labuan Bajo.

Baca Juga :  Menyesap Kehangatan di Kaki Slamet: Dari Mendoan Raksasa hingga Sate Kelinci yang Legendaris

Mengapa Dojang Loger Mulai Menghilang?

Meskipun bahan utamanya, siput Loger, tersedia sepanjang tahun di hutan bakau, keberadaan hidangan ini kian tergerus zaman. Fitri mencatat dua alasan utama mengapa masyarakat mulai jarang menyajikan Dojang Loger di meja makan mereka:

  1. Aroma yang Khas: Siput bakau memiliki aroma kuat dan menyengat yang tidak semua orang (terutama generasi muda) menyukainya.

  2. Perubahan Gaya Hidup: Modernitas perlahan menggeser tradisi kuliner pesisir yang pengerjaannya membutuhkan ketelatenan.

Dahulu, warga di kawasan Nanga Nae dan Kampung Gorontalo rutin menyantap kudapan ini sebagai pendamping nasi atau pengganti sayur. Kini, Dojang Loger menjadi warisan berharga yang menanti tangan-tangan kreatif untuk tetap melestarikannya agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu. (Tim)

Berita Terkait

Menyesap Kehangatan di Kaki Slamet: Dari Mendoan Raksasa hingga Sate Kelinci yang Legendaris
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:00 WIB

Dojang Loger: Kuliner Langka Pesisir Labuan Bajo yang Menggugah Selera

Selasa, 17 Februari 2026 - 14:00 WIB

Menyesap Kehangatan di Kaki Slamet: Dari Mendoan Raksasa hingga Sate Kelinci yang Legendaris

Berita Terbaru