COVID Comeback 2030: Begini Prediksi Viral yang Hebohkan Dunia Maya

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Kamis, 5 Juni 2025 - 19:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi: Pixabay)

(Ilustrasi: Pixabay)

Britainaja – Media sosial kembali ramai membahas ramalan mengejutkan yang dikaitkan dengan sosok peramal asal Jepang bernama Ryo Tatsuki, yang disebut-sebut sebagai “Baba Vanga dari Asia.” Ia diklaim pernah memprediksi kejadian besar dunia, termasuk pandemi COVID-19, dan kini ramai diperbincangkan karena disebut memprediksi kemunculan kembali virus mematikan pada tahun 2030. Fenomena ini menjadi sorotan publik karena muncul bersamaan dengan berita lonjakan kasus COVID-19 terbaru di India.

Apakah ini hanya sensasi belaka, atau ada pesan serius yang perlu kita renungkan?

Siapa Itu Ryo Tatsuki? Benarkah Ia Seorang Peramal?

Ryo Tatsuki adalah seorang ilustrator manga asal Jepang yang dikabarkan membuat serangkaian ramalan dalam bukunya yang terbit tahun 1999. Salah satu yang paling banyak dikutip adalah ramalannya tentang “penyakit misterius yang menyerang paru-paru dan menyebar global pada awal dekade 2020.” Ramalan itu secara tak langsung dianggap merujuk pada pandemi COVID-19.

Kini, publik kembali menyoroti ramalan dalam buku yang sama yang menyebut akan ada wabah baru pada tahun 2030. Belum diketahui secara pasti apakah prediksi ini kredibel atau hanya interpretasi publik terhadap tulisan yang bersifat simbolik.

Lonjakan Kasus COVID-19 di India: Kebetulan atau Alarm Baru?

India saat ini mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus COVID-19. Beberapa wilayah melaporkan varian baru yang lebih menular, meski gejalanya lebih ringan. Para ahli menyebut situasi ini sebagai efek dari menurunnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan, serta mutasi virus yang tak sepenuhnya bisa diprediksi.

Baca Juga :  Gedung Putih Perketat Akses Jurnalis ke Ruang Jubir Pemerintah

Pemerintah India telah meningkatkan kapasitas rumah sakit dan mengimbau masyarakat untuk kembali mengenakan masker di ruang publik. Beberapa negara lain pun mulai mencatatkan kasus baru, meskipun dalam skala yang lebih kecil.

Apa Kata Para Ahli tentang Ramalan Ini?

Dr. Yuki Tanaka, ahli epidemiologi dari Universitas Tokyo, menyebut bahwa prediksi-prediksi semacam ini seringkali bersifat “vague” dan bisa ditafsirkan ke banyak kejadian. “Fenomena ramalan menjadi viral bukan karena keakuratan, tapi karena publik mencari jawaban atas ketidakpastian,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Aryan Mukherjee dari Indian Institute of Science menekankan pentingnya kesiapsiagaan tanpa harus terpaku pada ramalan. “Yang perlu kita fokuskan adalah edukasi, vaksinasi, dan respons cepat terhadap potensi lonjakan,” katanya.

Mengapa Ramalan Menarik Perhatian Publik?

Psikolog sosial menyebutkan bahwa di masa penuh ketidakpastian, masyarakat cenderung mencari makna melalui hal-hal mistis atau spiritual. Ramalan yang sebelumnya tak terdengar pun bisa menjadi viral jika berkaitan dengan pengalaman kolektif seperti pandemi.

Baca Juga :  Wisata Religi Masjid Agung Pondok Tinggi: Jejak Sejarah Islam dan Warisan Budaya Kerinci di Kota Sungai Penuh

Selain itu, media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan klaim-klaim tanpa verifikasi, yang sering kali diterima publik sebagai kebenaran jika sudah mendapatkan cukup banyak share dan like.

Bagaimana Menyikapinya?

Ramalan bisa menjadi refleksi, namun bukan pedoman ilmiah. Dalam menghadapi isu kesehatan global, pendekatan yang berbasis data dan sains tetap menjadi landasan utama. Edukasi publik, literasi digital, dan kesadaran akan pentingnya sumber informasi yang kredibel adalah langkah awal untuk menghadapi informasi viral semacam ini.

Pemerintah dan media juga memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi yang beredar dan menyajikan data yang akurat agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan.

Kesimpulan

Kabar tentang prediksi kembalinya pandemi pada tahun 2030 oleh “Baba Vanga dari Jepang” kembali mencuat di tengah kekhawatiran publik atas varian baru COVID-19 di India. Meskipun menarik, informasi semacam ini sebaiknya disikapi secara rasional dan proporsional.

Alih-alih panik terhadap ramalan, kita lebih baik mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan, mengikuti perkembangan sains, dan menyaring informasi yang kita konsumsi. (Wd)

Berita Terkait

Mengenal Putri Leonor: Calon Ratu Spanyol dan Pesona Pewaris Takhta Modern
Kurs Ringgit ke Rupiah Terbaru Hari Ini: 50 MYR Berapa IDR?
Maskapai Wajib Ganti Rugi Rp2,6 Juta Jika Pesawat Telat atau Batal di Vietnam
Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun
Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos
5 Orang Terkaya di Industri Media dan Hiburan
Kazakhstan & Azerbaijan Bersatu: TourAN Siap Manjakan Wisatawan Dunia
Beasiswa S1 Jepang MEXT 2027: Kuliah Gratis & Uang Saku Rp12 Juta
Berita ini 74 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:09 WIB

Mengenal Putri Leonor: Calon Ratu Spanyol dan Pesona Pewaris Takhta Modern

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:08 WIB

Kurs Ringgit ke Rupiah Terbaru Hari Ini: 50 MYR Berapa IDR?

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:05 WIB

Maskapai Wajib Ganti Rugi Rp2,6 Juta Jika Pesawat Telat atau Batal di Vietnam

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:00 WIB

Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:00 WIB

Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos

Berita Terbaru