Britainaja – Malam di sebuah rumah sederhana kawasan Tanco, Kabupaten Kerinci, terasa begitu hangat. Cahaya lampu berpendar lebih lama dari biasanya. Warga memadati pelataran rumah, menciptakan suasana kebersamaan yang kental.
Di tengah aroma kopi yang mengepul, sebuah lantunan lirih mulai memecah keheningan. Nada-nada itu perlahan meninggi, menggetarkan hati siapa pun yang menyimaknya.
Inilah Butale Haji, tradisi nyanyian penuh haru khas masyarakat Kerinci saat mengantarkan sanak saudara menuju Tanah Suci.
Warisan Spiritual yang Hidup
Masyarakat setempat juga mengenal tradisi ini dengan sebutan Tale Naik Haji, Tale Nek Jei, atau Tale Joi. Namun, Butale Haji lebih dari sekadar nyanyian pelepas rindu. Ia merupakan sastra lisan yang terus hidup melintasi generasi.
Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual para calon jamaah haji di Bumi Sakti Alam Kerinci.
Keluarga, kerabat, dan tetangga melantunkan syair-syair tale secara bergantian. Meski kata-katanya sederhana, maknanya sungguh mendalam. Di dalamnya terkandung:
-
Doa keselamatan selama perjalanan.
-
Pesan moral dan nasihat hidup yang bijak.
-
Ungkapan keikhlasan keluarga melepas orang tercinta.
Getaran Suara dan Air Mata Keikhlasan
Suasana magis sering kali tercipta saat suara pelantun mulai bergetar menahan tangis. Air mata mengalir secara alami, menyatu dengan nada yang membawa harapan agar sang jamaah meraih predikat haji mabrur.
“Ini bukan sekadar nyanyian, tapi doa bersama,” ungkap Saudin, seorang tokoh masyarakat Tanco. Menurutnya, Butale Haji menjadi ruang bagi warga untuk berbagi rasa bahagia, haru, sekaligus ikhlas secara kolektif.
Tradisi yang Menembus Zaman
Menjelang musim keberangkatan haji, lantunan tale semakin sering menggema. Biasanya, warga memulai tradisi ini setelah acara kenduri syukur di rumah calon jamaah. Dalam momen tersebut, sekat antara tetangga dan keluarga seakan hilang.
Semua orang larut dalam semangat gotong royong, baik dalam persiapan fisik maupun dukungan spiritual.
Bagi warga Kerinci, Butale Haji memiliki fungsi sosial yang krusial:
-
Mempererat Silaturahmi: Menyatukan warga dalam satu rasa persaudaraan.
-
Penanda Musim Haji: Menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa waktu ibadah besar telah tiba.
-
Cermin Jati Diri: Menjaga nilai ketulusan dan solidaritas di tengah arus modernisasi.
Bertahan dengan Ketulusan Hati
Hebatnya, Butale Haji tetap eksis tanpa perlu panggung megah atau pengeras suara canggih. Tradisi ini bertahan melalui kekuatan lisan dan ketulusan hati.
Ia adalah cermin jati diri masyarakat Kerinci—masyarakat yang memuliakan tamu Allah dengan iringan doa dan cinta yang mendalam. (Tim)






