Britainaja – Umat muslim di berbagai belahan dunia selalu menyambut kehadiran 1 Muharram atau Tahun Baru Islam dengan penuh suka cita. Bulan Muharram sendiri memegang posisi yang sangat istimewa karena menjadi salah satu bulan suci yang Allah SWT muliakan.
Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan keutamaan bulan ini dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
“Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.”
Meski bulan ini memiliki kedudukan mulia, para ulama ternyata memiliki pandangan yang berbeda mengenai hukum merayakan pergantian tahun Hijriah. Hal ini terjadi karena Rasulullah SAW dahulu tidak memberikan instruksi khusus untuk menggelar perayaan tertentu.
Lantas, bagaimana kita harus menyikapinya? Mari kita bedah dua sudut pandang ulama berikut ini.
1. Pandangan yang Melarang (Tidak Menganjurkan)
Sebagian ulama, terutama dari Arab Saudi, menilai bahwa ucapan selamat atau perayaan Tahun Baru Islam bukan bagian dari syariat. Salah satu tokoh yang memegang pendapat ini adalah Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Dalam fatwanya di Mausu’ah al-Liqa asy-Syahri, beliau mengimbau umat Islam agar tidak mengawali atau sengaja memulai tradisi saling memberi ucapan selamat tahun baru. Namun, jika ada orang lain yang mengucapkan selamat terlebih dahulu, kita tetap boleh membalas ucapan tersebut dengan baik.
2. Pandangan yang Memperbolehkan
Di sisi lain, banyak ulama yang justru memperbolehkan umat muslim menyemarakkan momen ini sebagai bentuk syiar agama. Pengasuh LPD Al Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menegaskan bahwa kegiatan ini sama sekali bukan bid’ah.
Menurut Buya Yahya, masyarakat tidak berniat menciptakan hari raya baru karena umat Islam hanya memiliki dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
“Kita perlu menghadirkan syiar tahun baru Hijriah. Tujuannya agar kita semua ingat bahwa Islam memiliki penanggalan sendiri,” jelas Buya Yahya melalui kanal YouTube Al Bahjah TV.
Buya Yahya mengingatkan kembali sejarah saat Khalifah Umar bin Khattab RA menginisiasi kalender Hijriah. Keputusan memilih 1 Muharram sebagai awal tahun bertujuan agar para jemaah haji yang pulang ke tanah air bisa membawa dan menyebarkan syiar Islam. Pada era modern ini, perayaan Muharram justru menjadi sarana penting untuk mengenalkan identitas Islam kepada generasi muda yang mulai melupakan kalender Hijriah.
Muharram Sebagai Momen Menjaga Alam
Pandangan senada juga datang dari Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. Beliau menegaskan bahwa memperingati 1 Muharram bukanlah langkah melestarikan bid’ah.
Dalam acara Ngaji Budaya di Jakarta, Menag mengajak masyarakat menggunakan momen 1 Muharram untuk mengasah hati nurani dan spiritualitas. Melalui konsep ekoteologi, beliau mendorong umat Islam untuk merefleksikan tanggung jawab dalam menjaga alam semesta ciptaan Tuhan dengan penuh kasih sayang.
Setiap pandangan ulama tentu memiliki hujah atau dasar masing-masing. Hal yang paling utama adalah bagaimana kita memanfaatkan momentum 1 Muharram ini untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam. (Tim)






