Britainaja – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mempererat kerja sama riset lintas negara guna melestarikan naskah-naskah kuno Nusantara. Bermitra dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), fokus penelitian kali ini di arahkan pada analisis cap kertas atau watermark yang terdapat pada manuskrip sejarah.
Langkah strategis ini di bahas secara mendalam dalam diskusi ilmiah yang di gelar Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN di Jakarta. Kajian terhadap watermark di anggap sebagai instrumen vital dalam melacak jejak sejarah penyalinan naskah di wilayah Alam Melayu yang selama ini sulit teridentifikasi.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya terpaku pada dokumen formal semata. Menurutnya, frekuensi pertemuan ilmiah dan kesepahaman antarpeneliti menjadi pondasi utama dalam memajukan riset ini.
Guna mendukung program ini, BRIN menyediakan berbagai skema kolaborasi bagi para akademisi dari UKM Malaysia. Fasilitas tersebut mencakup program postdoctoral, visiting researcher, hingga visiting professor untuk memperkaya khazanah riset bersama.
Gayung bersambut, Direktur ATMA UKM, Asyaari Muhamad, menyambut baik sinergi ini mengingat lembaga yang dipimpinnya fokus pada peradaban Alam Melayu secara multidisiplin. Kajian di ATMA mencakup spektrum luas, mulai dari arkeologi, filsafat, hingga sains dan sejarah.
Asyaari menambahkan bahwa pihaknya mengelola portal kajian Alam Melayu yang di dukung puluhan data manuskrip serta dua jurnal ilmiah sebagai wadah publikasi riset bersama.
Tantangan utama dalam meneliti naskah kuno Nusantara adalah minimnya kolofon atau catatan penutup yang mencantumkan identitas penulis dan waktu penulisan. Peneliti BRIN, Ali Akbar, mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen naskah di Nusantara tidak memiliki informasi tersebut.
“Dalam kondisi ini, identifikasi cap kertas menjadi kunci utama untuk memperkirakan kapan dan dalam konteks apa sebuah naskah di salin,” jelas Ali. Selama ini, peneliti masih sangat bergantung pada katalog watermark Eropa dari abad ke-17 dan ke-18.
Sebagai langkah maju, BRIN kini tengah menginisiasi pembangunan basis data cap kertas Nusantara yang berbasis pada naskah lokal. Proyek ini diharapkan dapat menjadi rujukan utama bagi para peneliti naskah di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti UKM Ros Mahwati memaparkan studi kasus pada watermark Mushaf Al-Qur’an Terengganu. Mushaf ini memiliki keunikan tersendiri, terutama pada aspek penjilidan dan dekorasinya yang khas.
Kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia ini diharapkan mampu menyingkap jalur distribusi kertas di wilayah Alam Melayu pada masa lampau. Ros menegaskan bahwa penelitian ini bukanlah titik akhir, melainkan pintu pembuka bagi kajian filologi dan sejarah yang jauh lebih mendalam di tingkat regional. (Tim)















