Britainaja – Identitas kuliner Indonesia di mata dunia tidak terlepas dari kekayaan tak ternilai berupa rempah-rempah. Sejak era perdagangan kuno, Nusantara telah dikenal sebagai “Kepulauan Rempah,” sumber utama komoditas bernilai tinggi yang diincar oleh bangsa-bangsa asing. Namun, di balik keragaman tersebut, tersimpan kisah getir. Beberapa jenis rempah-rempah unik yang hanya tumbuh di Indonesia kini menghadapi ancaman kelangkaan serius.
Rempah-rempah ini bukan sekadar penambah rasa, melainkan “senjata rahasia” yang menciptakan keunikan cita rasa masakan tradisional Indonesia. Misalnya, aroma khas yang sering kita jumpai pada semur atau sop buntut tidak akan sempurna tanpa sentuhan keharuman otentik dari cengkih.
Di tengah gempuran modernisasi pertanian, menjaga eksistensi rempah-rempah ini menjadi tantangan besar. Berikut adalah tujuh rempah eksotis asli Indonesia yang semakin langka dan perlu kita lestarikan.
1. Andaliman: “Lada Batak” dari Tanah Toba
Bagi penikmat masakan Sumatera Utara, andaliman bukanlah nama asing. Rempah ini dikenal luas sebagai “lada Batak” karena memberikan sensasi pedas khas yang diikuti rasa kebas atau getir yang unik di lidah. Andaliman adalah kunci utama dalam hidangan ikonik seperti arsik dan saksang.
Menurut pengakuan pakar kuliner ternama, William Wongso, andaliman memiliki keistimewaan geografis yang luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa rempah spesial ini secara spesifik hanya dapat dibudidayakan di kawasan Pulau Samosir, Danau Toba. Kondisi tanah vulkanik dan iklim mikro di sana menciptakan karakteristik rasa andaliman yang tidak tertandingi. Keunikan inilah yang menjadikan andaliman sebagai salah satu rempah endemik yang sangat dilindungi.
2. Cengkih (Cengkeh): Aroma Surgawi dari Timur
Cengkih, atau cengkeh, adalah salah satu ikon rempah Indonesia yang telah mendunia. Komoditas ini menjadi saksi bisu sejarah perdagangan rempah global. Wilayah yang paling tersohor sebagai penghasil cengkih dengan kualitas tertinggi di dunia adalah Ternate dan Tidore di Maluku.
Aroma cengkih Maluku diakui memiliki kualitas terbaik secara internasional. Selain digunakan dalam masakan, cengkih adalah komponen vital dalam industri kretek nasional. Potensi komersial yang tinggi ini harus diimbangi dengan upaya konservasi dan regenerasi pohon cengkih tua agar ketersediaan rempah berharga ini tidak merosot drastis.
3. Pala: Simbol Keagungan Kepulauan Banda
Kepulauan Banda di Maluku telah lama tercatat dalam sejarah sebagai sentra produksi pala terbaik di dunia. Pala (beserta fuli, kulitnya) menjadi rempah yang memicu penjelajahan samudra dan penjajahan pada abad ke-16. Selain Banda, Pulau Siau di Sulawesi Utara juga dikenal menghasilkan pala dengan kualitas unggul.
Pala digunakan luas dalam berbagai industri, mulai dari kuliner, farmasi, hingga kosmetik. Keunikan rasa dan aroma pala yang hangat menjadikannya bahan penting dalam hidangan penutup, sup, hingga bumbu daging. Kelangkaan pala premium kini sering dikaitkan dengan tantangan perubahan iklim dan serangan hama yang mengancam kebun-kebun pala tua.
4. Lada Putih Muntok: Keunggulan Komoditas dari Bangka Belitung
Lada putih Muntok adalah produk agrikultur kebanggaan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kualitas lada ini bahkan diakui secara global, di mana ekspor lada Muntok dilaporkan mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan lada putih dunia pada puncaknya.
Menurut informasi dari website resmi Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, keistimewaan lada Muntok terletak pada tingkat kepedasannya dan kandungan piperine yang tinggi, berkisar antara 5–7 persen. Mutu yang terjamin ini sudah menjadi komoditas unggulan Indonesia sejak era penjajahan VOC. Menjaga standar kualitas lada Muntok adalah kunci agar rempah ini tetap kompetitif di pasar internasional.
5. Cabai Jawa: Pedas Eksotis yang Mulai Redup
Meskipun namanya cabai, rempah ini memiliki bentuk yang jauh berbeda dari cabai pada umumnya. Cabai Jawa atau Piper retrofractum sejatinya masih berkerabat dekat dengan lada dan kemukus. Rempah unik yang memiliki cita rasa pedas dengan sedikit manis ini banyak digunakan sebagai bahan dasar dalam ramuan jamu tradisional Indonesia.
Cabai Jawa adalah tanaman asli Nusantara dan sayangnya, belakangan ini, mulai sulit ditemukan dalam jumlah besar. Penggunaan yang masif dalam industri herbal tanpa diimbangi budidaya yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rempah ini kian langka.
6. Keluak (Kluwek): Si Hitam Pemberi Cita Rasa Umami
Keluak, yang juga dikenal sebagai keluwek atau kepayang, adalah biji dari pohon Pangium edule. Rempah ini memiliki ciri khas yang sangat unik: kandungan racun hidrogen sianida yang harus dihilangkan melalui proses perebusan dan fermentasi panjang sebelum aman dikonsumsi.
Setelah diolah, biji keluak menghasilkan warna hitam pekat dan aroma yang kuat. Inilah bahan utama yang memberikan cita rasa gurih umami dan warna gelap pada hidangan legendaris Indonesia, seperti Rawon (Jawa Timur) dan Pucung Gabus (Betawi). Kelangkaan Keluak berkualitas sering menjadi tantangan bagi para juru masak tradisional.
7. Kemukus: Lada Berekor Peninggalan Masa Lalu
Kemukus, yang dikenal juga sebagai “lada berekor” (Piper cubeba), adalah rempah kuno yang nilai historisnya setara dengan pala dan cengkih. Rempah ini memiliki bentuk seperti lada, namun dengan ‘ekor’ kecil di bagian pangkalnya.
Meskipun saat ini jarang dijumpai di pasar-pasar modern, kemukus adalah bumbu esensial dalam banyak resep dasar masakan Indonesia. Rempah ini biasa digunakan sebagai campuran bumbu untuk gulai, sate, rendang, dan berbagai hidangan berkuah lainnya. Upaya konservasi genetik kemukus menjadi sangat penting untuk memastikan generasi penerus dapat terus menikmati kekayaan rempah ini.
Mendorong Konservasi dan Budidaya Berkelanjutan
Kelangkaan rempah-rempah unik ini harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah, petani, maupun pelaku industri kuliner. Perlunya program budidaya yang berkelanjutan, edukasi kepada petani tentang teknik tanam yang modern namun ramah lingkungan, serta promosi yang gencar tentang nilai ekonomi dan budaya rempah-rempah ini adalah langkah kunci. Melestarikan rempah-rempah ini berarti menjaga identitas kuliner Indonesia dari kepunahan. (Tim)















