Britainaja – Zohran Mamdani mencatat sejarah baru dalam politik New York. Politikus berusia 34 tahun tersebut terpilih sebagai walikota Muslim pertama di kota dengan populasi Yahudi terbesar di luar Israel. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena dukungan terhadap Israel selama ini dianggap menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan pemilihan di New York.
New York dikenal sebagai rumah bagi hampir satu juta warga Yahudi dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan pandangan politik. Besarnya jumlah ini menjadikan komunitas Yahudi memiliki pengaruh kuat dalam dinamika politik lokal. Di banyak pemilihan, suara warga Yahudi kerap menjadi penentu, termasuk dalam pemilihan wali kota.
Namun, Mamdani menunjukkan pendekatan berbeda. Ia membangun basis dukungan tanpa harus mengandalkan suara mayoritas Yahudi yang pro-Israel. Ia justru memperoleh simpati dari kelompok Yahudi progresif yang kritis terhadap kebijakan Israel, terutama terkait situasi di Gaza. Dukungan yang ia terima berkisar antara 10 hingga 33 persen dari pemilih Yahudi, menurut sejumlah survei.
Dalam kampanyenya, Mamdani menegaskan komitmennya untuk melindungi semua kelompok warga, termasuk komunitas Yahudi. Ia berulang kali menyampaikan penolakan terhadap antisemitisme dan menekankan pentingnya keamanan bagi seluruh penduduk kota.
Usai terpilih, Mamdani menegaskan kembali komitmennya dalam konferensi pers.
Ia mengatakan bahwa dirinya akan menjadi pemimpin untuk semua warga New York, baik yang memberikan dukungan maupun tidak. “Tanggung jawab saya adalah kepada seluruh delapan setengah juta warga kota ini, tanpa kecuali,” ujarnya.
Alasan Dukungan dari Warga Yahudi Progresif
Kelompok pemilih Yahudi yang mendukung Mamdani sebagian besar berasal dari kalangan muda dan progresif. Survei pada Juli lalu menunjukkan bahwa sekitar 67 persen pemilih Yahudi berusia di bawah 44 tahun menyatakan siap memilihnya.
Kelompok ini tergabung dalam sejumlah komunitas seperti Jews for Racial and Economic Justice serta Jewish Voice for Peace. Mereka menilai kampanye Mamdani selaras dengan nilai sosial yang mereka perjuangkan, seperti akses hidup layak dan keadilan ekonomi.
Jacob Bloomfield, seorang pendukung Mamdani keturunan Yahudi, menyampaikan alasannya memilih kandidat tersebut. Menurutnya, banyak warga New York kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti perumahan, layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pangan. Ia melihat Mamdani sebagai sosok yang benar-benar memperjuangkan isu tersebut.
“Bagi banyak orang, standar hidup yang stabil kini semakin sulit diraih, dan situasinya mendesak,” ujar Bloomfield.
Senada dengan itu, Matt Ketai, seorang aktor dan komedian, menilai narasi negatif yang menyebut Mamdani sebagai sosok anti-Yahudi atau terkait Islamofobia tidak berdasar. Ia justru merasa lebih aman mendukung kandidat yang ia nilai tulus membangun kota.
“Saya suka energinya dan idenya untuk membuat kota ini menjadi tempat yang lebih baik,” kata Ketai.
Kemenangan Zohran Mamdani menunjukkan berubahnya peta politik di New York. Dukungan dari sebagian komunitas Yahudi, terutama kalangan muda progresif, menggambarkan pergeseran cara pandang terhadap isu identitas, Israel, dan keadilan sosial. Mamdani kini menghadapi tugas besar untuk membuktikan komitmennya memimpin seluruh warga tanpa kecuali. (Tim)















