Britainaja – Pada perdagangan Kamis (9/7/2026) hari ini harga emas Antam kembali menunjukkan tren penurunan. PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memotong harga emas batangan sebesar Rp 8.000 per gram.
Dengan adanya penurunan harga ini tentunya memperpanjang tren negatif dari hari sebelumnya yang sudah anjlok Rp 14.000.
Jika kita hitung totalnya, pemilik emas kehilangan nilai Rp 22.000 per gram hanya dalam waktu 48 jam terakhir. Saat ini, Antam mematok harga emas di angka Rp 2.633.000 per gram, turun dari harga kemarin yang sempat menyentuh Rp 2.641.000 per gram.
Langkah ini juga menekan harga buyback (harga beli kembali jika Anda menjualnya ke Antam) sebesar Rp 10.000, sehingga posisinya kini berada di level Rp 2.383.000 per gram. Sebagai pengingat, emas Antam pernah mencetak sejarah termahalnya pada 29 Januari 2026 silam dengan menembus Rp 3.168.000 per gram.
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini (9 Juli 2026)
Untuk Anda yang berencana membeli atau berinvestasi, berikut daftar harga resmi pecahan logam mulia Antam langsung dari situs Logam Mulia:
- 0,5 gram: Rp 1.366.500
- 1 gram: Rp 2.633.000
- 2 gram: Rp 5.206.000
- 3 gram: Rp 7.784.000
- 5 gram: Rp 12.940.000
- 10 gram: Rp 25.825.000
- 25 gram: Rp 64.437.000
- 50 gram: Rp 128.795.000
- 100 gram: Rp 257.512.000
- 250 gram: Rp 643.515.000
- 500 gram: Rp 1.286.820.000
- 1.000 gram: Rp 2.573.600.000
Mengapa Harga Emas Dunia Ikut Lesu?
Penurunan harga di pasar lokal ini terjadi karena pasar global juga sedang mendingin. Di pasar spot, harga emas dunia melorot 0,9% ke level US$ 4.068,09 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,5% ke angka US$ 4.095,30 per ounce.
Gejolak geopolitik menjadi pemicu utama situasi ini. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran telah berakhir. Pernyataan ini langsung memicu ketegangan baru setelah Iran mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Dampak domino dari konflik ini membuat harga minyak mentah dunia melonjak hingga lebih dari 5%.
Dilema Emas & Inflasi: Lonjakan harga energi seperti minyak biasanya memicu inflasi tinggi. Walau emas terkenal sebagai pelindung nilai inflasi, investor cenderung menjauhinya saat bank sentral (The Fed) berniat menaikkan suku bunga. Suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik karena aset ini tidak memberikan imbal hasil langsung (bunga/dividen).
Menanti Kepastian Arah Suku Bunga The Fed
Para pelaku pasar saat ini masih meraba-raba arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Risalah rapat terbaru dari Bank Sentral AS (The Fed) menunjukkan bahwa para pejabat mereka masih berbeda pandangan.
Sebagian pejabat melihat inflasi akan mereda dan membuka peluang penurunan suku bunga, sementara sebagian lainnya justru memprediksi tekanan harga masih tinggi. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September nanti kini naik menjadi 67%.
Meskipun Bank of America menurunkan prediksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ounce karena sikap agresif The Fed, mereka tetap optimis. Bank raksasa tersebut memproyeksikan harga emas masih punya peluang besar untuk meroket hingga US$ 5.000 per ounce setelah siklus kenaikan suku bunga ini berakhir. (Tim)






