Britainaja – Langkah mata uang Garuda semakin berat dalam menghadapi kedigdayaan dolar AS. Pada perdagangan Rabu (29/4/2026), nilai tukar rupiah menunjukkan tren fluktuatif dengan risiko pelemahan yang nyata. Hingga pukul 13.32 WIB, rupiah bahkan sempat melorot 0,47% ke level Rp17.324 per dolar AS.
Mengapa Rupiah Melemah Hari Ini?
Pasar global saat ini sedang menghindari risiko (risk off). Kabar kurang sedap datang dari Timur Tengah yang membuat harapan perdamaian kembali layu. Pemicunya adalah laporan ketidakpuasan Donald Trump terhadap proposal damai dari Iran.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa situasi ini langsung memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven).
“Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan menekan mayoritas mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Lukman.
Nasib Mata Ung Asia: Hampir Semua Kompak Memerah
Bukan hanya Indonesia yang merasakan sesaknya tekanan “Greenback”. Mayoritas mata uang di Asia Tenggara dan Asia Timur turut terpangkas:
-
Peso Filipina: Turun tajam 0,91%
-
Baht Thailand: Melemah 0,50%
-
Rupee India: Turun 0,38%
-
Yuan China & Yen Jepang: Kompak melemah di kisaran 0,14% – 0,16%
Sebaliknya, hanya segelintir mata uang yang mampu bertahan tipis, seperti Dolar Hong Kong, Won Korea Selatan, dan Ringgit Malaysia yang menguat sangat terbatas di angka 0,01% hingga 0,02%.
Langkah Bank Indonesia dan Prediksi Pasar
Melihat volatilitas yang liar, Bank Indonesia kabarnya terus memantau pasar secara ketat. Otoritas moneter tersebut bakal melakukan intervensi intensif guna meredam guncangan berlebih dan menjaga stabilitas nilai tukar di dalam negeri.
Secara teknikal, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berada pada rentang:
-
Batas Bawah: Rp17.150
-
Batas Atas: Rp17.300
Namun, melihat realitas di papan perdagangan siang ini yang sudah menyentuh angka Rp17.324, investor tampaknya memilih untuk tetap waspada dan berhati-hati.






