Britainaja – Jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tanah sakti Alam Kerinci telah melahirkan seorang panglima perang yang nyalinya tak pernah luntur oleh desing peluru kolonial. Ia adalah Mohammad Kasib, sosok yang lebih di kenal dengan gelar kehormatannya, Depati Parbo. Lahir pada tahun 1839 di Dusun Lolo, perjalanannya menjadi benteng pertahanan terakhir rakyat Kerinci adalah sebuah catatan emas dalam sejarah perjuangan Jambi.
Depati Parbo bukanlah sosok yang haus kekuasaan. Gelar “Depati” tersebut ia sandang karena kecakapan serta kedalamannya dalam memahami adat dan pendidikan. Namun, ketika Belanda mulai merangsek masuk melalui Mukomuko dan mendirikan pos militer di Gunung Raya pada tahun 1900, Mohammad Kasib memilih menanggalkan ketenangannya demi memimpin rakyat melawan ketidakadilan.
Palagan Manjuto: Saat Belanda Terpukul Mundur
Pertempuran pecah pertama kali di Manjuto Lempur. Di bawah komando Depati Parbo, rakyat Kerinci memberikan perlawanan yang di luar dugaan Belanda. Senjata tradisional dan taktik gerilya yang memanfaatkan medan hutan lebat membuat pasukan kolonial kocar-kacir dan menderita kerugian besar. Keberhasilan ini bahkan sempat membuat Belanda ragu untuk melanjutkan ekspedisi mereka ke lembah Kerinci selama beberapa waktu.
Puncak perlawanan terjadi pada tahun 1903 melalui Ekspedisi Kerinci. Setelah pertempuran sengit selama tiga bulan di Pulau Tengah dan serangan lima hari di markasnya di Lolo, Belanda yang frustrasi mulai menggunakan cara-cara kotor. Menyadari bahwa Depati Parbo sulit di taklukkan di medan perang, mereka menawarkan perundingan damai. Sayangnya, niat baik sang Depati dibalas pengkhianatan; ia ditangkap di tengah proses diplomasi tersebut.
Seperempat Abad di Tanah Pembuangan
Hukuman bagi sang panglima adalah pengasingan jauh ke Ternate, Maluku Utara. Selama 25 tahun, Depati Parbo dipisahkan dari tanah kelahirannya. Baru pada tahun 1927, berkat desakan para kepala Mendapo di Kerinci, ia di izinkan pulang. Meski usianya sudah sangat senja saat kembali, semangatnya tetap menjadi obor bagi masyarakat setempat hingga ia mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1929 dalam usia 90 tahun.
Kini, Mohammad Kasib beristirahat dengan tenang di pemakaman keluarga di Dusun Lolo. Namanya tetap abadi, tidak hanya di buku sejarah, tetapi juga melalui Bandar Udara Depati Parbo yang menjadi pintu masuk utama menuju keindahan Kerinci saat ini.
Strategi Defensif dan Keteguhan Moral
Melihat rekam jejak Depati Parbo, kita bisa melihat bahwa ia adalah ahli strategi yang mampu mengonsolidasikan kekuatan masyarakat—mulai dari kaum adat hingga ulama seperti Haji Ismail. Hal ini membuktikan bahwa perlawanan di Kerinci bersifat kolektif dan ideologis, bukan sekadar reaksi spontan.
Konteks penting yang sering terlupakan adalah durasi pengasingannya yang mencapai seperempat abad. Hal ini menunjukkan betapa Belanda sangat khawatir akan pengaruh magnetisnya jika ia tetap berada di Sumatra. Bagi audiens modern, kisah ini mengajarkan bahwa diplomasi tanpa kewaspadaan bisa menjadi bumerang, sebuah pelajaran berharga dalam menjaga kedaulatan di bidang apa pun.













