Jejak Heroik Depati Parbo dalam Perang Kerinci yang Melegenda

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jejak Heroik Depati Parbo dalam Perang Kerinci yang Melegenda (Foto: google/ wikipedia)

Jejak Heroik Depati Parbo dalam Perang Kerinci yang Melegenda (Foto: google/ wikipedia)

Britainaja – Jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tanah sakti Alam Kerinci telah melahirkan seorang panglima perang yang nyalinya tak pernah luntur oleh desing peluru kolonial. Ia adalah Mohammad Kasib, sosok yang lebih di kenal dengan gelar kehormatannya, Depati Parbo. Lahir pada tahun 1839 di Dusun Lolo, perjalanannya menjadi benteng pertahanan terakhir rakyat Kerinci adalah sebuah catatan emas dalam sejarah perjuangan Jambi.

Depati Parbo bukanlah sosok yang haus kekuasaan. Gelar “Depati” tersebut ia sandang karena kecakapan serta kedalamannya dalam memahami adat dan pendidikan. Namun, ketika Belanda mulai merangsek masuk melalui Mukomuko dan mendirikan pos militer di Gunung Raya pada tahun 1900, Mohammad Kasib memilih menanggalkan ketenangannya demi memimpin rakyat melawan ketidakadilan.

Palagan Manjuto: Saat Belanda Terpukul Mundur

Pertempuran pecah pertama kali di Manjuto Lempur. Di bawah komando Depati Parbo, rakyat Kerinci memberikan perlawanan yang di luar dugaan Belanda. Senjata tradisional dan taktik gerilya yang memanfaatkan medan hutan lebat membuat pasukan kolonial kocar-kacir dan menderita kerugian besar. Keberhasilan ini bahkan sempat membuat Belanda ragu untuk melanjutkan ekspedisi mereka ke lembah Kerinci selama beberapa waktu.

Baca Juga :  Kumpulan Ucapan Hari Ibu 2025 yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna

Puncak perlawanan terjadi pada tahun 1903 melalui Ekspedisi Kerinci. Setelah pertempuran sengit selama tiga bulan di Pulau Tengah dan serangan lima hari di markasnya di Lolo, Belanda yang frustrasi mulai menggunakan cara-cara kotor. Menyadari bahwa Depati Parbo sulit di taklukkan di medan perang, mereka menawarkan perundingan damai. Sayangnya, niat baik sang Depati dibalas pengkhianatan; ia ditangkap di tengah proses diplomasi tersebut.

Seperempat Abad di Tanah Pembuangan

Hukuman bagi sang panglima adalah pengasingan jauh ke Ternate, Maluku Utara. Selama 25 tahun, Depati Parbo dipisahkan dari tanah kelahirannya. Baru pada tahun 1927, berkat desakan para kepala Mendapo di Kerinci, ia di izinkan pulang. Meski usianya sudah sangat senja saat kembali, semangatnya tetap menjadi obor bagi masyarakat setempat hingga ia mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1929 dalam usia 90 tahun.

Baca Juga :  Profil Hasan Nasbi, Konsultan Politik dan Pendiri Cyrus Network

Kini, Mohammad Kasib beristirahat dengan tenang di pemakaman keluarga di Dusun Lolo. Namanya tetap abadi, tidak hanya di buku sejarah, tetapi juga melalui Bandar Udara Depati Parbo yang menjadi pintu masuk utama menuju keindahan Kerinci saat ini.

Strategi Defensif dan Keteguhan Moral

Melihat rekam jejak Depati Parbo, kita bisa melihat bahwa ia adalah ahli strategi yang mampu mengonsolidasikan kekuatan masyarakat—mulai dari kaum adat hingga ulama seperti Haji Ismail. Hal ini membuktikan bahwa perlawanan di Kerinci bersifat kolektif dan ideologis, bukan sekadar reaksi spontan.

Konteks penting yang sering terlupakan adalah durasi pengasingannya yang mencapai seperempat abad. Hal ini menunjukkan betapa Belanda sangat khawatir akan pengaruh magnetisnya jika ia tetap berada di Sumatra. Bagi audiens modern, kisah ini mengajarkan bahwa diplomasi tanpa kewaspadaan bisa menjadi bumerang, sebuah pelajaran berharga dalam menjaga kedaulatan di bidang apa pun.

Berita Terkait

Mengenal Al-Khawarizmi, Sosok Jenius di Balik Algoritma yang Kini Mengatur Hidup Kita
Kisah Masa Kecil Ali Khamenei: Dari Madrasah Sederhana Hingga Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Mengenal Sosok Mochtar Riady dan Gurita Bisnis Lippo Group di Balik Penjualan Gedung OUE Bayfront
Raden Hamzah: Panglima Perang Jambi yang Gentarkan Serdadu Belanda
Al-Hasan Ibnu Al-Haitsam: Sang Bapak Optik, Penerang Dunia dengan Cahaya Ilmu
Ibnu Yunus Al-Mishri: Sang Maestro Astronomi dan Matematika dari Mesir
Abu al-Wafa al-Buzjani: Sang Jenius di Balik Kecanggihan Trigonometri Modern
Abu al-Qasim az-Zahrawi: Bapak Bedah Modern yang Mengubah Wajah Kedokteran Dunia
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 08:00 WIB

Mengenal Al-Khawarizmi, Sosok Jenius di Balik Algoritma yang Kini Mengatur Hidup Kita

Senin, 2 Maret 2026 - 07:00 WIB

Kisah Masa Kecil Ali Khamenei: Dari Madrasah Sederhana Hingga Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Sabtu, 28 Februari 2026 - 12:00 WIB

Mengenal Sosok Mochtar Riady dan Gurita Bisnis Lippo Group di Balik Penjualan Gedung OUE Bayfront

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:00 WIB

Jejak Heroik Depati Parbo dalam Perang Kerinci yang Melegenda

Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:30 WIB

Raden Hamzah: Panglima Perang Jambi yang Gentarkan Serdadu Belanda

Berita Terbaru

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki keluar dari Kampus Universitas Muhammadiyah usai memberikan sambutan pada momen Idul Fitri Jamaah Muhammadiyah, Jumat (20/3/2026). (KOMPAS.com)

Nasional

Wali Kota Sukabumi Disoraki Saat Sambutan Salat Id

Jumat, 20 Mar 2026 - 16:00 WIB

Uilliam Barros dihukum skorsing dua pertandingan karena terkena kartu merah di laga Persib Bandung vs Ratchaburi FC. (Foto: Instagram/@uilliambarros94)

Nasional

AFC Hukum Uilliam Barros, Persib Terancam Sanksi Tambahan

Jumat, 20 Mar 2026 - 14:00 WIB