Britainaja – Dapur rumah tangga di berbagai penjuru tanah air mulai merasakan tekanan kecil namun konsisten pada awal tahun ini. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), harga telur ayam ras menunjukkan tren pendakian tipis yang patut di cermati. Kenaikan ini bukan fenomena sesaat, melainkan kelanjutan dari grafik peningkatan yang sebenarnya sudah terdeteksi sejak Mei 2025 silam.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, mengungkapkan bahwa rata-rata harga komoditas protein ini sekarang telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang di tetapkan pemerintah. Hingga memasuki pekan ketiga Januari 2026, harga telur ayam ras secara nasional terkerek naik sekitar 0,17 persen jika di sandingkan dengan catatan pada Desember tahun lalu. Meski persentasenya terlihat mungil, posisinya yang berada di atas harga acuan penjualan menjadi sinyal kuning bagi ketahanan pangan domestik.
Sebaran kenaikan harga ini pun cukup merata, menyentuh sekitar 42,50 persen wilayah di Indonesia. Data BPS mengidentifikasi setidaknya 153 kabupaten dan kota yang masih bergelut dengan tren kenaikan harga ini. Saat ini, masyarakat harus merogoh kocek rata-rata Rp32.633 untuk setiap satu kilogram telur. Namun, disparitas harga antarwilayah masih sangat jomplang; ada daerah yang beruntung mendapatkan harga Rp25.000, namun di titik tertentu harganya sempat menembus angka ekstrem Rp113.846 per kilogram.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pembuat kebijakan, terutama mengingat kalender keagamaan yang kian mendekat. Puji Ismartini menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap pergerakan harga pangan, khususnya telur, sebagai langkah antisipasi sebelum memasuki bulan Ramadan. Ketidakseimbangan pasokan dan distribusi antar-daerah seringkali menjadi celah yang membuat inflasi sulit di redam jika tidak di kelola sejak dini.
Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri juga mulai memasang kuda-kuda. Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, menyoroti fenomena tahunan di mana harga pangan selalu melonjak menjelang Lebaran. Menurutnya, kenaikan harga dalam batas wajar masih bisa di terima pasar, namun lonjakan yang bersifat eksploitatif harus di cegah habis-habisan. Pengalaman tahun 2025 menjadi pelajaran pahit, di mana inflasi bulanan yang biasanya terjaga di angka 0,3 persen justru melambung hingga 1,6 persen saat periode Idul Fitri.
Strategi Mengelola Anggaran Dapur Saat Harga Pangan Naik
Bagi konsumen, menyiasati kenaikan harga telur bisa di lakukan dengan beberapa langkah taktis. Salah satunya adalah dengan melakukan pembelian secara kolektif atau dalam jumlah besar melalui skema “beli bareng” tetangga langsung ke distributor atau pasar induk untuk mendapatkan harga grosir. Selain itu, masyarakat bisa mulai melirik sumber protein alternatif yang harganya lebih stabil seperti tempe, tahu, atau ikan air tawar lokal sementara waktu.
Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan pengendalian harga secara intensif menjelang dan selama periode Lebaran tahun ini. Langkah ini krusial agar daya beli masyarakat tidak tergerus oleh spekulasi pasar yang tidak sehat. Pengawasan rantai pasok dari peternak hingga ke tangan konsumen menjadi kunci utama agar harga telur kembali melandai atau setidaknya tetap terjangkau bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. (Tim)















