Britainaja, Jambi – Langkah besar di ambil Pemerintah Provinsi Jambi dalam mendukung kedaulatan pangan nasional. Dua wilayah dataran tinggi, Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin, kini di proyeksikan menjadi sentra baru pengembangan gandum. Tidak tanggung-tanggung, lahan seluas 200 hektar telah di siapkan untuk mengubah ketergantungan impor menjadi produksi lokal yang mandiri.
Namun, realisasi ambisi ini masih tertahan di meja birokrasi pusat. Hingga pertengahan Januari 2026, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi masih menanti kejelasan data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) dari Kementerian Pertanian. Data tersebut menjadi kunci utama bagi pemerintah daerah untuk menggerakkan mesin produksi di lapangan.
Rumusdar, Kepala Dinas TPHP Provinsi Jambi, mengungkapkan bahwa koordinasi intensif sebenarnya telah di lakukan sejak akhir tahun lalu. Target 200 hektar sudah di sepakati, namun titik koordinat lahan dan daftar petani yang akan mengelola proyek percontohan (demplot) sepenuhnya berada di bawah wewenang Kementan.
Strategi awal yang akan di tempuh adalah melakukan uji coba pada lahan seluas lima hektar di wilayah dataran tinggi tersebut. Langkah hati-hati ini di ambil untuk memastikan varietas gandum yang di tanam benar-benar adaptif dengan mikroklimat di Jambi. Jika fase lima hektar ini menunjukkan hasil positif, ekspansi menuju target 200 hektar akan segera dipacu.
Upaya Jambi ini merupakan bagian dari sabuk ketahanan pangan di Sumatera, bersinergi dengan provinsi tetangga seperti Bengkulu, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan. Pemerintah pusat sendiri terlihat sangat serius menggarap potensi ini, terbukti dengan pengiriman delegasi ahli ke Yordania dan Brasil guna membedah kecocokan agro-iklim yang serupa dengan Indonesia.
Mengapa Gandum di Jambi Menjadi Krusial?
Secara geografis, Kerinci dan Merangin memiliki keunggulan elevasi yang di butuhkan tanaman gandum untuk tumbuh optimal. Selama ini, Indonesia merupakan salah satu importir gandum terbesar di dunia untuk memenuhi kebutuhan industri tepung dan mi instan. Pengembangan gandum lokal bukan hanya soal menambah varietas tanaman, melainkan tentang ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian iklim global.
Keberhasilan proyek ini nantinya sangat bergantung pada transfer teknologi dari Kementan kepada petani lokal. Sinergi antara akademisi, industri, dan dukungan pengamanan pangan dari TNI akan menjadi pilar utama agar komoditas yang identik dengan iklim subtropis ini bisa benar-benar “membumi” di tanah Jambi. Rumusdar optimis, dengan persiapan yang matang, Jambi mampu menyumbang kontribusi signifikan bagi stok pangan nasional. (Wd)















