Menanti Janji Lahan 2.500 Hektare untuk Suku Anak Dalam dari Jokowi

Jeritan Hati Para Pemimpin Adat yang Mulia

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Joko Widodo, semasa menjadi Presiden RI, berdialog dengan warga Suku Anak Dalam di Desa Suban, kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. (SETPRES)

Joko Widodo, semasa menjadi Presiden RI, berdialog dengan warga Suku Anak Dalam di Desa Suban, kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. (SETPRES)

SAROLANGUN, Britainaja — Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, masih menyimpan harapan besar terhadap komitmen negara. Mereka terus menyuarakan hak atas ruang hidup berupa lahan penghidupan seluas 2.500 hektare.

Janji ini meluncur langsung dari lisan Joko Widodo saat beliau menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, namun kenyataan di lapangan belum berwujud hingga hari ini.

Pemimpin adat dari Desa Pematang Kabau, Temenggung Bepayung, mengingat kembali momen bersejarah pada 30 Oktober 2015. Saat itu, Presiden Jokowi mengunjungi langsung pemukiman Orang Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Di tengah rimbunnya hutan, secercah harapan lahir bersama janji penyediaan lahan yang legal dan layak agar mereka tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat tinggal.

Waktu terus bergulir hingga hampir sebelas tahun lamanya. Komunitas adat ini masih menghadapi ketidakpastian. Ruang jelajah mereka kian menyusut tajam akibat tekanan sosial dan ekspansi ekonomi di sekitar hutan. Kondisi ini memaksa sebagian besar keluarga Suku Anak Dalam bertahan hidup dalam jerat keterbatasan yang memprihatinkan.

Keresahan Sosial yang Kian Menumpuk

Baca Juga :  Polda Jambi Gelar Upacara Peringati Hari Kebangkitan Nasional ke-117

Ketiadaan legalitas lahan memicu gelombang kekecewaan yang mendalam di tingkat akar rumput. Para pemimpin adat kini memikul beban moral yang berat. Mereka menghadapi situasi sulit saat menenangkan warga yang mulai meragukan komitmen pemerintah.

“Presiden menyampaikan janji itu secara langsung kepada kami sejak tahun 2015. Namun, kami belum melihat realisasinya sampai detik ini. Kami hanya membutuhkan kepastian hukum atas tanah tersebut agar anak cucu kami bisa menyambung hidup,” ungkap Temenggung Bepayung dengan nada getir.

Secara historis, kawasan Bukit Duabelas merupakan jantung kehidupan bagi Orang Rimba. Kerusakan alam dan alih fungsi hutan membuat hasil-hutan andalan seperti jernang, damar, rotan, hingga hewan buruan hilang perlahan. Krisis ekologis ini berdampak langsung pada urusan dapur dan kesejahteraan harian ratusan keluarga adat.

Nostalgia Kunjungan Istana ke Jantung Hutan

Catatan sejarah mencatat pertemuan penuh kehangatan itu terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2015. Presiden Jokowi bersama jajarannya blusukan ke kawasan Bukit Suban, Sarolangun. Beliau duduk bersama para temenggung untuk mendengar langsung jeritan hati masyarakat pedalaman.

Kala itu, warga menumpahkan segala keluh kesah mereka, mulai dari konflik agraria yang berkepanjangan, minimnya akses pendidikan dan layanan kesehatan, hingga ketiadaan fasilitas dasar seperti air bersih dan listrik. Bahkan, perumahan bantuan yang pemerintah bangun sejak tahun 2004 telantar begitu saja tanpa penghuni karena tidak layak huni.

Baca Juga :  Ditreskrimum Polda Jambi Bekuk Pelaku Pencurian Disertai Kekerasan dan Dugaan Asusila

“Rumah-rumah itu tidak memiliki sumur dan jaringan penerangan. Bagaimana mungkin kami bisa menempatinya dengan layak?” cetus Temenggung Grip waktu itu, menggambarkan kegagalan proyek infrastruktur masa lalu.

Merespons masalah tersebut, Presiden Jokowi menawarkan solusi progresif berupa pengalokasian lahan seluas 2.500 hektare. Beliau juga menginstruksikan kementerian terkait untuk menyusun program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terpadu. Jajaran menteri, termasuk Menteri Sosial kala itu, Khofifah Indar Parawansa, turut menyerahkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) serta berjanji memulihkan perkebunan warga yang rusak akibat bencana kabut asap.

Kini, tahun 2026 telah berjalan. Lembaran janji manis sebelas tahun lalu tersebut masih tersimpan rapi dalam ingatan Suku Anak Dalam, menanti langkah nyata pemerintah untuk mengubah komitmen tertulis menjadi kenyataan yang menyelamatkan eksistensi mereka. (Tim)

Berita Terkait

Update Harga Tiket Pesawat Jambi ke Kerinci & Jakarta Terbaru
Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik di Jambi Hari Ini, 26 Mei 2026, Ada Kerinci dan Sungai Penuh
Siap Sambut Kodam Baru, Gubernur Jambi Al Haris Hibahkan Lahan Strategis
Ini Cara Daftar dan Syarat Beasiswa S1 Pemprov Jambi 2026
Sedia Payung! BMKG Prakirakan Hujan Guyur 9 Wilayah Jambi Hari Ini
Pemkot Jambi Usulkan 322 Formasi CASN 2026, Lowongan Guru Absen Tahun Ini
Ratusan Jemaah Jambi Gagal Umrah, Kerugian Capai Rp10 Miliar
Kota Jambi Cerah Berawan, Warga Wilayah Lain Wajib Siaga Hujan Petir
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:00 WIB

Update Harga Tiket Pesawat Jambi ke Kerinci & Jakarta Terbaru

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:00 WIB

Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik di Jambi Hari Ini, 26 Mei 2026, Ada Kerinci dan Sungai Penuh

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:00 WIB

Siap Sambut Kodam Baru, Gubernur Jambi Al Haris Hibahkan Lahan Strategis

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:00 WIB

Ini Cara Daftar dan Syarat Beasiswa S1 Pemprov Jambi 2026

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:00 WIB

Sedia Payung! BMKG Prakirakan Hujan Guyur 9 Wilayah Jambi Hari Ini

Berita Terbaru

Ilustrasi - Kode Redeem ML 10 Juni 2026.

Tech & Game

Klaim Kode Redeem ML 10 Juni 2026: Panen Diamond & Skin Gratis!

Rabu, 10 Jun 2026 - 12:00 WIB

Ilustrasi - Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Juni 2026.

Tech & Game

Banjir Hadiah! Klaim Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Juni 2026

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB