Operasi Militer AS di Venezuela Tekan Rupiah, BI Berpotensi Tahan Suku Bunga

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Operasi Militer AS di Venezuela Tekan Rupiah, BI Berpotensi Tahan Suku Bunga (Foto: MI/medcom)

Operasi Militer AS di Venezuela Tekan Rupiah, BI Berpotensi Tahan Suku Bunga (Foto: MI/medcom)

Britainaja – Goncangan geopolitik besar dari kawasan Amerika Latin mewarnai pembukaan pasar keuangan global di awal tahun 2026. Aksi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya di Caracas, menciptakan gelombang ketidakpastian baru. Para pelaku pasar kini bersiaga menghadapi potensi lonjakan harga komoditas penting seperti minyak mentah dan emas.

Kepala Riset sekaligus Ekonom Utama Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai situasi panas di Venezuela bakal memicu perilaku pasar yang cenderung mencari aman atau risk-off. Kecenderungan ini biasanya membuat investor berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke dolar AS, yang secara otomatis memberikan tekanan pada nilai tukar mata uang berkembang, termasuk Rupiah.

Meskipun demikian, Rully memprediksi gejolak ini tidak akan berlangsung dalam durasi yang lama. Dampak rambatan ke tanah air di perkirakan masih bisa di kendalikan. Situasi ini pun di proyeksi menjadi pertimbangan kuat bagi Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan di angka 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang di jadwalkan pada pertengahan Januari mendatang.

Baca Juga :  Harga Emas Antam 11 November 2025 Meroket, Buyback Ikut Terdongkrak

Secara fundamental, hubungan dagang antara Jakarta dan Caracas tergolong sangat kecil sehingga gangguan ekspor-impor tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi nasional secara signifikan. Sebagai gambaran, sepanjang sepuluh bulan pertama di tahun 2025, nilai ekspor kita ke Venezuela hanya menyentuh angka USD68,7 juta. Nilai tersebut bahkan tidak mencapai satu persen dari total ekspor Indonesia secara keseluruhan.

Hingga saat ini, komoditas yang rutin di kirim Indonesia ke negara tersebut meliputi sektor tekstil, produk kayu, peralatan listrik, hingga alas kaki. Sementara dari sisi impor, Indonesia hanya mendatangkan bahan kimia tertentu dan plastik dalam jumlah terbatas. Rendahnya ketergantungan ini membuat Indonesia memiliki bantalan yang cukup kuat terhadap konflik internal yang terjadi di sana.

Pasar modal dalam negeri sendiri menunjukkan performa yang cukup solid pada penutupan perdagangan perdana tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat hingga 1,2% ke level 8.748,1 dengan dukungan aliran dana asing yang mencapai Rp1,1 triliun. Angka ini mencerminkan optimisme investor lokal yang belum sepenuhnya goyah oleh berita penangkapan Maduro di New York.

Baca Juga :  Ingin Cuan Rp100 Ribu Sehari? Cek Deretan Aplikasi Penghasil Uang Ini!

Mengapa Minyak Tetap Menjadi Kunci? Walaupun ekspor langsung kita kecil, pergerakan harga minyak dunia akibat konflik Venezuela tetap harus di waspadai. Venezuela merupakan salah satu pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Intervensi AS yang menyatakan akan mengambil peran utama dalam masa transisi kekuasaan di sana bisa memicu spekulasi pasokan energi global. Jika harga minyak dunia melambung tinggi akibat ketegangan ini, beban subsidi energi dalam APBN kita berisiko membengkak, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kebijakan fiskal pemerintah di sisa tahun 2026.

Dalam situasi geopolitik yang fluktuatif, di versifikasi aset menjadi kunci utama. Emas tetap menjadi instrumen perlindungan nilai yang paling di rekomendasikan saat terjadi penangkapan kepala negara atau konflik militer. Selain itu, tetap perhatikan rilis data inflasi domestik dan keputusan Bank Indonesia akhir bulan ini, karena kebijakan suku bunga akan jauh lebih menentukan arah pasar saham kita di bandingkan sentimen jangka pendek dari Amerika Latin. (Tim)

Berita Terkait

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Meski Konflik Iran Memanas
Harga Emas Perhiasan Anjlok Jelang Lebaran, Turun Hingga Rp110.000 per Gram
Harga Emas Hari Ini 19 Maret 2026: Antam di Bawah Rp3 Juta, UBS dan Galeri24 Stabil
Eksekusi Lahan Hotel Sultan Tetap Berjalan Meski Ada Gugatan
Antam Melemah, Lakuemas Menguat, Update Harga Emas Hari Ini Rabu, 18 Maret 2026
Harga Emas Antam Hari Ini, 17 Maret 2026: Rp2.992.000/Gram
Harga Emas Turun di Bawah US$5.000, Tekanan dari Krisis Timur Tengah
Harga Emas Antam Turun Rp62.000 Sepekan, Buyback Ikut Melemah
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 21:00 WIB

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Meski Konflik Iran Memanas

Jumat, 20 Maret 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Perhiasan Anjlok Jelang Lebaran, Turun Hingga Rp110.000 per Gram

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Hari Ini 19 Maret 2026: Antam di Bawah Rp3 Juta, UBS dan Galeri24 Stabil

Rabu, 18 Maret 2026 - 16:00 WIB

Eksekusi Lahan Hotel Sultan Tetap Berjalan Meski Ada Gugatan

Rabu, 18 Maret 2026 - 11:00 WIB

Antam Melemah, Lakuemas Menguat, Update Harga Emas Hari Ini Rabu, 18 Maret 2026

Berita Terbaru

Ilustrasi emas batangan.(PEXELS/JINGMING PAN)

Finansial

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Meski Konflik Iran Memanas

Sabtu, 21 Mar 2026 - 21:00 WIB

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian bersama Presiden Prabowo Subianto melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Darussalam, kompleks hunian sementara (huntara) Aceh Tamiang dan bertemu warga terdampak bencana, Sabtu (21/3/2026). (dok. Kemendagri)

Nasional

Prabowo Salat Id di Aceh Tamiang, Bagikan 7.000 Sembako

Sabtu, 21 Mar 2026 - 20:00 WIB