Britainaja — Dunia maya kembali menghadapi fenomena mengejutkan. Sebuah akun TikTok dengan nama pengguna @nia.hajar_s mendadak menjadi pusat perhatian netizen. Sosok perempuan anggun berhijab yang kerap membagikan video ceramah keagamaan layaknya seorang ustazah tersebut ternyata bukan manusia asli, melainkan produk kecerdasan buatan (AI) seutuhnya.
Hingga Kamis sore, akun “Ustazah Hajar” tiruan ini sukses mengumpulkan lebih dari 920 ribu pengikut dan meraup 10,4 juta tanda suka. Penampilan visual yang luar biasa rapi dan ekspresi yang natural membuat ratusan ribu jemaah digital percaya bahwa mereka sedang mendengarkan petuah dari seorang tokoh agama nyata.
Kemunculan ustazah artifisial ini pun langsung memicu kegelisahan di kalangan pengguna media sosial. Salah satu akun di platform X, @MiskinTV_, mengunggah kekhawatirannya mengenai popularitas figur buatan tersebut. Netizen mengkhawatirkan masalah pertanggungjawaban moral dan hukum jika robot tersebut menyampaikan tafsir agama yang keliru di kemudian hari.
Cara Mudah Mengenali Sosok Buatan AI
Pemerhati budaya dan komunikasi digital, Firman Kurniawan, menegaskan bahwa kreator akun tersebut memang memanfaatkan teknologi AI canggih. Firman membagikan tips sederhana bagi masyarakat untuk membedakan antara manusia asli dan visual buatan komputer dalam format video.
Menurutnya, manusia memiliki dinamika bicara yang alami, seperti jeda sejenak untuk berpikir atau intonasi yang naik-turun secara emosional. Sebaliknya, sosok AI menampilkan intonasi suara yang terlalu teratur, tempo yang sangat konsisten, dan susunan kalimat yang terlalu sempurna tanpa cacat retorika. Keteraturan yang berlebihan ini menjadi bukti kuat adanya proses fabrikasi digital.
Mengapa Konten AI Tumbuh Subur?
Firman menjelaskan tiga faktor utama yang mendorong ledakan konten berbasis kecerdasan buatan saat ini:
-
Akses Teknologi Semakin Murah: Banyak developer menyediakan platform AI secara gratis atau dengan biaya yang sangat terjangkau bagi publik.
-
Kemudahan Penggunaan: Masyarakat umum bisa memproduksi video berkualitas tinggi hanya dengan modal melihat tutorial singkat di YouTube tanpa perlu keahlian pemrograman.
-
Kualitas Visual yang Memukau: Hasil akhir rekayasa AI kini menyamai atau bahkan melampaui standar visual manusia, sehingga batas antara realitas dan artifisial menjadi sangat samar.
Tantangan Etika dan Akuntabilitas Digital
Pengamat digital kawakan, Alfons Tanujaya, menambahkan bahwa tren ini sudah merambah ke berbagai industri lain, termasuk dunia modeling digital. Bahkan, tidak jarang kreator virtual memiliki jumlah pengikut yang jauh lebih besar daripada figur publik asli.
Alfons mengingatkan ancaman serius yang mengintai di balik popularitas ini, terutama menyangkut anonimitas pengelola akun. Jika pengembang menyembunyikan identitas asli mereka, pihak berwenang akan kesulitan melacak pertanggungjawaban hukum apabila akun tersebut menyebarkan konten negatif atau menyesatkan masyarakat. (Tim)






