Trump Tegaskan AS Bisa Amankan Selat Hormuz Tanpa Sekutu

Trump menegaskan militer AS sanggup menjaga Selat Hormuz tanpa bantuan sekutu, di tengah ketegangan dengan Iran.

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump. (Foto: REUTERS/Yves Herman)

Presiden AS Donald Trump. (Foto: REUTERS/Yves Herman)

Britainaja – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan AS mampu menjaga jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz tanpa bantuan sekutu. Pernyataan ini disampaikan saat ia menerima Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, di Gedung Putih, Selasa (17/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

“Kita tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan, dan kita tidak membutuhkan bantuan apa pun,” ujar Trump, menekankan kemandirian militer AS dalam menjaga jalur energi global tetap terbuka.

Sikap ini berbeda dari pernyataannya sebelumnya yang menyerukan pembentukan koalisi internasional. Meski beberapa negara menyatakan respons positif, Trump tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang akan bergabung. Pergeseran ini menimbulkan spekulasi soal konsistensi strategi AS di kawasan Teluk.

Baca Juga :  Iga Swiatek Ukir Rekor 60 Kemenangan Usai Menang di Wuhan

Sekutu Eropa Menolak Keterlibatan

Beberapa sekutu utama menolak atau menunda dukungan. Presiden Emmanuel Macron menegaskan Prancis tidak akan terlibat karena bukan pihak dalam konflik. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer juga belum menunjukkan komitmen penuh. Negara lain seperti Jerman, Italia, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Polandia masih meninjau keputusan mereka.

Trump juga mengkritik aliansi NATO, menilai organisasi ini gagal menunjukkan solidaritas terhadap AS. Ia menyebut situasi Selat Hormuz sebagai “ujian besar” bagi NATO.

Selat Hormuz dan Risiko Global

Selat Hormuz menghubungkan Iran dan Semenanjung Arab, menjadi jalur 20–30% perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi internasional.

Baca Juga :  Bangkok Dinobatkan Kota Terbaik Dunia untuk Gen Z 2025

Trump menyebut beberapa negara Teluk dan Israel mendukung upaya AS, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain. Namun, belum ada konfirmasi resmi soal partisipasi mereka dalam koalisi maritim.

Para pengamat menilai ketegangan ini bisa berdampak jangka panjang terhadap pasar energi global dan arsitektur keamanan internasional. Trump memperkirakan Iran membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk memulihkan kekuatan militernya setelah konflik. (Tim)

Berita Terkait

Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun
Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos
5 Orang Terkaya di Industri Media dan Hiburan
Kazakhstan & Azerbaijan Bersatu: TourAN Siap Manjakan Wisatawan Dunia
Beasiswa S1 Jepang MEXT 2027: Kuliah Gratis & Uang Saku Rp12 Juta
Polisi Seoul Ajukan Surat Penangkapan Bos HYBE Bang Si-hyuk
Era Baru Apple: John Ternus Siap Lanjutkan Tongkat Estafet Tim Cook
Israel Siapkan ‘Pride Land’, Festival LGBTQ+ Terbesar di Kawasan Laut Mati
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:00 WIB

Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:00 WIB

Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:00 WIB

5 Orang Terkaya di Industri Media dan Hiburan

Jumat, 1 Mei 2026 - 21:00 WIB

Kazakhstan & Azerbaijan Bersatu: TourAN Siap Manjakan Wisatawan Dunia

Rabu, 29 April 2026 - 21:00 WIB

Beasiswa S1 Jepang MEXT 2027: Kuliah Gratis & Uang Saku Rp12 Juta

Berita Terbaru

Kerinci

Hesti Haris Ajak Warga Kerinci Didik Anak Lewat Sholawat

Selasa, 23 Jun 2026 - 16:00 WIB