Britainaja, Sungai Penuh – Hari Guru Nasional (HGN) dan perayaan HUT ke-80 PGRI di SMA Negeri 1 Sungai Penuh tahun 2025 di selimuti suasana duka mendalam. Jika biasanya perayaan di warnai tawa riang dan ucapan selamat, kali ini langit mendung seolah mewakili rasa kehilangan besar yang di rasakan seluruh warga sekolah.
SMA 1 Sungai Penuh tengah berduka atas kepergian dua guru terbaik mereka, Ibuk Dorlan Tamba dan Bapak Dodi Irawan. Keduanya meninggal dunia dalam rentang waktu kurang dari satu tahun, meninggalkan kesedihan dan ruang kosong yang sulit terisi.
Sejak pagi, barisan siswa terlihat rapi, namun langkah mereka terasa berat dan lambat. Aura kesedihan terpancar jelas di wajah-wajah muda tersebut, yang merindukan sosok guru yang selama ini membimbing mereka.
Saat iring-iringan memasuki lapangan upacara, tidak ada sorakan atau tepuk tangan yang meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanyalah keheningan yang di selingi helaan napas dan isakan tangis tertahan. Dua siswa berada di depan, membawa bingkai foto almarhum Ibuk Dorlan Tamba dan Bapak Dodi Irawan, sementara seorang siswa lain memegang erat karangan bunga.
Momen paling mengharukan terjadi saat karangan bunga di serahkan kepada Kepala Sekolah, Bapak Marwazy. Ia tak kuasa menahan air mata yang mengalir di balik kacamatanya.
Bapak Marwazy memeluk erat siswa yang menyerahkan bunga, mencoba menguatkan, meskipun bahunya sendiri terlihat bergetar hebat. Tangis haru para guru lain pun pecah, larut dalam kesedihan kolektif. Peringatan hari besar ini berubah fungsi, dari perayaan kegembiraan menjadi ruang terbuka untuk mengenang dan menghormati jasa para pendidik yang telah tiada.
Rasa kehilangan ini tidak hanya di rasakan oleh para guru sejawat. Bagi siswa SMA 1 Sungai Penuh, kedua almarhum adalah panutan sejati. Mereka di kenang karena disiplin, kebaikan hati, dan ketulusan dalam mengajar.
“Kami sungguh kehilangan dua guru terbaik kami. Mereka adalah teladan sejati, disiplin, tulus, dan total mengabdi untuk sekolah ini. Doa terbaik kami selalu untuk mereka,” ujar Marwazy, dengan suara yang terdengar pecah akibat menahan kepedihan.
Ibuk Dorlan Tamba di kenal sebagai sosok yang tegas namun lembut, sangat disiplin, dan selalu memastikan proses belajar mengajar berjalan optimal. Ia di kenal datang paling awal dan pulang paling akhir, menunjukkan dedikasi yang tak setengah-setengah. Sementara itu, Bapak Dodi Irawan di kenal karena ketulusan hatinya yang tak tergantikan. Banyak siswa menyebutnya sebagai guru yang selalu siap membantu tanpa pernah mengeluh, bekerja dalam senyap, dan pengorbanannya sering baru di sadari setelah ia pergi.
Kepergian kedua pendidik ini meninggalkan jejak yang tak terukir di piagam, melainkan tertanam kuat di hati para siswa dan rekan sejawat yang pernah mereka sentuh. Banyak guru muda mengaku banyak belajar dari mereka tentang etika, disiplin, dan keikhlasan.
Upacara Hari Guru tahun ini di SMA 1 Sungai Penuh menjadi pengingat kolektif. Mereka tidak hanya merayakan profesi guru, tetapi juga memaknai arti penting seorang pendidik dalam kehidupan. Nama Dorlan Tamba dan Dodi Irawan akan abadi di hati sekolah, di kenang sebagai dua cahaya yang cahayanya tidak akan pernah padam oleh waktu. (*)









