BANGKO, Britainaja – Acara jamuan makan malam (gala dinner) penyambutan Tim Evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp) di Rumah Dinas Bupati Merangin, berlangsung penuh keakraban dan kehangatan, pada Senin (10/8) malam.
Salah seorang evaluator UGGp yang berasal dari Korea Selatan, Prof. Dr. Yongmun Jeon, mengaku sangat terkesan dengan keramahan dari masyarakat Merangin.
Karena sebelum dilaksanakan acara penyambutan resmi di mulai, dirinya menyempatkan diri untuk menyusuri kawasan Kota Bangko secara langsung.
“Sebelum makan malam, saya sempat berjalan-jalan di pusat kota. Semua warga lokal tersenyum dan menyapa saya. Warga memberikan kesan yang sangat manis,” ujar Mr. Jeon Yongmun melalui penerjemah dari Balai Bahasa Provinsi Jambi, Lukman.
Kesan positif tersebut menjadi pijakan awal yang indah bagi proses revalidasi. Di hadapan Bupati Merangin M. Syukur dan para pemangku kepentingan, Mr. Jeon menegaskan komitmen tim evaluator untuk mendampingi dan berkolaborasi, bukan bertindak kaku seperti inspektur yang mencari-cari kesalahan.
“Kami hadir di sini bukan sebagai inspektur, melainkan sebagai teman. Kami datang untuk berkolaborasi, bukan sekadar memeriksa,” tegasnya.
Mr. Jeon menambahkan bahwa status Geopark bukan melulu soal penilaian warna kartu rekomendasi UNESCO. Lebih dari itu, Geopark menjadi wadah belajar dan pembenahan bersama demi meningkatkan mutu warisan dunia.
“Mulai besok kita akan turun ke lapangan bersama, berdiskusi, dan mencari solusi terbaik untuk mengembangkan Geopark Merangin. Kami siap menjadi motivator agar potensi daerah ini berkembang lebih maksimal,” tambah Mr. Jeon.
Sementara itu, Bupati Merangin M. Syukur menyambut hangat komitmen pendampingan tersebut. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Merangin bersama masyarakat untuk menjaga tiga pilar utama Geopark: keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity).
“Geopark Merangin bukan sekadar warisan batu atau status internasional semata, melainkan sarana pemberdayaan ekonomi lokal dan UMKM yang berkelanjutan,” ujar Bupati M. Syukur.
Ia juga memaparkan keberhasilan pengelolaan Geopark Merangin dalam tiga tahun terakhir. Merangin berhasil meraih penghargaan Best Practice UGGp pada 2023, penghargaan dari Kementerian ESDM RI pada 2025, serta mencetak lonjakan angka kunjungan wisatawan hingga lebih dari 200 persen.
Diplomasi Budaya, Wastra, dan Kuliner Tradisional
Dalam kesempatan tersebut, Bupati M. Syukur memperkenalkan kekayaan potensi daerah melalui diplomasi budaya, wastra (kain tradisional), dan kuliner khas Merangin.
Nuansa lokal terpancar anggun saat Bupati M. Syukur bersama istri tampil serasi mengenakan Batik Geopark Merangin motif Stalaktit Goa Tiangko.
Sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan, Bupati menyerahkan cinderamata berupa syal Batik Geopark bermotif fosil kerang berwarna kombinasi biru-putih kepada dua evaluator UNESCO: Mr. Nicolas Klee dari Monts D’Ardèche UGGp (Prancis) dan Prof. Dr. Yongmun Jeon dari Jeju Island UGGp (Korea Selatan).
Seluruh kerajinan batik dalam acara ini merupakan karya perajin lokal dari Rumah Batik Sri Rajo yang berlokasi di lingkungan Sungai Mas, Pasar Atas Bangko.
“Batik motif fosil kerang dan stalaktit ini bukan sekadar kain, melainkan potongan jejak geologi Merangin yang wajib kita jaga kelestariannya. Kami ingin tim evaluator tidak hanya melihat warisan bumi di lapangan, tetapi juga merasakan kebanggaan masyarakat yang tertuang dalam karya kerajinan,” jelas Bupati M. Syukur.
Tak hanya mengagumi kain tradisional, para utusan UNESCO juga menikmati petualangan rasa melalui hidangan khas Merangin. Panitia menyuguhkan menu utama Tempoyak Buluh dan Gulai Pakis Tekuyung, serta kudapan tradisional Gelamai Perentak dan Penyaram sebagai pencuci mulut.
Bupati M. Syukur menjelaskan bahwa sajian tersebut memiliki ikatan batin yang kuat dengan kearifan lokal masyarakat di sekitar kawasan geopark.
“Tempoyak Buluh dan Gulai Pakis Tekuyung merupakan warisan resep turun-temurun. Melalui sajian ini, kami ingin menunjukkan bahwa kelestarian alam Merangin berjalan seiring dengan budaya dan kuliner tradisional yang terus hidup di tengah warga,” pungkasnya.
Acara penuh kehangatan ini ditutup dengan jamuan makan malam bersama dan untaian pantun dari Bupati Merangin, yang mempertegas tekad daerah dalam mempertahankan status warisan dunia UGGp bagi Bumi Tali Undang Tambang Teliti. (Tim)






