Britainaja – Dunia teknologi tidak akan pernah sama sejak seorang pemuda bernama Mark Elliot Zuckerberg meluncurkan situs sederhana dari kamar asramanya di Universitas Harvard. Lahir pada 14 Mei 1984 di White Plains, New York, Zuckerberg tumbuh sebagai sosok jenius yang mencintai pemrograman sejak usia dini. Siapa sangka, berawal dari ide menghubungkan teman-teman satu kampus, ia justru menciptakan Facebook, sebuah kekuatan global yang mengubah cara manusia berinteraksi selamanya.
Zuckerberg di besarkan dalam keluarga yang menghargai pendidikan; ayahnya adalah seorang dokter gigi dan ibunya seorang psikiater. Ketertarikannya pada dunia digital mulai terlihat ketika ia menciptakan “ZuckNet”, sistem pesan instan sederhana untuk praktik kedokteran gigi ayahnya. Potensinya semakin terasah saat ia bersekolah di Phillips Exeter Academy, di mana ia membangun perangkat lunak musik yang sempat di lirik oleh raksasa teknologi seperti Microsoft.
Revolusi Bermula di Cambridge
Lompatan besar terjadi pada Februari 2004. Bersama rekan-rekan asramanya, Zuckerberg merilis “TheFacebook”. Proyek ini sempat memicu kontroversi di lingkungan kampus, namun popularitasnya meledak hanya dalam hitungan minggu. Keputusan berani pun di ambil; Zuckerberg memilih untuk berhenti kuliah dari Harvard dan pindah ke Palo Alto, California, demi fokus membangun perusahaan yang kini kita kenal sebagai Meta.
Perjalanan membangun Facebook tidaklah selalu mulus. Zuckerberg menghadapi berbagai tuntutan hukum terkait kepemilikan ide hingga isu privasi data yang pelik. Namun, visinya yang tajam dalam mengakuisisi kompetitor potensial, seperti Instagram pada 2012 dan WhatsApp pada 2014, membuat dominasinya di jagat digital hampir mustahil untuk digoyahkan. Ia berhasil mengubah sebuah startup kecil menjadi ekosistem raksasa yang menampung miliaran pengguna.
Masa Depan dan Transformasi Menjadi Meta
Zuckerberg kini tidak lagi hanya berbicara tentang media sosial. Pada tahun 2021, ia melakukan perubahan identitas perusahaan secara besar-besaran menjadi Meta Platforms, Inc. Visi barunya adalah “Metaverse”, sebuah ruang virtual masa depan di mana manusia bisa bekerja, bermain, dan bersosialisasi melalui teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Meskipun langkah ini penuh risiko dan biaya tinggi, Zuckerberg tetap yakin bahwa ini adalah evolusi berikutnya dari internet.
Di luar urusan bisnis, ia dan istrinya, Priscilla Chan, di kenal sebagai filantropis melalui Chan Zuckerberg Initiative. Mereka berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka untuk memajukan potensi manusia serta mempromosikan kesetaraan di bidang kesehatan dan pendidikan. Bagi Zuckerberg, teknologi bukan hanya soal kode dan algoritma, melainkan tentang bagaimana menghubungkan setiap orang di seluruh dunia.
Sisi Lain Kepemimpinan Zuckerberg
Gaya kepemimpinan Mark Zuckerberg sering kali menjadi bahan diskusi para pakar manajemen. Ia di kenal dengan prinsip “Move fast and break things” yang agresif. Strategi ini terbukti efektif dalam memenangkan pasar, namun di sisi lain sering kali menempatkan perusahaan dalam sorotan tajam regulator dunia terkait keamanan data pengguna.
Bagi Anda yang sedang merintis bisnis digital, pelajaran berharga dari sosok Zuckerberg adalah keberanian untuk melakukan disrupsi terhadap diri sendiri. Ia tidak ragu mengubah fokus perusahaannya ketika melihat tren masa depan, meskipun hal itu berarti harus menutup beberapa proyek atau studio lama yang sudah mapan. Ketangguhan mental dalam menghadapi kritik publik adalah kunci mengapa ia tetap bertahan di jajaran orang terkaya dunia selama lebih dari satu dekade. (Tim)















