Britainaja – Ketegangan antara Donald Trump dan Iran terus meningkat tajam. Amerika Serikat memberi ultimatum 48 jam agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Trump menegaskan akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tuntutan itu tidak dipenuhi. Ia menyampaikan ancaman tersebut secara langsung melalui platform Truth Social.
Sebagai respons, Iran memperingatkan akan menyerang infrastruktur penting milik AS di Timur Tengah jika serangan benar-benar terjadi. Situasi ini membuat kawasan semakin panas dan berisiko meluas.
Konflik makin memanas setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah selatan Israel, termasuk Dimona dan Arad. Serangan tersebut menyebabkan puluhan orang terluka dan kerusakan signifikan di sejumlah bangunan.
Israel langsung membalas dengan serangan ke Teheran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan terus menyerang untuk melindungi keamanan nasional.
Di sisi lain, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak global kini berada dalam tekanan. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas 105 dolar per barel.
Sejumlah negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, mengecam tindakan Iran yang di anggap mengganggu jalur perdagangan internasional. Mereka mendesak pembukaan kembali selat tersebut demi stabilitas global.
Analis menilai Iran masih memiliki kemampuan militer yang kuat meski menghadapi tekanan besar. Hal ini terlihat dari serangan rudal yang mampu menembus pertahanan Israel.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga memicu kekhawatiran krisis ekonomi global akibat lonjakan harga energi. (Tim)















