Britainaja – Kreator konten Indonesia, Nessie Judge, menuai sorotan internasional setelah salah satu video bertema horor dalam rangkaian “Spooktober” di nilai menampilkan foto korban kekerasan asal Jepang secara tidak tepat. Kondisi ini memicu reaksi keras dari warganet Jepang yang menganggap penggunaan gambar tersebut tidak sensitif.
Nessie Judge di kenal sebagai pembuat konten misteri dan true crime yang telah memiliki basis penonton besar di Indonesia. Setiap bulan Oktober, ia rutin mengunggah seri “Spooktober” yang berisi cerita-cerita kriminal, misteri, dan kisah seram. Namun, tahun ini salah satu video dalam rangkaian tersebut justru menjadi sumber polemik.
Kontroversi bermula ketika penonton internasional menemukan bahwa dalam salah satu dekorasi video, terdapat foto yang diduga merupakan potret seorang korban kekerasan yang kasusnya pernah mengguncang publik Jepang beberapa tahun lalu. Foto tersebut di pajang dalam bentuk figura di latar belakang video.
Pada awalnya, sebagian besar penonton Indonesia tidak menyadari konteks foto tersebut. Namun, situasi berubah setelah Nessie menjalankan kolaborasi konten dengan boyband asal Korea Selatan, NCT Dream. Kolaborasi itu membuat kanal YouTube Nessie mendapat lebih banyak perhatian dari penonton global, termasuk dari Jepang.
Setelah video tersebut menjangkau audiens yang lebih luas, sejumlah pengguna media sosial Jepang menyatakan keberatan. Mereka menganggap penggunaan foto korban dalam video hiburan, meskipun bertema misteri, tidak menghormati pihak keluarga serta publik Jepang yang masih menyimpan trauma atas kasus tersebut.
Diskusi mengenai hal ini kemudian menyebar dengan cepat di platform X (sebelumnya Twitter). Sejumlah unggahan yang menyampaikan kritik terhadap konten Nessie menjadi viral dan memperoleh perhatian besar, menunjukkan intensitas reaksi warganet Jepang terhadap kasus ini.
Sebagai respons, Nessie Judge mengambil langkah cepat dengan menghapus seluruh video Spooktober yang sudah diunggah sepanjang bulan Oktober. Tindakan ini di pandang sebagai bentuk upaya meredam polemik sekaligus menunjukkan tanggung jawab moral sebagai kreator.
Di tengah kontroversi, muncul dua pandangan di kalangan warganet Indonesia. Sebagian menilai kesalahan yang terjadi kemungkinan tidak di sengaja, mengingat banyak materi kasus luar negeri yang sulit dilacak riwayat dan sensitivitasnya. Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa kejadian ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi kreator konten untuk lebih berhati-hati dalam memilih visual, terutama yang berkaitan dengan korban kekerasan atau tragedi yang masih memiliki muatan emosional.
Konten true crime memang kerap berada di wilayah sensitif. Di era digital dengan distribusi lintas negara, aspek etika dan pemahaman budaya menjadi semakin penting. Materi yang di anggap umum di satu negara bisa menjadi isu besar di negara lain, terutama jika menyangkut korban nyata.
Peristiwa ini sekaligus mengingatkan bahwa pembuatan konten berbasis kasus kriminal tidak hanya soal penyampaian cerita, tetapi juga penghormatan terhadap korban, keluarga, serta audiens global yang terlibat secara emosional dalam peristiwa tersebut.
Kasus yang menimpa Nessie Judge menunjukkan bagaimana konten internet dapat menjangkau audiens lintas batas budaya. Meski sudah ada langkah klarifikasi dan penghapusan video, peristiwa ini menjadi momentum refleksi bagi kreator untuk lebih teliti dan peka dalam memilih materi, terutama yang menyangkut kejadian nyata dan korban kekerasan. (Tim)















