Britainaja, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka menguat pada perdagangan Jumat (31/10/2025). Namun, para analis mengingatkan bahwa penguatan ini masih berpotensi terbatas, mengingat tekanan global dan sikap hawkish The Federal Reserve yang masih membayangi pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 0,27 persen ke posisi 8.202,52. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/10/2025), indeks juga sempat menguat 0,22 persen disertai aksi beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp946 miliar.
Saham-saham yang menjadi incaran investor asing antara lain BMRI, BBCA, GOTO, MDKA, dan JPFA. Menurut Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, peluang IHSG untuk menembus level 8.180 masih terbuka, namun jika gagal, indeks berisiko mengalami koreksi.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan, tetapi jika tidak mampu menembus level 8.180, koreksi bisa kembali terjadi,” ujar Fanny, Jumat (31/10/2025).
Ia menambahkan, arah pergerakan pasar masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama dari kebijakan The Fed dan perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Perdagangan saham global pada Kamis (30/10) menunjukkan tren negatif. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,23 persen, S&P 500 melemah 0,99 persen, dan Nasdaq Composite anjlok hingga 1,57 persen.
Koreksi tersebut dipicu oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga lanjutan belum menjadi keputusan pasti. Sikap hawkish ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa kebijakan moneter ketat akan berlanjut hingga akhir tahun.
Fanny menilai, sentimen dari The Fed masih menjadi faktor dominan yang menahan laju pasar. “Pernyataan Powell cukup menekan psikologis investor, terutama di pasar negara berkembang,” ujarnya.
Indeks saham di kawasan Asia-Pasifik juga memperlihatkan pergerakan yang tidak seragam. Sebagian besar bursa mencatat penurunan, mengikuti jejak pelemahan di Wall Street. Investor kini menanti hasil pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping, yang diharapkan mampu meredakan ketegangan perdagangan antara dua negara ekonomi terbesar dunia itu.
Menurut Fanny, pertemuan tersebut menjadi sentimen penting yang berpotensi mengubah arah pasar. Jika hasilnya positif, maka tekanan terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia, bisa berkurang.
“Kabar baik dari pertemuan Trump dan Xi bisa menjadi katalis penguatan bagi IHSG dalam jangka pendek,” jelasnya.
Dengan berbagai faktor global tersebut, analis memperkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif dalam kisaran 8.150–8.230. Aksi ambil untung (profit taking) diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan menjelang akhir pekan.
Investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham, terutama pada sektor perbankan dan komoditas yang berpotensi tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
Meski dibuka menguat, pergerakan IHSG pada akhir pekan ini masih dibayangi risiko koreksi akibat tekanan eksternal. Pasar akan menanti sinyal baru dari The Fed serta perkembangan hubungan dagang AS–Tiongkok yang menjadi penentu arah pergerakan indeks pada pekan mendatang. (Tim)















